Bagaimana kalau seorang anak laki-laki, balita, sering berada di lingkungan yang isinya kaum hawa? Apakah dia akan merasa kesepian, walaupun banyak teman di sekelilingnya? Hmm...sepertinya jawabannya adalah YA.
Kesimpulan ini didapat dari pengamatan atas tingkah laku seorang anak laki-laki berusia 3 tahun, yang selama ini tumbuh di lingkungan kami, para anak kos putri. Ya, siapa lagi yang dibicarakan kalau bukan Nico, sang cucu Ibu Kos. Nico, sedari bayi sampai sekarang, memang sering dititipkan di kos kami. Frekuensi kebersamaannya dengan kami boleh dikata tinggi. Hampir setiap minggu Nico ada di kos. Nico biasanya pulang saat akhir pekan, atau ketika sedang libur panjang. Saat-saat itulah baru dia bisa bermain sepuasnya dengan sang ayah di rumah.
Nico sangat-sangat atraktif. Dia cepat akrab dengan siapa saja. Termasuk para tamu yang datang ke kos kami. Teman-teman yang sering datang ke kos pasti tahu siapa Nico.
Tapi, terlebih lagi, Nico akan sangat-sangat senang jika yang datang ke kos adalah laki-laki. Ya, laki-laki.
Anak ibu kos kami punya seorang teman laki-laki (tau maksudnya kan? :p)
Setiap kali dia bertandang ke kos, Nico akan sangaaat senang. Cerewetnya semakin menjadi-jadi. Seharian akan ikut nongkrong di teras (tamu laki2 dilarang masuk kos, kecuali mungkin keluarga atau tamu penting), ikut cerita sana-sini. Heboh. Sampai suaranya terdengar sampai ke dalam rumah. "Om ini, Om itu.... blablablabla...."
Tidak hanya itu, dia biasanya akan ikut heboh kalau Tante dan Omnya yang satu itu menunjukkan tanda-tanda akan pergi. Panik. Nggak mau ketinggalan.
Tidak tante sebenarnya, tidak tante kosnya.
Aku juga pernah kedatangan salah seorang teman laki-laki Organda (Organisasi Daerah) saat Nico ada di kos. Kalau tidak salah, temanku itu datang karena ada suatu keperluan menyangkut uang. Dia tidak lama bertamu. Sebentar saja. Tidak sampai duduk, hanya ngobrol sambil berdiri. Nico datang. Ikut nimbrung. Bercanda. Lalu temanku itu pulang.
Olala....apa yang terjadi? Nico nangis.. teriak2 pula, "Ooooooommm!!!!!! Ommmmm!!!!"
Biar dibujuk bagaimanapun Nico tidak mau diam. "Ssstt... Nico, udah malem.. Omnya mesti pulang...." Tangisnya bukannya mereda, malah tambah menjadi-jadi. Akhirnya Nico kubawa masuk.
Tidak hanya aku. Teman kos yang lain pun pernah mengalami hal yang sama. Waktu itu kebetulan ada beberapa "Om" yang sedang ada keperluan dengan temanku. Nico ikut nongkrong teras, ngobrol, cerita dengan Om-Om itu. Tapi tidak sampai ada insiden nangis kali ini.
Jadi, itulah hasilnya, kalau seorang anak laki-laki, balita, terus-menerus berada di lingkungan yang penuh perempuan. Kesepian. Butuh teman bermain..
Sabar ya, Nico.... ^^