Tampilkan postingan dengan label hijab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hijab. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2009

Jilbabku..........

Saya sudah lupa kapan kali pertama mengenal jilbab. Yang jelas, sejak SD saya sudah mengenal yang namanya kerudung. Kalau ngaji, kalau hari raya, kalau ada acara keagamaan di kampung, Ibu selalu membiasakan saya memakai kerudung.  

Saya tidak menemui hambatan berarti saat akhirnya memutuskan untuk mulai mengenakan hijab saat memasuki SMA. Sewaktu SMP saya masih ‘polos’, belum ada niatan untuk memakai pakaian muslimah ini. Akan tetapi, saya sudah mulai memakai kerudung saat bepergian. Tidak selalu, tapi lumayan sering.

Saya masih ingat, waktu itu di SMP saya, yang notabene adalah SMP favorit di sana, hanya ada satu orang siswi yang mengenakan jilbab. Adik kelas saya. Ya, hanya dia seorang. Seingat saya, tidak ada di antara kakak kelas ataupun teman seangkatan yang mengenakan jilbab di sekolah kecuali satu orang itu.

Selepas SMP, saya mulai berniat mengenakan jilbab (kerudung mungkin lebih tepatnya). Apakah ada yang melarang? Tidak tentu saja. Semua orang mendukung. Saya masih ingat--bahkan waktu itu seragam sekolah yang baru belum juga selesai dijahit--saya mematut-matut diri di depan cermin, mengenakan kemeja putih lengan panjang Ibu, memakai kerudung putih milik Ibu juga, berpura-pura menjadi anak SMA berkerudung.

Singkat kata, saya pun masuk SMA. Selama masa MOS saya belum memakai seragam baru. Masih penampilan anak SMP, dengan dandanan ala MOS: rambut dikuncir, dlsb. Setelah masa orientasi selesai, kami yang sedang dalam euphoria memasuki masa SMA, mulai mengenakan seragam baru kebanggaan: seragam putih abu-abu. Selama masa itu, saya mulai menyadari: ternyata saya tidak sendiri. Banyak teman-teman, yang tadinya juga tidak berjilbab, ketika mengenakan seragam baru, mulai berjilbab (belakangan ketika saya naik kelas 3, semakin banyak teman-teman yang mulai berhijab.. Alhamdulillah..)

Tapi tetap saja. Ternyata, saya belum bisa sepenuhnya mengamalkan jilbab itu sepenuhnya. Saya memang mengenakannya saat sekolah dan bepergian. Tetapi ketika berada di rumah dan lingkungan sekitar (means, di wilayah desa ), saya melepasnya. Saya masih ingat, waktu itu saya sedang bermain di rumah salah seorang teman sekolah yang satu desa. Kami sedang berdiri di tepi jalan raya, ngobrol dengan santai. Tiba-tiba, saya melihat salah seorang teman laki-laki sekelas melintas di jalan, mengendarai motor. Spontan saya memanggil teman saya "Kikiiiiiiiiiiiii!!” Dengan tangan melambai-lambai. Sesudahnya, saya ingat kalau saya sedang tidak memakai jilbab.

Jilbab yang saya maksud pun waktu itu adalah jilbab penutup rambut saja. Kalau saya melihatnya kembali di rumah, saya akan senyum-senyum sendiri. Jilbabnya itu, pendeek sangat. Jilbab langsung yang hanya menutupi leher. Kalau sekarang, mungkin saya akan memakainya sebagai dalaman jilbab. Selain itu, saya juga masih suka pakai jeans dan celana.

Sampai akhir masa SMA, sampai ketika saya mencicipi kuliah di Jogja, saya masih suka memakai jilbab model seperti itu. Dengan jeans dan jaket favorit.

Lalu, akhirnya saya diterima di STAN. Sejak pertama kali memasuki kampus ini, saya sudah takjub. Banyak sekali cewek berjilbab lebar berkeliaran di sini. Saya ingat, dulu waktu SMA ada seorang mbak-mbak yang jilbabnya juga lebar, selalu pakai rok, kadang gamis, dan berkaos kaki. Saya selalu bertanya-tanya dalam hati: "memangnya tidak panas ya?"

Ketika saya akhirnya banyak menemui penampilan seperti itu di STAN ini, saya sempat terheran-heran. Kampus apa pesantren?? Tapi, sejak pertama kali itu pula, saya sudah menyukai mereka. Ya, saya begitu terkesan dengan sikap mereka yang ramah sejak daftar ulang.

Namun ternyata, saya masih juga dengan ‘apa yang saya bawa’  dari dulu. Tingkat satu, saya masih suka pakai celana. Olahraga, lari-lari minggu pagi di kampus pakai celana, ke warung pakai celana. Saya nyantai saja biarpun banyak teman yang proses hijrahnya begitu cepat (ternyata saya kebal juga). Tingkat dua, saya mulai membiasakan diri dengan rok. Mulai memakai kaos kaki. Mulai menggunakan jilbab yang sedikit lebih lebar, meskipun tidak selebar teman-teman yang lain. Mulai mencoba untuk berubah.

Sampai sekarang, saya masih terus berusaha. Berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Berusaha untuk selalu istiqomah dengan apa yang saya yakini. Saya masih belajar. Dan akan terus belajar, insya Allah…


 

Meski ku rapuh dalam langkah

Kadang tak setia kepadaMu

Namun cinta dalam jiwa hanyalah padaMu

Maafkanlah bila hati

Tak sempurna mencintaiMu

Dalam dada

kuharap hanya diriMu yang bertahta…

(Rapuh-Opick)



saya mohon doanya sahabat..agar selalu istiqomah di jalan ini...



*dalam rangka menyemarakkan tulisan tentang jilbab.. mumpung moment-nya pas ^^
tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis: Jilbab Pertamaku yang diadakan http://cambai.multiply.com/journal/item/339/Lomba_Menulis_Tema_Jilbab_Pertama_ku..._