Selasa, 23 Agustus 2011

Curhat Bumil

Udah lama ternyata nggak nulis jurnal di MP. Sebenarnya banyak draft di hp, juga di MP. Tulisan-tulisan yang setengah jadi. Tapi selalu aja ada alasan untuk tidak mempostingnya.

Sekarang, bumil ini sedang memasuki bulan ketiga masa kehamilan. Tapi, satu yang jadi ganjalan, Saya kok nggak gendut-gendut ya?? Pernah salah satu mbak kantor bilang gini: "Kamu kok masih langsing sih?" Huwaa..jadi nggak pede. Memang si, kehamilan pada tiap orang berbeda-beda. Ada yang pas hamil langsung menggendut, ada juga yang tetep kurus dan langsing, perutnya aja yang membesar. Sempat cemas-cemas gimanaa gitu. Apalagi mbak-mbak yang sama usia kehamilannya di kantor, udah mulai keliatan lebih berisi.

Tapi kecemasan itu menghilang, pas check terakhir ke dokter. Ternyata, bb naik 1 kilo. Dan pas di USG, Alhamdulillah, si Dedek sehat di dalam sana. Perkembangannya sesuai umur. Dan lagi semangat koprol, jungkir-balik, muter-muter di dalam perut. Biarpun belum bisa dirasakan sama bundanya. Eh tapi, tensinya rendah. Kata mbak perawatnya, tensi Ibu hamil memang rata-rata rendah. Nah, kalo 90/70, itu termasuk rendahkah? Makanya dikasih obat yang berbeda dari sebelumnya sama Bu Dok, yang harganya lumayan mahal. Check kemarin itu, sempat bikin syok juga, haha. Bayar 2x lipat dari bulan lalu, karena obat penambah kalsium itu.

Trus, curhat yang lainnya lagi. Lusa otu, saya sekeluarga mau mudik. Sekeluarga itu artinya saya + suami. Dan saya galau menjelang mudik. Pasalnya, selama ini saya sering banget teler, ngedrop. Rasanya teler itu? Kayak orang lagi kena thypus. Badan panas, dan nggak berdaya buat ngapa-ngapain. Maunya tiduran aja. Kalau di rumah, biasanya saya atasi dengan tiduran berjam-jam. kalau di kantor, mau nggak mau harus saya tahan sampai jam pulang kantor. kadang numpang teler di mushola kantor. Lemas berlebihan, itu normal nggak sih buk?

Nah, karena besok pas mudik saya cuma berdua sama suami. Dan kami harus melewati perjalanan kurang lebih 12 jam (kalau lancar), saya takut aja tiba-tiba teler di jalan. Suami si bilang, kalau saya nggak kuat, istirahat aja di belakang. Tapi masa iya saya biarkan suami nyetir sendiri? lagian, dia paling nggak bisa ditinggal tidur. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, kalau saya tidur, atau ketiduran, bangunnya pasti menemukan kami sedang berhenti di tepi jalan, dalam keadaan tidur dua-duanya. hadeuuuh

Satu lagi. Sepertinya saya harus siap sedia kantong kresek. Takutnya nanti hoek-hoek di jalan

Mudik, sebenarnya momen yang paling ditunggu-tunggu. Mengingat sudah sejak 2 minggu yang lalu saya nangis-nangis di telepon minta pulang. Pengen dimanja dan dirawat sama orang tua *dasar anak manja! Tapi membayangkan proses mudiknya... udah keder duluan. Ya Allah, sehatkanlah kami besok. Itu doa saya


Fuuh...
udahan ah curhatnya

_bumi galau di pagi hari_


Jumat, 12 Agustus 2011

Passport

Beberapa menit yang lalu, saya menerima email dari teman kantor. Forward-an juga rupanya. Kisah yang menginspirasi. Semoga bermanfaat :)

---



(Jawapos 8 Agustus 2011)

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa  orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya  sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport. Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?"

Saya katakan saya tidak tahu. *Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. *Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

* The Next Convergence*

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.  Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu  pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas
Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti  menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya  sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Sury mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

*Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia *

Sabtu, 30 Juli 2011

Dari Gramedia ke perlintasan kereta


Pergi ke Gramedia, rencananya cuma mau beli beberapa buku, eeeh malah kalap beli banyak buku *tepok jidat:
1. 365 Hari Bersama Nabi Muhammad saw. Udah lama mupeng buku ini. Buat siapa? Buat dibaca sendiri dong. Buat anak juga kelak, hehehe..
2. Metode kilat menyelesaikan TPA dan Psikotes. Iseng beli buku ini. Buat latihan aja :p
3. Panduan super lengkap hamil sehat. Sebenernya udah punya buku '9 Bulan yang Menakjubkan'. Isinya juga pastinya ga jauh beda. Tapiii pengeeen, huhu
4. Menu sehari-hari dan akhir pekan volume 1. Resep-resep di buku ini tuh resep sehari-hari, bukan resep-resep yang susah juga :D
5. 9 Summers 10 Autumns. Buat bacaan di waktu luang.
6. Siapa Bilang Investasi Emas Butuh Modal Gede? Punyanya misua.
7. Menjadi Isteri Penuh Pesona. Ngambil buku ini diam-diam pas mas udah ngantri di kasir. Langsung masukin aja ke tas belanjaan, kalau nggak dilarang, bisa jadi belanjanya lebih banyak. Fiuuuuhhh...

Semoga bisa dibaca, dan bermanfaat buku-bukunya :D

Oiya, pas perjalanan pulang. Di pintu perlintasa kereta rame orang berkerumun. Jalanan jadi macet. Mobil dan motor yang lewat melambat. Pas nanya bapak-bapak yang ada di sana, katanya habis ada kecelakaan. Pengendara sepeda motor, tewas tertabrak kereta. Dia menerobos palang lintasan yang sudah ditutup, dan kecelakaan pun tidak terhindarkan. Innalillahi wa innailaihi rojiun.. Lemes rasanya membayangkan peristiwa itu. Allah, besok Ramadhan. Siapa yang tau batas usia kita? :(

Sampaikanlah kami pada Ramadhanmu ya Robb.. Aamiin..

Sekalian, mau mengucapkan maaf lahir batin untuk teman-teman MP. Semoga kita bisa beribadah dengan maksimal di ramadhan tahun ini. Aamiin...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 26 Juli 2011

Ilfil

Pernah ngerasa ilfil nggak sih? Pasti pernah dong ya..
Dan sekarang sepertinya saya lagi ilfil
Bukan, bukan ke orang. tapi ke tulisan
Ya, ternyata benda mati bisa juga jadi objek ke-ilfil-an
Ilfil itu, kalau udah nulis dengan semangat, tapi kemudian menunda memposting
Berselang hari kemudian, tulisan itu dirasa sudah tidak penting lagi. Ilfil. Ilang feeling
Fuuhh...
*liatin draft postingan di MP

Rabu, 29 Juni 2011

Bukan Akhir Dari Segalanya

my hubby, my little brother, and I


Seminggu yang lalu, Ibu dan adikku satu-satunya tiba di Jakarta. Liburan. Yaa.. Ibuku yang guru sekolah, sedang libur kenaikan kelas. Dan adikku, Akrom, sedang menunggu pengumuman SNMPTN.

Tadinya, mereka berdua hendak pulang ke Purbalingga hari Senin lalu. Tapi karena tiket kereta habis, karena ternyata ada arus mudik padat bersamaan dengan libur sekolah, jadwal kepulangan pun mundur menjadi Rabu malam. Dan malam tadi, adalah malam kepulangan mereka.

Sebelum maghrib, aku, mas, Ibu, dan Akrom berangkat ke stasiun. Sudah sejak kemarin sebenarnya kami menunggu hari Rabu tiba. Karena hari itu, jam 19.00, hasil SNMPTN akan diumumkan di internet (untuk pengumuman di media cetak, pagi hari sesudahnya). Setelah sholat maghrib, sembari menunggu keberangkatan kereta pukul 19.10, kami duduk-duduk di stasiun. Tak sengaja, waktu buka-buka fb, ada status tentang pengumuman snmptn. Langsung deh meluncur ke halaman snmptn via handphone.

Sebelumnya, cerita tentang penerimaan mahasiswa baru, SNMPTN adalah satu-satunya harapan terbesar kami. Sebelumnya, Akrom ikut tes salah satu PTN kedinasan, tapi ternyata dia belum lolos. Untuk jalur undangan, dia tidak ikut. Alasannya, di SMA kami, siapapun yang ikut jalur undangan, apabila dia diterima, maka dia wajib mengambil kesempatan itu. Alasannya, dulu sekolah kami pernah diblacklist gara-gara ada siswa yang tidak mengambil PMDK, padahal dia sudah diterima di sana. Akrom tidak mau ikut, soalnya tujuan utamanya adalah STAN (mengikuti jejak kakaknya, hehehe). Dan penerimaan STAN, selalu paling belakang. Akhirnya, dia melewatkan kesempatan itu begitu saja.

Dan setelah dia gagal di ujian masuk salah satu perguruan tinggi kedinasan (yang jelas bukan STAN, krn sampai sekarang, perihal pendaftaran STAN belum ada kejelasan), maka SNMPTN ini menjadi harapan besarnya (selain alternatif UM-UM setelahnya tentunya). Dia ambil jurusan matematika. Ingin jadi guru, katanya :)

Berkali-kali kami coba memasukkan nomor peserta snmptn dan tanggal lahirnya, tapi pengumuman itu belum juga keluar. Sambil tetap menunggu, kami terus mencoba. Ternyata, jadwal keberangkatan kereta diundur. Kami jadi punya waktu sedikit lebih banyak.

Mas uut tiba-tiba menyodorkan hpnya, dan tulisan besar terpampang di layar:

Maaf, anda tidak diterima di PTN melalui SNMPTN 2011 Jalur Ujian Tertulis

Aku tersentak. Kulihat Ibu dan Akrom yang sedang lesehan di lantai bersama kami. Kusodorkan hp itu ke adikku, dan dia membacanya. Adikku lantas menyerahkannya ke Ibu dengan senyum dipaksakan.

Aku rasa mataku berkaca-kaca. Tapi kutahan saja. Kukerjap-kerjapkan, memandang ke sana-sini. Ibu, dan kami, menyemangati Akrom dan membesarkan hatinya.

Aku melihat adikku lagi, melihat Ibu lagi, membayangkan, dan akhirnya, air mata itu tumpah. Bukan, bukan karena kecewa lantaran dia tidak berhasil masuk PTN. Bukan sama sekali. Tapi lihatlah dia, adikku, dengan sepatu dan jaket baru, dengan tas punggungnya yang tampak berat, di tengah kerumunan orang yang hendak berlibur, dia mencoba tersenyum walau itu susah. Dia masih mencoba tertawa walau pahit. Dia bingung, dia sedih, dan harapannya yang tadi melambung terhempas begitu saja.

Andai saja menangis tidak tabu untuk seorang laki-laki, aku ingin dia menangis saja. Daripada harus memendamnya di dalam hati. Ah, mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu sensitif.

Mas meraih kepalaku dan menutupi mukaku, sambil tertawa. "Kenapa sih? Haha.. Nggak papa kok. Kan masih bisa daftar tempat lain." Aku tidak melihat wajah Akrom. Tapi kurasa dia hanya tersenyum kecut. Kurasa, tangisku malah membuatnya tambah merasa bersalah karena dirasa telah mengecawakan banyak orang. Telah membuatnya tambah bingung, dan juga sedih.

Sekali itu, aku menangis lagi di depan umum. Dan beneerr deh, kalau sudah nangis seperti itu, suasana sekelilingmu menjadi tiada arti. Entahlah, mungkin orang-orang di sekeliling memperhatikanku. Aku mencoba membesar-besarkan hati demi menghentikan tangis. Apa-apaan sih? Bukannya menyemangati, malah membuat adikku tambah down. Tapi sungguh, aku tak tega...

Untuk selanjutnya, ada SIMAK UI yang akan diikuti akhir pekan nanti. Tapii.... "Tapi, bisa ngerjain soalnya nggak ya?" Eh? "Kan soalnya IPS" Aku baru ingat kalau adikku ambil Akuntansi di sana. Duh, agak nyesel juga si waktu dulu dia tidak konsultasi dulu. Tau-tau, yang diambil jurusan akuntansi. Padahal jelas-jelas backgroundnya IPA. Jadi tambah merasa bersalah, belum bisa jadi kakak yang baik *mewek*

Ya Allah, lancarkanlah, mudahkanlah, berkahilah jalannya... Aamiin...

*mohon doanya juga ya, teman-teman


Senin, 27 Juni 2011

Older sister vs younger brother

older sister


younger brother


Dulu, waktu saya berusia 5 tahun, adik laki-laki saya lahir. Saya sudah lupa bagaimana perlakuan saya terhadapnya saat itu. Apakah penuh kasih, mengayomi, atau malah nakal, usil. Satu-satunya yang bisa diingat, saat adik saya masih bayi, saya pernah menggigit jarinya sampai berdarah, dan dia nangis kejer. Bukan sebel, hanya gemes.

Kemarin, saya main ke tempat kakak ipar. Beliau memiliki 3 orang anak. Si Kakak, usianya 5 tahun. Adiknya yang nomor dua usianya 17 bulan, dan adiknya ketiga 3 bulan. Terbayang kan betapa repotnya si kakak ipar ini? Pembantunya aja sampai 3, heheheh..

Naah, yang saya perhatikan ini adalah.. Si kakak ini, namanya Hasna, dewasaaaaa banget. Dia sayang banget dengan adek-adeknya, terutama si nomor 2. Jelas lah, karena yang paling kecil belum bisa diajak main-main, masih digendong kemana-mana. Nggak ada tuh acara berantem, iri-irian, atau rebutan mainan. Kakaknya main, adeknya ikut main. Si kakak main game di depan laptop, adeknya duduk di sebelahnya, ngeliatin.  Pantes aja anak sekarang melek teknologi. Anak 5 tahun aja udah hobi ngutak-atik lepi. Mulai dari nyalain sampe shut down, bisa sendiri.

Lucunya lagi, adeknya ini suka banget peluk-pelukan. Dikit-dikit peluk kakaknya. Suka nonton teletubbies kali ya? hihi.. Dan berhubung si adek ini baru aja bisa jalan, jadi dia lincah ke sanan sini. Sukanya joget-joget. Trus, kalau lagi ada lagu kesukaan adeknya, kakaknya pasti tereak: "Fatiiiihh.. sinii..." Dan joget-jogetlah mereka berdua di depan TV. Gemeesss..

Sekalinya si Fatih nangis malam itu, karena dia gangguin kakaknya, padahal kakaknya udah bilang: "Fatiih, jangaann.." Dan pas adeknya nangis manja (nangis pura-pura, sebentar doang, hihi), trus digendong mamanya, kakaknya enggak nyalah-nyalahin si adek: "Habis dia giniii, habis dia gituu" Enggak ada sama sekali. kakaknya hanya diam aja sambil lanjutin mainan. Habis itu, lanjut deh main berdua

Akuurr ya..

Senin, 20 Juni 2011

Anak kembar, Sandy dan Mandy


Entah kenapa, aku pengen banget punya anak kembar. Kebetulan pas tadi searching soal bayi kembar, tiba-tiba nemu gambar sepasang anak kembar cewek yang lucuuu dan cantiik. Eh, ternyata gambarnya udah banyak di internet. Nama dua cewek cantik ini Sandy dan Mandy.
Nggak tau yang mana Sandy, yang mana Mandy, tapi dua-duanya cantik ya? ^^

*ps: coba deh perhatiin. Yang satu suka difoto dengan senyum lebarnya, yang satu senyumnya lebih kalem, bahkan terkesan agak jutek. Kalau menurutku siih, manisan yang kalem itu :p