Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Februari 2010

My Name is Khan

Rating:
Category:Movies
Genre: Drama
Awalnya sudah tidak tertarik ketika diberi tahu ada film bagus berjudul My Name is Khan. Film India, means joget-joget dan nyanyi-nyanyi. Walaupun suka jalan dan inti ceritanya, tetap saja tidak suka dengan joget-jogetnya-biarpun tidak semua film India full tarian, contohnya Slumdog Millionaire.
Tapi, setelah saya coba gugling, rasa-rasanya mulai tertarik dengan film yang satu ini, biarpun nontonnya masih kapan tau, hehe..

***


Sebuah cerita roman yang menceritakan lagi mengenai bayangan kota besar di Amerika, sampai serangkaian peristiwa kehidupan yang lebih mengancam dari sebuah kehidupan. Bayangkan apa yang terjadi ketika sebuah tindakan dari seorang pria bertekad mencari pengampunan dan cinta yang hilang dapat dilakukan untuk menginspirasi hati dan pikiran bangsa yang terluka. Dalam “My Name is Khan,” superstar Bollywood Shah Rukh Khan dan Kajol Devgan menjalani peran yang paling menantang karier mereka.

Rizvan Khan (Shahrukh Khan) adalah laki-laki muslim yang terhormat dari India, yang hidup dengan Sindrom Asperger, hidup bersama ibunya (Zarina Wahab) di wilayah Borivali di Mumbai. Saat ia dewasa , Rizwan pindah ke San Fransisco dan hidup bersama adik dan iparnya. Selama disana, ia jatuh cinta kepada Mandira (Kajol). Mereka menikah dan memulai usaha.


Setelah peristiwa 9/11, Rizwan dan Mandira mulai menghadapi beberapa kesulitan. Dimulai dari sebuah tragedi, mereka berpisah. Ingin kembali memenangkan hati istrinya, Rizwan melewati sejumlah petualangan diberbagai negara bagian di Amerika. Ketika melanjutkan perjalanannya, Khan mengilhami optimisme dan kegembiraan di dalam hati orang-orang yang dia temui dengan menyebarkan pesan-pesan dari niat baik di mana pun ia menjelajah.
(Sumber : hobinonton.com)


***


WASHINGTON--MI: Di tengah kontroversi di negeri sendiri, My Name Is Khan yang dibintangi Shah Rukh Khan dibuka di 119 bioskop di seluruh Amerika Utara dengan respons yang antusias dari masyarakat Asia Selatan dengan berbagai sambutan dari sejumlah media.

"Yang terbaik dari My Name Is Khan, terutama untuk Amerika, adalah sebuah cerita tentang risiko kebaikan," tulis The New York Times. Sebagai arus utama pers AS, koran ini juga mencatat badai yang mengepung rilis film itu pada Jumat (12/2) di India.

"Khan salah satu dari beberapa film Hindi (New York, Kurbaan) tentang orang India yang paranoid setelah peristiwa 9/11 di Amerika. Ada sesuatu yang menarik tentang melihat negara ini melalui kaca mata Bollywood, bahkan ketika ceritanya semacam dongeng," kata US Daily, Sabtu (13/2).

"Perjuangan atas film dan politik dari sang bintang serta membuat marah kaum Hindu atas komentarnya mengenai pemain Pakistan bermain di tim kriket India adalah sekilas tentang politik sempit yang masih membagi India," kata Times.

"Film itu menampilkan kehidupan seorang lelaki muslim dari India, tinggal di San Francisco, yang melalui perjalanan luar biasa di Amerika Serikat, menginspirasi orang yang mengundang perdebatan dan menciptakan sebuah revolusi spontan," kata The Washington Post. (IANS/OL-04)

(Sumber:http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/14/123161/62/10/Media-AS-tentang-My-Name-is-Khan)

Senin, 02 November 2009

Iseng

" I was scared..
It was as if my own body wasn't my own anymore
I couldn't say anything to anybody
For the first time.. I thought i was all alone
Mom, help me
Help me, mom.."

Sedang nonton film, tentang seorang ibu berusia 14 tahun..
Seorang anak SMP yang menjadi seorang ibu karena 'kecelakaan'

Serem juga nonton film yang satu ini.
Bukan serem apa-apa. Filmnya 'bersih' dari adegan yang tidak2. Dorama Jepang rata2 memang bebas sensor ^^

Hanya saja, membayangkan hal2 seperti yang ada di film ini membuatku ngeri.
Melihat bagaimana seorang anak yang ceria berubah tingkahnya 180 derajat setelah tahu dirinya hamil, membuatku memikirkan hal yang juga pernah kulihat di luar sana.

Kehidupan yang menyenangkan, teman-teman yang asyik, keluarga yang hangat, paman dan bibi yang seru, tiba-tiba semua tiada artinya ketika dia tahu bahwa dia hamil.
Tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu mesti memberi tahu siapa..
Merasa sendirian dan tak berdaya.


Tak kuasa membayangkan bahwa hal seperti itu juga pernah terjadi di sekitarku..



Huff..baru nonton episode 1.
Mau lanjut nonton lagi ^^

Haha.. Tulisan aneh.
Cuma mau menuangkan apa yang terlintas di pikiran saja pas nonton film ini :D

Sabtu, 18 Juli 2009

(Genki) Satorare

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Bagaimana perasaan kalian jika semua orang bisa membaca pikiran kalian? Ya, itulah yang terjadi dengan Satomi sensei, sebut saja namanya demikian (sebenernya si karena saya lupa nama lengkapnya... :D)
Satomi sensei (dokter) adalah "satorare", suatu kelainan langka yang diderita 1 dari 10 juta orang. Satorare adalah seorang jenius dengan IQ di atas rata-rata yang suara hati maupun pikirannya dapat dibaca oleh setiap orang yang ada dalam radius 12 meter di sekitarnya.

Satomi sensei sendiri tidak pernah menyadari kalau dirinya adalah seorang satorare. Seluruh kota melindungi keberadaannya sebagai satorare. Selain itu, ada 2 orang agen (1 perempuan, 1 laki-laki) dari organisasi pelindung satorare yang senantiasa 'menguntitnya' kemanapun dia pergi (kayak FBI gitu deh..). Mereka sering menyamar untuk memantau pergerakan satorare ini.
Contoh: Satomi mau naik bis ke rumah sakit. Di dalam bis sudah ada agen yang menyamar menjadi ibu-ibu muda. Sebelum bis sampai di hadapan satorare, agen tersebut memberitahu penumpang yang ada di dalam bis. Mirip pramugari di pesawat terbang: " Mohon perhatian kepada para penumpang...Sebentar lagi akan ada seorang satorare yang akan naik bis ini. Harap untuk bersikap wajar apabila Anda mendengar apa yang ada dalam pikirannya...."

Film ini lucu,menghibur, tapi juga mengharukan.
Satomi sebenarnya orang yang baik, tapi karena pikirannya bisa dibaca setiap orang, semua hal jadi berlangsung tidak wajar.
Satomi yang seorang dokter tidak diperbolehkan memeriksa pasien. Tentu saja dia tidak pernah tau alasan rumah sakit yang tidak pernah memberinya kesempatan. Dia selalu menyangka bahwa dirinya tidak pantas dan tidak dipercaya. Padahal... coba kita bayangkan kalau dia yang seorang satorare memeriksa pasien:
S : Keluhannya apa Pak?
P : Saya sering sakit kepala Dok..
S : (berkata dalam hati) mungkin hanya sakit kepala biasa..
P : hmm....
S : (masih berkata dalam hati)..atau.. bisa jadi gejala penyakit serius??? Kanker otak misalnya???
P : Apa???!!!!!!
S : Hah...ada apa?

Dalam satu episode, diceritakan juga tentang adanya satorare lain. Orang-orang di sekeliling Satomi berusaha mencegah agar mereka berdua tidak saling bertemu. Kenapa? Karena karena 2 orang satorare bertemu, kemungkinan besar mereka akan saling mengetahui identitas diri masing-masing.. Bisa dibayangkan kan, kalau 2 satorare saling membaca pikiran???

Walaupun bergenre komedi, tapi ada beberapa scene yang bisa membuat saya meneteskan air mata, yaitu waktu Satomi akhirnya diperbolehkan mengoperasi. Dan yang dioperasinya untuk pertama kalinya adalah sang Ibu. Saat akhirnya Satomi sadar bahwa sakit ibunya tidak mungkin disembuhkan, dia merasa sangat sedih.. Teramaaat sedih sampai tidak ada suara dari pikirannya yang terbaca. Hening... sehingga orang-orang di rumah sakit bisa merasakan kesedihannya..


Yah,pokoknya film ini sangat menghibur, meskipun memang tidak masuk akal :D
Tapi ini membuktikan kalau orang Jepang lebih kreatif dalam dunia perfilm-an. Tidak seperti sinetron kita yang temanya mirip-mirip satu sama lain, bahkan ada yang ceritanya sama, hanya judul dan pemainnya saja yang beda :D



Kamis, 09 Juli 2009

TOKYO TOWER, Okan to Boku to, tokidoki, Oton (Mom, Me, and sometimes Dad)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Sedang tertarik membuat review, setelah sekian lama hanya membaca pengamatan orang-orang tentang film maupun buku..
Jadi, kali ini saya ingin memulainya dengan salah satu dorama favorit saya, Tokyo Tower.

Masaya Nakagawa, atau yang biasa dipanggil Ma-Kun, adalah seorang anak yang biasa hidup bergantung kepada sang Ibu. Kedua orang tuanya bercerai saat dia masih kecil, dan sejak saat itu, Ma-kun hidup berdua dengan ibunya.

Ma-kun kecil adalah anak yang sangat pemalu dan penakut. Dia tidak pernah mau jauh dari ibunya. Selalu sang Ibu.
Hingga akhirnya Ma-kun beranjak remaja. Dia menjadi anak nakal di sekolah, sampai menyebabkan ibunya dipanggil pihak sekolah karena kenakalannya. Dia juga tidak pernah mau dibantu sang ibu, seolah ingin menghilangkan kesan anak mami. Padahal, namanya juga ibu ke anak, pastinya ingin memberikan sesuatu yang lebih.

Setelah lulus SMA, Ma-kun bercita-cita untuk melanjutkan kuliah di Tokyo. Dia ingin hidup mandiri, jauh dari ibunya. Mulai dari sinilah kehidupannya penuh gejolak. Awalnya memang dia kuliah, tapi lama-lama, uang yang sudah susah payah dikumpulkan sang ibu di kampung dia gunakan untuk bersenang-senang, berjudi.
Mulai dari sini pula, ada banyak kejadian yang menimpa kehidupan mereka. Salah satunya adalah meninggalnya sang nenek. Saat neneknya meninggal, dia mendapat warisan tabungan yang susah payah dikumpulkan neneknya, sen demi sen. Itu semua akhirnya menyadarkannya dari keterpurukannya selama ini.

Masaya pun mulai menata kembali kehidupannya yang berantakan.
Dia mulai mendapat pekerjaan, bisa membeli rumah, dan akhirnya memboyong ibunya untuk tinggal bersama di Tokyo. Ibunya menjadi ibu kesayangan teman-teman maupun rekan kerja Masaya. Tak jarang mereka berkumpul di rumahnya, makan, ataupun merayakan sesuatu.

Pada akhir cerita, dikisahkan mengenai perjuangan ibunya yang menderita kanker.

Akhir ceritanya tidak usah saya sampaikan di sini. Yang jelas film ini telah menguras air mata saya.
Betapa kasih ibu sepanjang zaman, tak lekang dimakan waktu, walaupun seperti apa kelakuan kita, mereka tidak pernah mengkhianati kita.

Selain kisah ibu dan anak, ada juga kisah sang ayah, yang walaupun sudah berpisah dengan istri dan anaknya, ternyata masih sangat menyayangi mereka. Lalu ada juga teman-teman Masaya, yang sebagian adalah anak yang jauh dari kasih sayang. Masaya juga sempat menjalin hubungan dengan teman wanitanya, yang sayangnya tidak berakhir seperti yang diharapkan.

Oya, film ini adalah hasil adaptasi dari novel karya Lily Franky yang menceritakan kisah hidupnya. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari film ini. Mengenai hubungan ibu dan anak, cita-cita, kerja keras, dan yang lainnya.
Highly recommended!!

Dan satu lagi, jangan lupa sedia tissue kalau ingin menonton film ini.. ^_^