Senin, 26 September 2011

Perjalanan menemukan rumah idaman (bagian 1)



Semenjak awal menikah, saya dan suami sudah bertekad kalau kita hanya akan mengontrak selama 1 tahun. Itu sebabnya, beberapa bulan setelah pernikahan, kami mulai berburu mencari rumah. Tapi, ternyata mencari tempat tinggal permanen itu sulitnya berkali lipat dibandingkan dengan hanya mencari kontrakan. Akhirnya kami menyerah. Kelelahan. Tidak kunjung menemukan rumah yang cocok di hati dan cocok di kantong. Akhirnya, sampai 1 tahun kemudian, kami masih ngontrak, sekarang bahkan sudah memperpanjang kontrkan untuk satu tahun ke depan. Mission failed.

Beberapa minggu belakangan, kami kembali gencar mencari sang pelabuhan hati. Kembali ke saat beberapa bulan yang lalu, kami mulai lagi dari awal. Browsing internet, survey, tanya ke orang-orang, meminta bantuan saudara, mulai kami lakukan lagi. Dengan modal 1 tahun ke depan kontrakan, kami berharap bisa menemukan rumah yang cocok bagi kami. Dengan mempertimbangkan juga bahwa, 1 tahun lagi, anak kami baru akan berumur kurang lebih 5 bulan.

Berbagai pertimbangan dipikirkan dalam pencarian ini. Selain harga, yang tentunya diperhitungkan pertama kali, hal-hal lain yang menjadi pertimbangan kami adalah:

1.    Lokasi/daerah yang akan diambil, apakah akan mengambil rumah di kota Jakarta, ataukah daerah pinggiran. Kami berdua putuskan, untuk mengambil rumah di kota satelit (Depok, Tangerang, Bekasi, Cibubur, Bogor). Selain harga rumah di sana masih terjangkau, kami juga menginginkan lingkungan yang sedikit lega dan lapang, tidak seperti di Jakarta Pusat yang padat, dan ramai. Beli rumah di pusat sebenarnya bisa-bisa saja. Masih ada kok, rumah yang terjangkau harganya di tengah kota, asalkaann, mau berbagi halaman dengan tetangga. Yup. Biasanya, rumah-rumah dalam kota yang harganya masih bisa dijangkau itu rumah-rumah yang ada di dalam gang. Rumahnya sendiri, rata-rata bagus kok, tapi ya itu, mobil tidak bisa masuk, susah cari parkir, dan harus tahan dengan keramaian (pengalaman sendiri tinggal di perumahan padat penduduk). Untuk rumah yang ada di tepi jalan raya, harganya sudah milyaran, meskipun itu rumah lama (bukan golongan rumah mewah).

2.    Akses menuju pusat kota Jakarta. Dengan pemilihan daerah perumahan yang jauh dari pusat, dan berhubung kami berdua berkantor di pusatnya Jakarta, kami pun harus memikirkan akses menuju pusat kota. Pertimbangan itu antara lain: ada tidaknya jalan tol, dan ada tidaknya stasiun kereta. Jalanan dalam kota tentu saja tidak bisa dijadikan patokan jauh-dekat karena dimana-mana sekarang sama saja permasalahannya: macet. Selain tol dan kereta, adanya transportasi umum yang mudah, misalnya bis dari daerah tersebut yang masuk tol langsung ke pusat kota, atau ada tidaknya jemputan kantor di daerah tersebut, alih-alih beragam metromini, angkot, atau bus yang harus berkali-kali ganti untuk sampai di tujuan, tentu menjadi pertimbangan selanjutnya.

3.    Sampai di kedua pertimbangan tadi, kami akhirnya memantapkan diri untuk mencari rumah di kisaran daerah Jakarta Selatan-Tangerang. Mungkin di daerah Bintaro, Serpong, Pamulang, Alam Sutera, atau Tangerang. Kalau menuruti keinginan, sebenarnya saya ingin di daerah Bintaro, menngingat daerah itu adalah jajahan semasa kuliah. Tapii, Bintaro adalah daerah mahal. Jadi kami tidak terlalu memaksakan diri untuk mendapatkan rumah di sana. Walaupun begitu, kami masih belum mengeliminasinya dari daftar pilihan. Untuk daerah Bekasi, saya entah kenapa merasa tidak cocok  berada di sana. Saya pernah sekali jalan ke sana, dan kapok, huhuhu... Kata orang, mencari rumah itu ibarat mencari jodoh, dan sepertinya, saya tidak berjodoh dengan Bekasi. Bogor, sejak awal tidak menjadi pilihan, karena saya belum pernah mengalami perjalanan dari Bogor ke Jakarta Pusat. Orang kantor bukannya tidak ada yang bertempat tinggal di Bogor. Ada, tetapi tidak banyak. Sebagian dari mereka mengandalkan kereta untuk pulang pergi, sebagian lagi dengan jemputan. Cibubur. Hampir setiap bulan saya ke sana, ke rumah kakak ipar. Dan hal lain selain jauhnya jarak antara Cibubur-Jakarta Pusat, yang menjadi alasan untuk tidak memilih Cibubur sebagai tempat tinggal adalah: macet. Setiap hari Cibubur macet. Entah pada hari kerja biasa, ataupun saat weekend. Memang dulu sempat mencari-cari di daerah sana, tapi akhirnya kami putuskan untuk mengeliminasinya saja. Depok sebenarnya pernah kami jelajahi berdua saat pencarian pertama beberapa bulan lalu. Saya menginginkan daerah rumah tinggal yang asri, dan saya pikir Depok adalah tempat yang cocok. Tapi entah kenapa, kami berdua berubah pikiran pada pencarian kedua ini. Akses ke Depok hanyalah kereta. Tidak ada jalan tol. Kalau keretanya mogok, alamat saya bakal telat pergi ke kantor. Jadi pada akhirnya, kami putuskan untuk mencari sekitaran Jakarta Selatan-Tangerang, yang punya akses tol (Serpong dan Alam Sutera), maupun jalur kereta api.

4.    Setelah menentukan cakupan wilayah kami akan tinggal, kami pun memulai pencarian selanjutnya. Dan pertimbangan lain pun bermunculan: apakah daerah perumahannya bebas banjir, apakah air mudah, bagaimana fasilitas umum yang ada di sana, dan lain sebagainya. Untuk sementara kami masih mengandalkan informasi dari mana saja. Dan semakin membaca, semakin banyak mencari tahu di internet, maka semakin bingunglah kami. Ada yang bilang, kalau untuk mencari rumah pertama kali, jangan andalkan internet, karena itu akan membuat kita semakin bingung. Tapi saya rasa, kita dapat mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari mana saja. Apalagi untuk pemula seperti kami, yang tidak tahu-menahu tentang agen properti, dkk-nya. Jadi kamipun mengumpulkan informasi dari internet, teman, saudara, brosur-brosur, dan survey kecil-kecilan kami sendiri.

Untuk sementara ini, sepertinya baru itu saja lika-liku pencarian rumah idaman. Semoga jurnal tentang ini tidak berhenti sampai di tengah jalan. Dan semoga, kami dapat segera bertemu dengan jodoh kami :D

*menanti tanggapan dari temen-temen MP. Siapa tau ada yang berkenan memberikan informasi, masukan, pengalaman, ataupun tips n trik mencari rumah ;)

Kamis, 22 September 2011

Bukan air mata buaya :D



Kemarin malam, pas lagi nonton tivi berdua, tiba-tiba misua bilang: "Dedeknya diputerin lagu Ndaa.."

Baiklah, kalau diputerin lagu, itu artinya adalah, setel lagunya Vina Panduwinata yang berjudul 'Anakku' Volume tivi dikecilin, dan kita berdua dengerin lagu itu sambil tiduran di depan tivi.

Suami merem-merem. Secara sebelumnya dia bilang kalau ngantuk. Dan kita berdua mendengarkan sambil menghayati itu lagu. Semenit, dua menit... "Ayah inget dedek Azka...", katanya.

Lalu, tak lama kemudian, bibirnya bergerak-gerak ke bawah 2 mili. Habis itu diem. Bergerak lagi. Diem. Matanya melek sedikit. Dimeremin lagi. Melek lagi. Dan dia berkaca-kaca. Matanya memerah. Habis itu merem lagi. Dan keluarlah buliran bening itu.

Huwaaa...
Yang tadinya nggak kenapa-napa, jadi ikut-ikutan nangis deh, karena liat misua meneteskan air mata. Akhirnya, malah aku yang terisak-isak.

Habis adegan mengharukan itu, dan setelah lagunya selesai, misua langsung bangkit dengan gagah berani, nggak ada sedih-sedih lagi, dan melanjutkan aktivitasnya :D

Selasa, 13 September 2011

Bakwan



"Waah, rasanya sama persis kayak yang di rumah Temanggung!" kata suamiku antusias.

"Udah berhasil nyontek resep mertua nih" katanya lagi

"Masa?" tanyaku sangsi. Siapa tau cuma bercanda doang.

"Iya, jadi berasa di rumah"

Isteri mana siih, yang nggak seneng suaminya memuji makanan buatannya? (yaah, kalau yang tadi bisa disebut memuji). Siapa juga yang nggak seneng dibilang 'sudah berhasil nyontek resep mertua'? Apalagi dibilang makanannya itu membuat suami berasa lagi di rumah. Seneng banget dong pastinya, hihihi. Yah, meskipun makanannya itu hanya berupa sepiring bakwan (huuuu...penonton kecewa). Asli. Walaupun yang dipuji hanyalah bakwan, tapi itu sudah cukup membuatku senang dan bertekad akan memasak dengan rajin.

Nggak sia-sia juga rupanya aku ikut turun ke dapur membantu ibu mertua tercinta masak di akhir-akhir bulan puasa kemarin. Jadi, bisa sekaligus mengintip resep asli masakan beliau yang aku juga doyaan (kasihan sekali suamiku. Semasa kecil sampai remaja, didampingi oleh ibu yang pintar memasak. Giliran udah nikah, isterinya gagap masak, huahua)

Sebenarnya, masakan ibu mertua yang jadi favorit suami, dan belakangan jadi favoritku juga adalah brongkos kepala kambing. Ada yang tau? Ada yang pernah coba? Pertama kali aku ikut mencicipi masakan itu adalah saat unduh mantu dulu, waktu nginep di rumah mertua pertama kalinya sesudah menikah. Rasanya kayak apa ya?? Emm.. yang jelas, isinya bukan daging, karena dibuatnya dari kepala kambing. Maknyuss deh. Dan pedesnya itu, bikin sensasi tersendiri di mulut dan perut, hahaha

Pengen banget kapan-kapan bisa menyajikannya ke meja makan sendiri, mengingat suami yang hobi dan selalu request masakan itu setiap pulang ke Temanggung. Tapii, darimana bisa dapetin kepala kambing? Dan lagi, kami nggak punya alat presto (alesan).

Yaa, untuk kali ini, sepiring bakwan dulu yang resepnya aku contek dari mertua. Nanti, semoga dapat kesempatan lain buat belajar resep makanan favorit suami. Rasa-rasanya, kalau setiap masak dikasih pujian kayak di atas, aku bakal jadi rajin masak deeh. Hidup masaaakk!!


Senin, 12 September 2011

Surat untuk suamiku (first anniversary)





Teringat satu tahun lalu, saat kudengar suaramu di ruang tamu rumahku
pagi itu, dadaku berdegup lebih kencang dari biasanya
Pagi itu, aku penasaran ingin keluar kamar
sekedar ingin tau, bagaimana mereka merias wajahmu
Pagi itu, hari pernikahan kita


Lalu kita duduk di pelaminan
menebarkan senyum sepanjang hari kepada mereka yang datang
Bagaikan raja, dan ratu
menerima ucapan selamat dan doa bertubi-tubi
Hari itu, aku merasa menjadi orang paling bahagia di seluruh dunia
:)


Hari-hari kita bukan tanpa masalah
tidak jarang aku menangis karena hal-hal sepele
padahal tidak pernah sekali pun kau marah padaku
tangiskulah, yang biasanya akan membangkitkan marahmu
lalu kita pun akan berdiam sepanjang hari
dan aku menangis lagi
lalu datang kepadamu untuk meminta maaf


Aku mencintaimu
Saat kita bercanda melepas penat sepulang rutinitas yang terlihat membosankan
Menonton televisi bersama, sembari makan malam berdua
tidak ada yang romantis
tapi aku suka


Aku mencintaimu
Meskipun kau melupakan momen-momen spesial
Meskipun aku ngambek
Aku tetap mencintaimu


Aku mencintaimu
Saat badai datang menerjang
Dan tangisku pecah tak tertahan
Calon anak kita telah pulang
Kita mungkin menyesal
Aku tetap mencintaimu


Aku mencintaimu
Meski kadang aku tidak menghadiahimu senyuman
Saat kau pulang tengah malam dan kelelahan
Hey, aku juga ingin diperhatikan
Hey, kenapa kau selalu menomorsatukan pekerjaan?
...
Dan walaupun begitu, tidak pernah sikapku kau permasalahkan
Dengan pakaian kerja kau sapa aku yang tidur memunggungi pintu
'Maafin Ayah ya, udah pulang malam'
Katamu dengan wajah bersalah
sambil mengusap keningku
Sungguh aku mencintaimu


Aku semakin mencintaimu
Setiap kali kulihat kau tertidur di sebelahku
Wajahmu yang tirus
Tubuhmu yang kurus
Lalu kuingat kata-katamu malam itu:
'Ayah kerja sampe malem, biar Nda sama Dedek nggak hidup susah'
Aku berjanji aku akan selalu mencintaimu


Aku mencintaimu..
Sampai tahun-tahun yang akan datang
Meskipun badai yang lebih besar bisa tiba-tiba menerjang
Aku berjanji akan selalu mencintaimu



Teruntuk suamiku, terima kasih untuk satu tahun yang telah begitu berarti...



Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahyaMu
yang tiada pernah padam
Ya Robbi, bimbinglah kami...



*menuju 18 September
kalau udah weekend bakal nggak sempet ngenet, makanya diposting sekarang





**picture from here

Kamis, 25 Agustus 2011

Lebaran dan cokelat


Tadi, Ibu Direktur keluar ruangan, dan lewat depan meja. Eeeh, tiba-tiba: "Nih, kartu ucapan buat Andiah"

Pas diliat isinya, dapet cokelat dari dapur cokelat. Tahun kemaren juga dapet cokelat dari tempat yang sama. Tapi, yang ngasih beda. Asiiikk, bisa buat cemil-cemil di jalan nih :p


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 23 Agustus 2011

Curhat Bumil

Udah lama ternyata nggak nulis jurnal di MP. Sebenarnya banyak draft di hp, juga di MP. Tulisan-tulisan yang setengah jadi. Tapi selalu aja ada alasan untuk tidak mempostingnya.

Sekarang, bumil ini sedang memasuki bulan ketiga masa kehamilan. Tapi, satu yang jadi ganjalan, Saya kok nggak gendut-gendut ya?? Pernah salah satu mbak kantor bilang gini: "Kamu kok masih langsing sih?" Huwaa..jadi nggak pede. Memang si, kehamilan pada tiap orang berbeda-beda. Ada yang pas hamil langsung menggendut, ada juga yang tetep kurus dan langsing, perutnya aja yang membesar. Sempat cemas-cemas gimanaa gitu. Apalagi mbak-mbak yang sama usia kehamilannya di kantor, udah mulai keliatan lebih berisi.

Tapi kecemasan itu menghilang, pas check terakhir ke dokter. Ternyata, bb naik 1 kilo. Dan pas di USG, Alhamdulillah, si Dedek sehat di dalam sana. Perkembangannya sesuai umur. Dan lagi semangat koprol, jungkir-balik, muter-muter di dalam perut. Biarpun belum bisa dirasakan sama bundanya. Eh tapi, tensinya rendah. Kata mbak perawatnya, tensi Ibu hamil memang rata-rata rendah. Nah, kalo 90/70, itu termasuk rendahkah? Makanya dikasih obat yang berbeda dari sebelumnya sama Bu Dok, yang harganya lumayan mahal. Check kemarin itu, sempat bikin syok juga, haha. Bayar 2x lipat dari bulan lalu, karena obat penambah kalsium itu.

Trus, curhat yang lainnya lagi. Lusa otu, saya sekeluarga mau mudik. Sekeluarga itu artinya saya + suami. Dan saya galau menjelang mudik. Pasalnya, selama ini saya sering banget teler, ngedrop. Rasanya teler itu? Kayak orang lagi kena thypus. Badan panas, dan nggak berdaya buat ngapa-ngapain. Maunya tiduran aja. Kalau di rumah, biasanya saya atasi dengan tiduran berjam-jam. kalau di kantor, mau nggak mau harus saya tahan sampai jam pulang kantor. kadang numpang teler di mushola kantor. Lemas berlebihan, itu normal nggak sih buk?

Nah, karena besok pas mudik saya cuma berdua sama suami. Dan kami harus melewati perjalanan kurang lebih 12 jam (kalau lancar), saya takut aja tiba-tiba teler di jalan. Suami si bilang, kalau saya nggak kuat, istirahat aja di belakang. Tapi masa iya saya biarkan suami nyetir sendiri? lagian, dia paling nggak bisa ditinggal tidur. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, kalau saya tidur, atau ketiduran, bangunnya pasti menemukan kami sedang berhenti di tepi jalan, dalam keadaan tidur dua-duanya. hadeuuuh

Satu lagi. Sepertinya saya harus siap sedia kantong kresek. Takutnya nanti hoek-hoek di jalan

Mudik, sebenarnya momen yang paling ditunggu-tunggu. Mengingat sudah sejak 2 minggu yang lalu saya nangis-nangis di telepon minta pulang. Pengen dimanja dan dirawat sama orang tua *dasar anak manja! Tapi membayangkan proses mudiknya... udah keder duluan. Ya Allah, sehatkanlah kami besok. Itu doa saya


Fuuh...
udahan ah curhatnya

_bumi galau di pagi hari_


Jumat, 12 Agustus 2011

Passport

Beberapa menit yang lalu, saya menerima email dari teman kantor. Forward-an juga rupanya. Kisah yang menginspirasi. Semoga bermanfaat :)

---



(Jawapos 8 Agustus 2011)

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa  orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya  sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport. Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?"

Saya katakan saya tidak tahu. *Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. *Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

* The Next Convergence*

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.  Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu  pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas
Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti  menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya  sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Sury mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

*Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia *