Sabtu, 13 Juni 2009

Muslimah: Ujung Pakaianku, Penyapu Jalanan??

Rating:★★★
Category:Other
Apa yang spontan terpikir di benak kita ketika melihat seorang muslimah yang memakai jilbab besar dan cadar, ditambah lagi pakaian yang lebar dan panjangnya sampai menyentuh tanah?? Oke, kita tak sedang membahas mengenai hukum jilbab dan cadar. Insya Allah masalah ini dapat ukhty temukan pembahasannya pada tulisan lain. Tapi kita tengah berbicara tentang panjang pakaian sang muslimah yang sampai menyentuh tanah.

“Mbak, mau nyapu jalan ya? Itu lho gamisnya kepanjangan, sampai ke tanah.”

“Sudah lebar, panjang pula. Apa ga kotor? Kalau kena najis di jalan gimana? Ga sah donk kalau pakaiannya dipakai sholat.”

“Iiiih… Jadi muslimah kok jorok sih? mbo’ panjangnya yang biasa aja. Ga usah berlebihan. Biar ga kotor…”

Ukhty, sering mendengar komentar semacam ini bukan?

Namun di sisi lain, kita temukan pula para wanita yang masih meremehkan masalah menutup aurat. Kaki, bagian tubuh wanita yang seharusnya ditutup justru digembor-gemborkan agar dijadikan salah satu daya pikat kecantikan wanita. Semakin pendek pakaian, semakin menarik, begitu anggapan mereka. Bahkan rok pendek dan rok mini menjadi bagian dari fashion model baju wanita. Wal iyaudzubillah.

Lalu, sepanjang apakah seharusnya pakaian wanita menurut syariat??

Anjuran Bagi Wanita untuk Memanjangkan Kain Pakaiannya

Ya Ukhty fillah, telah engkau ketahui bahwa wajib hukumnya bagi wanita untuk menutup auratnya. Dan termasuk bagian dari aurat yang harus engkau tutup adalah kakimu.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai bagian bawah pakaian, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Rasulullah, “Lalu bagaimana dengan pakaian seorang wanita wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia mengulurkannya satu jengkal,” Ummu Salamah berkata, ‘Jika demikian masih tersingkap ” Satu hasta saja dan jangan lebih dari itu,” jawab beliau. (HR. At Tirmidzi. Hadits hasan shahih)

Dari hadits di atas dapat ditarik dua kesimpulan, yaitu:

Pertama, bahwa seorang wanita wajib menutup kedua telapak kakinya dengan pakaiannya.

Kedua, boleh hukumnya memanjangkan pakaian bagi seorang wanita dengan ukuran sebagaimana telah dijelaskan hadits di atas.

Dari mana diukurnya satu jengkal di mana seorang wanita memanjangkan pakaiannya?

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama satu jengkal itu diukur dari mana. Akan tetapi, pendapat yang kuat -insya Allah- satu jengkal adalah diukur dari mata kaki. Karena inilah Ummu Salamah berkata, “Jika demikian, kedua kakinya masih tersingkap,” lalu Rasulullah memberikan keringanan dengan satu hasta.

Para ulama telah bersepakat bolehnya seorang wanita memanjangkan pakaiannya di bawah mata kaki. Hal ini berbeda dengan kaum laki-laki di mana mereka mendapat ancaman keras bila memanjangkan pakaiannya di bawah mata kaki.

Sebagaimana kaum laki-laki, kaum wanita pun dilarang isbal. Akan tetapi ukuran isbal pakaian wanita berbeda dengan kaum laki-laki. Isbal-nya pakaian laki-laki adalah di bawah mata kaki. Sedangkan isbal-nya pakaian wanita adalah bila melebihi satu hasta atau dua jengkal. Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits bahwa Rasulullah membatasi panjang pakaian wanita hanya boleh ditambah satu hasta atau dua jengkal, tidak boleh lebih.

Saat ini banyak kita dapati model pakaian wanita ala Barat, misalnya saja pakaian pengantin. Bagian atas ketat dan membuka aurat, tapi anehnya bagian bawahnya justru sampai bermeter-meter panjangnya!! Betapa banyak kesalahan yang terdapat dalam model pakaian semacam ini. Pertama, Tidak menutup aurat. Kedua, Isbal. Ketiga, merupakan pemborosan dan perbuatan yang sia-sia. Keempat, menyerupai (tasyabuh) orang kafir.

Cara Membersihkan Ujung Pakaian Wanita

Jika kini pada dirimu timbul pertanyaan, “Lalu bagaimana membersihkan ujung pakaian wanita? Bukankah dengan ukurannya yang panjang menjadikan pakaian tersebut besar kemungkinannya terkena najis di jalan?”

Ukhty, Islam adalah agama yang mudah. Jika kita merasa sulit untuk melaksanakan suatu perkara yang diperintahkan syariat, baik dalam perkara wajib atau sunnah, katakanlah pada diri sendiri bahwa kita sendirilah yang belum benar-benar mengetahui dan paham hukum-hukum yang berkaitan dengan perkara tersebut.

Berkaitan mengenai cara membersihkan ujung pakaian wanita, maka simaklah hadiah nabawiyah berikut ini.

Dari seorang ibu putra Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang biasa memanjangkan (ukuran) pakaianku dan (kadang-kadang) aku berjalan di tempat kotor?’ maka Jawab Ummu Salamah, bahwa Nabi pernah bersabda, “Tanah selanjutnya menjadi pembersihnya.” (HR. Ibnu Majah, Imam Malik dan Tirmidzi. Hadits shahih)

Namun, ada hal yang harus ukhty perhatikan dan pahami. Bahwa ketentuan yang disebutkan hadits di atas hanya berlaku untuk najis yang kering. Ketentuan ini tidak berlaku jika najisnya adalah najis yang basah atau cair.

Imam Malik berkata, “Sesungguhnya sebagian tanah membersihkan sebagian yang lain. Hal ini berlaku apabila kita menginjak tanah yang kotor, kemudian setelah itu menginjak tanah bersih dan kering, maka tanah yang bersih dan kering inilah yang akan menjadi pembersihnya. Adapun najis seperti air kencing dan semisalnya yang mengenai pakaian/ jasad maka harus dibersihkan dengan air.” Al Khathabi berkata. “Dan ummat sepakat dalam hal ini.”

Lebih jauh, Imam Syafi’i menjelaskan, bahwa ketentuan berlaku apabila najis yang diinjak adalah najis yang kering sehingga tidak ada najis yang melekat padanya. Maksudnya, najis tidak terlihat jelas secara fisik melekat pada pakaian (tanah telah menyucikannya). Apabila najis yang diinjak adalah najis yang basah, maka harus tetap dibersihkan dengan air hingga bersih.

Lalu, bagian mana yang harus dibersihkan. Apakah hanya pada bagian yang terkena najis saja ataukah seluruh pakaian?

Ukhty, pada asalnya yang wajib dibersihkan adalah hanya pada bagian yang terkena najis. Tidak harus dicuci semua.

Sebagian orang beranggapan bahwa bila suatu bagian pakaian terkena najis maka seluruh pakaian harus dibersihkan. Ini adalah anggapan yang tidak benar. Cukup bagian yang terkena najis saja. Jika sudah secara maksimal dibersihkan tetapi masih tetap tersisa, maka insya Allah tidak mengapa.

Semoga dengan penjelasan di atas kini para muslimah dapat mengetahui dan mengamalkan beberapa hukum berkaitan pakaian wanita. Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan pada kita mengenai najis, barang yang terkena najis dan bagaimana cara membersihkannya. Oleh karena itu, hendaklah para muslimah benar-benar mengilmui masalah ini. Tidak hanya sebatas masalah pakaian, tetapi jagalah juga diri dan lingkungan sekitar dari barang najis maupun barang-barang kotor yang bukan najis.

Jangan sampai muncul anggapan bahwa wanita muslimah adalah sosok yang tidak mengerti dan tidak peduli masalah kebersihan. Bukankah wanita juga yang mengurus sandang-papan bagi suami dan anak-anaknya. Jika kita sendiri tak mengerti, lalu bagaimana keadaan keluarga dan rumah kita nantinya?

Ukhty, mari kita niatkan setiap amal kita untuk mencari wajah Allah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya. Bukan sekedar karena berprinsip “saya suka kebersihan.” Tapi mari cintai dan wujudkan keindahan dan kebersihan karena mengharap ridha Allah.

Penulis: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ustadz Nur Kholis Kurdian, Lc dan Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar

artikel ini dapat dilihat di http://muslimah.or.id/fiqh-muslimah/ujung-pakaianku-penyapu-jalanan.html

Jumat, 12 Juni 2009

Udah rame lagi.. Senangnya..

Entahlah,beberapa hari ini tidak ada inspirasi sama sekali untuk menulis.. Kangen sebenernya,tapi benar2 tidak ada yg bisa diungkapkan..
(_ _)!

Jadi hanya jalan2,nonton2 dari luar saja..
Tapi senangnya diriku,saat melihat di inbox, postingan2 mulai banyak menuai komen (menuai???)
Tidak seperti beberapa waktu yg lalu...Sepiiii sekali..

Multiply mulai rame lagi ya?
Senangnya...
Orang-orang sepertinya mulai berdatangan lagi.

*saatinsprisasitidakkunjungdatang

Rabu, 10 Juni 2009

Ganti Tema

Sabenarnya ini pekerjaan yang paling malas buat kukerjakan..Ganti tema MP
Kenapa?
Soalnya,setiap kali memutuskan untuk ganti tema, pasti susah banget sregnya, nggak suka, nggak cocok, nggak puas, dan laaain sebagainya.
Akhirnya, dalam proses ganti tema itu berjalan panjaaaang dan laaama
Coba ini, coba itu, coba semuanya..

Tema yang terakhir kali kemarin sebenernya sudah cocok,,
tapi setelah sekian lama...kok bosen ya??
Pengen ganti suasana..

Dan akhirnya, beberapa waktu ini kucoba dekor kembali rumah ini
Jadi, kalo ada yang kebetulan mampir beberapa waktu belakangan ini, mungkin merasa heran. Pagi, siang, sore, malam, suasananya ganti terus..
Maklum, masih dalam proses pencarian...

Sekarang masih terus nyari nih..
Ayo mulai lagi...
SEMANGATT!!

Selasa, 09 Juni 2009

Ikut-ikutan ya?

Setelah beberapa hari hanya baca-baca MP orang, males komen dan juga males ngepost, akhirnya hari ini Andiah kembaliii!!!! (berasa terkenal...)

Dan, begitu masuk ke Inbox, isinya adalah postingan tentang tampilan baru Multiply. Yah, akhirnya kebagian juga dapet Multiply 4.0. Sebenernya juga udah tau format baru MP, tapi waktu itu belum kebagian jatahnya di rumah tercinta ini.

Dan, setelah akhirnya saya kebagian juga,,,

mmm....

kok bingung ya??

nggak familiar...

gaptek...



perlu penyesuaian lagi nih

Mohon bantuannya ya teman-teman..

Selasa, 02 Juni 2009

Sampai sekarang pun aku belum bisa..

Belum bisa..
Berguna bagi kedua orang tuaku
belum bisa membahagiakan mereka..
Hanya bisa minta ini, minta itu
Merepotkan!
Uh,i hate my self!

:(

Senin, 01 Juni 2009

Kau dan Dandelion

Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul lima lebih lima menit. Gelisah mulai menghampiri. Langit gelap. Mendung bergelayut. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan lebat. Ah, penghujung Mei masih juga turun hujan.

Berkali-kali kutengok gerbang depan fakultas, tapi dia yang ditunggu belum juga nampak batang hidungnya. Berkali-kali pula dari tadi orang-orang menyapaku,

“Belum pulang An? Bareng yuk?”

“Hey! Ngapain masih di sini. Sebentar lagi hujan lho…”

“Mau di sini sampai kapan An? Kuliah udah selesai dari tadi.”

Dan aku hanya tersenyum saja. Masih setia menunggumu di sini.

Pukul lima lewat lima belas. Kudengar suara motormu. Dan kau muncul di hadapanku. Senyummu menyapaku, tapi aku sudah terlanjur marah. Jadi, kubalas kau dengan wajah masamku.

“Sebel! Kenapa telat? Udah nungguin dari tadi tau!” ucapku sinis.

“Maaf..tadi ban motor Mas bocor, jadi harus ditambal dulu..” katamu dengan memelas. Tapi aku tidak akan terpengaruh. Huh! Lihat saja.

Tak lama kemudian, kita sudah melaju membelah jalan raya. Lihatlah, tiba-tiba langit tak lagi mendung. Matahari mulai memancarkan sinarnya, walau masih malu-malu sembunyi di balik awan. Kau berdendang, entah apa aku tak tau. Tapi aku suka. Kurasa, karena aku menyukaimu, makanya setiap apa yang kau kerjakan aku menyukainya.

Perjalanan menuju rumah. Kita tak saling bicara sepanjang jalan. Aku masih marah, dan kau pun tau itu. Tapi tiba-tiba sesuatu menarik perhatianku.

“Stop! Stop! Berhenti sebentar!”

Aku turun dari motor dan berlari ke tepi jalan, padang ilalang.

“ Tolong dong!” kataku sambil mengulurkan HP.

“ Hah? Apa?”

“Fotoin..di sini.”

Dan kau termangu sesaat, lalu tertawa.

“ Di sini, di sini!” aku bersemangat. Tak peduli orang-orang yang berlalu-lalang memandang kita penuh rasa ingin tahu.

“ Bagus nggak? Bagus nggak?” kataku. Dan kau mengulurkan HP itu padaku.

“ Nih! Mau difoto kayak apa juga, kalau objeknya jelek, tetep aja jelek!” katamu. Dan aku merebutnya dari tanganmu, melihat dengan antusias. Kau beranjak, sementara aku masih belum puas melihat hasil fotoku.

“ Hey, lihat sini,” katamu tiba-tiba.

“ Apa?”

“ Sini lihat..”

Aku pun ikut berjongkok di sebelahmu.

“ Ooh…bunga rumput,” kataku sambil melihat sesuatu di hadapan kita.

“ Ini namanya Dandelion..” kau memberitahuku.

“ Heh? Kayak gini namanya bagus amat?”

Kau hanya tersenyum. Angin senja itu mempermainkan rambutmu. Lalu kau memetik setangkai sesuatu yang kau sebut Dandelion tadi. Aku mengikutimu. Dan kita meniupnya. Mereka beterbangan di antara ilalang. Dan semakin tinggi seiring dengan angin senja hari yang semakin kencang bertiup.

“ Bagus ya?” katamu, “…..suatu hari Mas juga akan seperti mereka…terbang bebas..”

“ Aneh…” kataku.

“ Apanya?”

“ Kata-katamu. Sok puitis!” jawabku.

“ Sebagai manusia, boleh kan kita bercita-cita? Mas ingin seperti dandelion yang kita tiup tadi. Terbang tinggi dan terus meninggi. Mas ingin seperti itu. Semakin lama semakin tinggi. Jadi orang sukses. Jadi Mas bisa membahagiakan bapak sama ibu,” katamu panjang lebar.

“ Hmmm….”

“ Kau juga harus seperti itu An. Jangan biarkan hidupmu sia-sia. Harus punya impian masa depan.” Katamu kemudian sambil bangkit.

“ Emang kenapa kalo nggak punya impian?” aku tak mau kalah.

“ Manusia harus punya impian, agar dia bisa memperjuangkannya.” Katamu sambil berjalan kembali ke motormu.

“ Ayo cepat! Sudah mau maghrib. Nanti kita diomelin Ibu!” teriakmu dari tepi jalan. Dan aku berlari-lari kecil mengikutimu. Kupikir aku sudah tidak marah lagi.

 

Aku termangu di tepi jalan yang sama. Di tempat kau dulu mengajakku bercengkarama dengan Dandelion, si bunga rumput. Masih terngiang dengan jelas kata-katamu kala itu. Namun entah kenapa hatiku malah terasa pilu.

 

Senja itu rupanya terakhir kali aku melihatmu. Malam itu Ibu menyuruhmu keluar membeli sesuatu. Dan setelah itu kau tidak pernah benar-benar kembali.

Aku masih ingat saat tetangga depan rumah berlari-lari panik ke rumah kita. Rumah yang selalu kita ramaikan dengan canda tawa juga pertengkaran-pertengkaran kita. Dan Ibu berdiri di teras dengan Bapak. Mereka berbincang serius.

Aku tidak tahu apa. Tapi kulihat kemudian Ibu lunglai di dekapan Bapak yang nampak shock. Aku lantas keluar, tak peduli anak-anak rambut menyembul dari sela-sela kerudung yang tergesa kupakai.

Ada apa?? Beberapa orang berdatangan. Ikut ribut dan nampak prihatin. Bapak memandangku sayu.

“ Masmu….kecelakaan…”

Aku tak begitu jelas mendengarnya. Bayangan Ibu yang terkulai di dekapan Bapak terlihat samar. Suara orang-orang pun seperti menghilang. Dan setelah itu kegelapan…..

 

Aku berjongkok di tempat yang sama dulu. Di hadapanku Dandelion. Meliuk-liuk tertiup angin senja hari. Kupetik setangkai, dan kutiup dia lembut. Perlahan tapi pasti mereka terbang, tinggi. Dan katamu berulang di telingaku..

“ Manusia harus punya impian, agar dia bisa memperjuangkannya.”

Aku menikmatinya, Dandelion yang beterbangan tertiup angin. Langit mulai semburat merah.

Dan aku seperti melihat bayangmu di sana, tersenyum lembut kepadaku. Angin mempermainkan rambutmu. Seperti dulu….



 

 

Cerita yang agak maksa sebenernya, karena aku tiba-tiba ingin membuat cerpen dengan Dandelion di dalamnya ^^

Lagi suka sama bunga yang satu ini..

Iseng belaka. Maaf kalau tidak berkenan…

NB: belum nemu judul yang pas..