Sabtu, 03 April 2010

Dari "Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta" (bukan sebuah resensi)

Membaca buku ini, membuat saya berusaha keras untuk membukanya runtut, halaman demi halaman. Sering saya membuka-buka secara acak, sekedar untuk mengetahui ada apa di halaman selanjutnya, tapi lantas tertarik untuk membaca bagian yang lain itu terlebih dahulu. Namun, selalu sesudahnya, saya kembali ke halaman awal untuk menuntaskan yang sebelumnya. Saya paling tidak suka jika bacaan saya bolong-bolong, hehe..

Buku yang lengkap mengenai pernikahan dan segala pernak-perniknya, tapi terlebih dikhususkan untuk masa pernikahan itu sendiri dan kehidupan pasca nikah. Jadi, di sini tidak disinggung secara mendetail mengenai tahap-tahap sebelum pernikahan/masa taaruf.

Bahasanya ringan, menyenangkan untuk dibaca, dan banyak kata-kata indah di dalamnya (khas Salim A. Fillah)

Berikut saya kutip beberapa kalimat indah milik beliau di sini. Karena bahasannya memang tentang pernikahan, jadi harap dimaklumkan kalau apa yang saya kutip melulu tentang cinta, hehehe...



1.

Ikrar cinta kita, adalah prasasti yang terukir di atas manikam
jagalah Allah, maka Allah akan menjaganya
sampai kelak aku memohon padaNya
agar aku meletakkannya sebagai liontin di kalungmu
saat perjalanan berakhir, di surga
aku mencintaimu
Lillaah, Fillaah

-halaman muka, ucapan Salim A. Fillah untuk isteri dan jundi-jundi yang mereka rindukan


2.

Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik-nitik. Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.

-saat pembahasan mengenai makna barakah


3.

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu, aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana, tinggi menggapai surga


4.

Harapan tanpa iman
adalah kekecewaan yang menunggu waktu
Kebahagiaan tanpa barakah
bagai bayang-bayang tanpa cahaya

Orang suci,
menjaga kesuciannya dengan pernikahan
menjaga pernikahannya dengan kesucian


5.

Cinta,
ruh yang mengalir lembut, menyenangkan, bersinar, jernih, dan ceria...
Cinta,
luh yang mengalir lembut, menyesakkan, berderai, jerih, dan badai...
Tetapi dalam sebuah ikatan yang Allah halalkan,
cinta sejati akan berpesan,
"Bukanlah kita tersenyum karena kita bahagia, tetapi kita bahagia karena kita tersenyum"



Sebenarnya masih banyak yang ingin saya kutip, tapi apa daya, tidak sanggup rasanya kalau harus mengetiknya satu-satu di HP. Yang jelas, kalau ingin membaca lebih banyak lagi, sok atuh dibuka bukunya. Saya yakin sudah banyak yang punya. Kalau ada yang belum punya, pinjem ke tetangga. Ke saya juga boleh (kalau saya sudah selesai baca). Atau, kalau punya uang sisa boleh dicari di toko buku terdekat.

Sekarang, saya mau baca lagi. Happy reading! ^^

Puisi (lagi)

Bagi mereka yang mengupayakan cinta
hanya ada iklim hangat dan iklim sejuk
meski ada goda aurora dan pelangi khatulistiwa


Bagi mereka yang mengupayakan cinta
setiap musim membagi cinderamata
kristal salju, kuntum bunga, pasir pantai, serasah hangat
juga payung dan layang-layang


Bagi mereka yang mengupayakan cinta di tiap cuaca
cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat
hujan menyanyi rizqi, badai mengeratkan peluk
dan tiba-tiba, surga mengetuk pintu rumah




-Salim A. Fillah, Barakallahu laka, Bahagianya Merayakan Cinta-

Kamis, 01 April 2010

(FF lagi) Isteri Baru


Ba'da Maghrib. Suasana rumah bercat krem di pojok jalan Kesemek itu masih ramai. Halaman dan terasnya masih juga berantakan. Sisa keramaian tadi siang. Ya, penghuni rumah itu baru saja melangsungkan hajatan pernikahan putri semata wayangnya. Sederhana, tapi meriah.

Ba'da maghrib. Di ruang makan rumah bercat krem di pojok jalan Kesemek.

"Mat, ajak isteri barumu makan sini. Kasihan dia seharian nggak berhenti-berhenti nerima tamu," ibunda Rahmat, sang mempelai pria, menyuruh anaknya dengan bijak.

Rahmat mengangguk. Lalu segera menyusuri rumah mertuanya itu untuk mencari sang isteri. Dia melongok ke dapur, tidak ada. Hanya ada sekelompok orang yang ikut bantu-bantu sedang mengobrol sambil makan. Dia melongok ke ruang keluarga. Tidak ada juga. Hanya ada sekumpulan saudara dari kedua keluarga yang sedang tertawa-tawa sambil menonton TV. Dia lalu beralih ke kamar pengantin. Siapa tau isteri barunya kecapekan, lalu tidur. Tapi ternyata tidak juga. Kamar itu kosong, hanya ada tumpukan kado menggunung di salah satu sudutnya. Lalu dia menuju ke ruang tamu. Dari jendela kaca ruang tamu, dia melihat sang isteri asik mengobrol dengan salah seorang sepupu perempuannya.

Rahmat ragu-ragu. Dia belum begitu kenal dengan isterinya. Mereka hanya bertemu beberapa kali saat taaruf.

Akhirnya, dengan membulatkan tekad, Rahmat pun beranjak ke teras menemui isterinya.

"Mbak, ayo makan dulu.." katanya.

"Oh, nggak usah Mas Rahmat. Aku barusan udah makan." Yang menjawab barusan bukan isterinya, tapi saudara sepupu isterinya.

"Mmm.. Maksud saya, mbak Shinta. Mbak Shinta ayo makan dulu. Sama Ibu, saya suruh ngajakin mbak Shinta makan," katanya sambil melirik ke arah Shinta, isteri barunya.


"Hahahaha...!!" tiba-tiba terdengar tawa dari segerombolan bapak-bapak yang sedari tadi berkumpul di halaman.

"Owalaah.. Maat, Maat.. Sama isteri sendiri kok manggilnya Mbak. Mbok manggilnya Dek, atau sayang, atau isteriku, gitu lho.. Hahaha!!"

Wajah Rahmat memerah. Isterinya, Shinta, dan sepupunya tertawa terkikik.
Rahmat ngacir masuk rumah. Dia lupa mau mengajak isteri barunya makan malam.

(FF kelima) Taman Bunga Anti


"Lihat kebunku, penuh dengan bunga.. Ada yang putih, dan ada yang merah.. Setiap hari kusiram semua.. Mawar melati semuanya indah..."

"Anti lagi apa?" tanya Ayu.

"Lagi gambar nih Kak..gambar taman bunga. Bagus kan?" bocah 6 tahun itu menunjukkan selembar kertas lusuh. Dalam goresan pensil, di sana tergambar berbagai macam bunga.

"Pinternya adek kakak ini, gambarnya bagus," kata Ayu sambil tersenyum.

"Coba kita punya taman ya Kak.. Anti suka banget bunga. Tapi kita ga bisa punya taman ya Kak ya?" mata itu meredup. Tapi hanya sekejap. Detik selanjutnya, gadis kecil itu kembali tenggelam dalam keasyikannya menggambar.

"Lihat kebunku...."

Ayu tersenyum sambil mengelus kepala adiknya penuh rasa sayang.
Tanah tempat mereka berpijak bergetar. Suara bising mendera. Kereta lewat lagi.

(FF) Monster di Dapur Rumah


"Miaaauuw..."

"Miaauuw..."

Si belang masuk dapur. Berharap ada sisa-sisa makanan dari majikannya seusai makan malam barusan.

"Krssskk..krrssk...krssk..."

Ada sesuatu di dalam tong sampah di pojok dapur. Belang curiga. Kucing remaja itu sering memergoki tikus dalam tong sampah. Mereka mengobok-obok isinya sampai berantakan di lantai. Dan majikannya akan marah, lalu menjatuhkan tuduhan pada Belang.

"Rrrrh..sekarang saatnya aku balas dendam.." ujarnya dalam hati.

Belang mendekati tong sampah itu pelan-pelan. Dia tidak mau kehilangan buruannya.

"Krrssk..krrssk.." Tong sampah itu bergoyang..lalu tumpah beserta isinya.

"Rrrh.. Miaauuww!!" Belang meloncat. Lalu sesuatu seperti menggigit hidungnya.
Sesuatu yang besar. Sebesar tubuhnya. Dia terkejut.

Tikus raksasa! Tikus hitam, jelek, besar, dan bau!

Belang mundur. Dia belum pernah melihat tikus seperti itu sebelumnya.

"Apa liat-liat??! Cit..ciitt.." tikus itu membentak galak.
"Kucing kecil, berani apa heh!!" dia berkata sambil mendekati Belang.

Belang mundur, lalu lari menjauh. Dia takut. Belang kemudian memilih bersembunyi di bawah tangga dekat dapur.

***

"Aaagggh... Papaaaa!! Papaaa!! Ada tikus Paa.. Ada tikus got di dapur kita.."

"Iiih..jijik Paa..!!"

Belang masih meringkuk di bawah tangga. Dia tertidur dengan perut kelaparan. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu monster tikus. Monster tikus yang hitam, besar, dan bau.

(My 3rd FF) Pernyataan Cinta



"Aku suka kamu..."

Jantung Meyla berdegup kencang. Tangannya berkeringat dingin. Dan tanpa disadari, bibirnya menyunggingkan senyum malu-malu.

"Hey! Kok diem?"

Meyla tambah salah tingkah. Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Dia bimbang. Ragu mau menjawab apa.

"Haloo??? Mey?"

Lalu, dengan diiringi hembusan nafas panjang, Meyla pun menjawab.

"Aku juga suka kamu, Angga.."

Dan, secepat kilat, Meyla menutup laptopnya. Sambil masih berdebar-debar. Tangannya berkeringat. Dia malu. Malu karena telah mengungkapkan perasaannya. Dia maluuu... Malu pada Angga, teman mayanya itu.

Akhirnya.......


Saya pengen nulis







tapi capek








Saya pengen nulis









tapi nggak ada ide









Saya pengen nulis







tapi males







Saya pengen nulis








tapi suntuk







Saya pengen nulis







Dan akhirnya saya nulis juga







Iya kan???







Ini bener2 tulisan orang iseng







He he he..







Hehehehe..