Sabtu, 22 Agustus 2009

Perpisahan

Suatu keniscayaan. Suatu hal yang tak bisa kita hindari. Seperti hukum alam. Muda-tua, hidup-mati.

Banyak orang bilang, ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Entah itu dipisahkan oleh jarak, oleh kepentingan, atau oleh  maut. Perpisahan. Ah, kenapa kata itu seolah melambangkan kesedihan? Kenapa setiap kali mendengarnya timbul suatu perasaan tidak enak? Gelisah? Tidak rela? Bukankah dibalik setiap perpisahan akan ada pertemuan yang baru? Tapi kenapa rasanya sulit meninggalkan apa yang ada di belakang kita?

Perpisahan itu ada di depan mata. Perpisahan itu kini tengah membayangi. Kita akan berpisah. Untuk melangkah kembali, kawan. Meneruskan apa yang telah kita mulai. Menyelesaikan tugas kita di dunia ini. Sebelum perpisahan yang sebenarnya datang. Perpisahan itu gerbang menuju awal yang baru. Bukan garis finish. Bukan saat dimana kita akan berhenti. Belum, kita belum boleh berhenti.

Perpisahan itu, jika saatnya tiba nanti, izinkan kulepas kalian dengan senyum. Dan kalian juga melepasku dengan senyum.  Dan  aku akan berdoa, semoga suatu hari nanti, jika Dia berkenan, kita akan bertemu lagi..



"Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan – seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran"
-Kahlil Gibran-


Kadang, dengan cara yang tak kumengerti.. :)

Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus seperti itu?
Caramu, caraku, cara kita beda. Mungkin, kau ingin menjadikannya yang terbaik, tapi caramu aneh, tak dimengerti.
Mungkin, orang harus melihat dari sisi lain untuk bisa memahami.

^___^
tapi aku mulai tahu, kadang kau ingin melakukannya dg caramu sendiri, cara yang kadang tidak aku mengerti :)


*tulisan yg tidak penting untuk dimengerti :D

Selasa, 18 Agustus 2009

Kawah putih




Foto kelas..
Temanya Angel and Demon, jadi dresscodenya hitam dan putih...

Berhubung Andiah nggak punya kostum putih (dasar aja males nyarinya.. :p), jadilah pake baju item-item..

Si Om

Bagaimana kalau seorang anak laki-laki, balita, sering berada di lingkungan yang isinya kaum hawa? Apakah dia akan merasa kesepian, walaupun banyak teman di sekelilingnya? Hmm...sepertinya jawabannya adalah YA.

Kesimpulan ini didapat dari pengamatan atas tingkah laku seorang anak laki-laki berusia 3 tahun, yang selama ini tumbuh di lingkungan kami, para anak kos putri. Ya, siapa lagi yang dibicarakan kalau bukan Nico, sang cucu Ibu Kos. Nico, sedari bayi sampai sekarang, memang sering dititipkan di kos kami. Frekuensi kebersamaannya dengan kami boleh dikata tinggi. Hampir setiap minggu Nico ada di kos. Nico biasanya pulang saat akhir pekan, atau ketika sedang libur panjang. Saat-saat itulah baru dia bisa bermain sepuasnya dengan sang ayah di rumah.

Nico sangat-sangat atraktif. Dia cepat akrab dengan siapa saja. Termasuk para tamu yang datang ke kos kami. Teman-teman yang sering datang ke kos pasti tahu siapa Nico.
Tapi, terlebih lagi, Nico akan sangat-sangat senang jika yang datang ke kos adalah laki-laki. Ya, laki-laki.

Anak ibu kos kami punya seorang teman laki-laki (tau maksudnya kan? :p)
Setiap kali dia bertandang ke kos, Nico akan sangaaat senang. Cerewetnya semakin menjadi-jadi. Seharian akan ikut nongkrong di teras (tamu laki2 dilarang masuk kos, kecuali mungkin keluarga atau tamu penting), ikut cerita sana-sini. Heboh. Sampai suaranya terdengar sampai ke dalam rumah. "Om ini, Om itu.... blablablabla...."
Tidak hanya itu, dia biasanya akan ikut heboh kalau Tante dan Omnya yang satu itu menunjukkan tanda-tanda akan pergi. Panik. Nggak mau ketinggalan.

Tidak tante sebenarnya, tidak tante kosnya.

Aku juga pernah kedatangan salah seorang teman laki-laki Organda (Organisasi Daerah) saat Nico ada di kos. Kalau tidak salah, temanku itu datang karena ada suatu keperluan menyangkut uang. Dia tidak lama bertamu. Sebentar saja. Tidak sampai duduk, hanya ngobrol sambil berdiri. Nico datang. Ikut nimbrung. Bercanda. Lalu temanku itu pulang.

Olala....apa yang terjadi? Nico nangis.. teriak2 pula, "Ooooooommm!!!!!! Ommmmm!!!!"
Biar dibujuk bagaimanapun Nico tidak mau diam. "Ssstt... Nico, udah malem.. Omnya mesti pulang...." Tangisnya bukannya mereda, malah tambah menjadi-jadi. Akhirnya Nico kubawa masuk.

Tidak hanya aku. Teman kos yang lain pun pernah mengalami hal yang sama. Waktu itu kebetulan ada beberapa "Om" yang sedang ada keperluan dengan temanku. Nico ikut nongkrong teras, ngobrol, cerita dengan Om-Om itu. Tapi tidak sampai ada insiden nangis kali ini.

Jadi, itulah hasilnya, kalau seorang anak laki-laki, balita, terus-menerus berada di lingkungan yang penuh perempuan. Kesepian. Butuh teman bermain..
Sabar ya, Nico.... ^^




Senin, 17 Agustus 2009

Yang terakhir kalinya...

Aku,
yang hari ini terkalahkan
aku,
yang memberatkan diriku sendiri
memilih jalan yang berputar-putar
memilih lintasan yang ruwet membingungkan
aku kelelahan
terjebak pikiran sendiri
terperangkap ego pribadi

akhir yang berbuah penyesalan
hari ini
ya, hari ini
aku telah kalah
bahkan sebelum bertanding aku sudah menyerah

*The End*

huuff... Lepas sudah unek2nya.Ini terakhir kalinya, ya semoga terakhir kalinya.. Setelah sedari kemarin posting postingan nggak jelas.

Setelah ini Andiah akan kembali ceria. Yoossh!! :D
kalaupun ada hal yang belum mendapat jawaban, biar itu jadi PR sendiri. Kalaupun ada hal yang mengganjal, biarlah disimpan sendiri dalam hati..
Maaf ya teman2.. sudah mengeluh.. sudah membuat nuansa suram di MP..
Gomeeenn!!! :D

for today, Alhamdulillah...
for tomorrow, Bismillah...
^_^

Minggu, 16 Agustus 2009

Diam

Bila rasa sudah menggumpal
menusuk-nusuk
menyesak
mendesak
izinkan aku diam
diam
jika kalian melihatku mengatupkan kedua bibirku
biarkan aku diam
diam
karena aku sedang kehabisan kata
karena aku sedang tak ingin canda
maka perkenankanku untuk diam
diam
di sini saja
aku diam
tanpa suara

Jumat, 14 Agustus 2009

PKL




Fotonya baru dikit doang yang di aplot..
Yang lain2 belum sempet minta lagi, masih di kamera temen...