Tampilkan postingan dengan label kehamilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehamilan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

Belanja keperluan bayi tahap 1




Beberapa minggu yang lalu, saya dan suami menyempatkan diri berbelanja kebutuhan bayi. Setelah berkali-kali gagal, akhirnya kami jadi juga pergi ke ITC Cempaka Mas. Waktu itu hari Minggu. Siang sebelum berbelanja, saya dan suami, serta sepasang suami isteri teman kantor suami pergi membesuk anak-teman kantor-suami terlebih dulu di RS Harapan Kita. Saat membesuk hari itu, hasil tes lab baru keluar. Dan Ivan, anak kelas 2 SD yang sudah beberapa hari menginap di RS itu dinyatakan positif terkena leukimia, stadium 1 :( Tidak ada raut sedih sama sekali di wajah Mbak Yuyun, sang ibu, meski kami tau dari rekannya yang lain, bahwa dia sering menangis. Sedih, takut, dan cemas tentu saja menggelayuti pikirannya. Tapi bagaimanapun, Ibu sepertinya pantang menangis di depan anaknya ya. Jadi saat kami datang, kami bercanda seperti biasa.

Sepulang dari rumah sakit, meski lelah, kami paksa diri untuk belanja. Kami pun meluncur ke ITC Cempaka Mas. Sesampainya di sana, kami sholat ashar terlebih dahulu baru setelah itu masuk ke dalam. Dari hasil gugling di internet, serta tanya sana-sini, saya putuskan untuk mencoba belanja di Audrey Baby Shop. tempatnya ada di lantai 3 blok F (kalau tidak salah). Begitu ketemu tokonya, saya dan suami hanya bisa bengong. Tempat itu full dengan perlengkapan bayi dan ibu menyusui. Satu lorong, berisi segala macam pernak-pernik. Karena bingung, selama beberapa menit saya hanya keluar masuk, pegang ini itu, tanpa tau musti memulai darimana. Tempatnya sedikit berantakan, dan banyak orang heboh dengan belanjaannya sendiri. Tapi pelayanannya cukup baik. Saya dihampiri seorang pelayan dan ditanya apa sudah ada yang melayani? Saya jawab belum, dan seorang mbak-mbak langsung menghampiri untuk membantu saya.

Sayangnya, hari itu saya tidak membawa catatan apa saja yang harus saya beli. Jadi, saya belanja berdasarkan feeling, hehe.. O iya, kami belanja untuk bayi usia 3 bulan. Dengan pertimbangan bahwa perlengkapan untuk newborn sudah dibeli oleh Eyangnya di Purbalingga. Nanti kalau sudah pulang kampung, kami berencana untuk berbelanja lagi.

Dan inilah hasil belanjaan kami waktu itu:
Bantal set babycare (terdiri dari 2 guling kecil dan bantal peang) (65.000/set)
Selimut topi babycare (@50.000)
Celana pop libby motif 6 bh (105.000/lusin)
Celana pendek libby motif 3 bh (130.000/lusin)
Celana panjang nova polos 3 bh (155.000/lusin)
Baju lengan pendek libby motif 3 bh (145.000/lusin)
Baju lengan panjang libby motif 3 bh (160.000/lusin)
Baju kutung libby polos (125.000/lusin)
Kaos kaki petite mimi 1 set (85.000/set)
Mama Pad 1 kotak (@40.000)

Masih sedikit yaa?
Rencananya barang2 tersebut mau ditinggal di kontrakan, dan mulai dipakai nanti sewaktu kami (saya dan dedek) sudah pulang lagi ke Jakarta.

Sekarang sedang asik berburu cloth diaper. Sementara masih browsing sana-sini, belum menentukan pilihan. Setelah itu, lanjut lagi perburuan segala macam perlengkapan asi dan ibu menyusui. Semangaaatt!!


p.s:
Moms, bantal menyusui perlu nggak sih? Trus, diaper bag apa butuh juga? Mengingat nanti kami harus melakukan perjalanan Purbalingga-Jakarta? Kalau bisa , sebisa mungkin segala yang butuh mau dibeli di depan. Soalnya kalau sudah cuti pasti jarang buka internet di kompi :D


*gambar pinjam dari sini


Selasa, 03 Januari 2012

My Little Baby Boy in The Womb


Saat di USG 4 dimensi seminggu yang lalu, saya dan suami sangat takjub melihat dedek di dalam perut. Dia bergerak tiada henti. Mulai dari menguap, menjilat tangan, menutup muka, meregangkan tangan (udah mulai sempit kamu Nak, di dalam sana?), dan lain sebagainya.

Ibu Dokter dengan sabar menjelaskan ini itu. Dan sekali lagi meyakinkan kami kalau dedek kecil ini adalah seorang cowok. "Tuuh, liat Monasnya keliatan.." yang membuat saya berpikir kalau ini bukan di Jakarta, apakah masih akan dibilang Monas? *plaks! nggak penting banget deh, haha!

Siang hari setelah setelahnya (kami ke RS malam hari), CD hasil USG pun jadi. Dan malam selanjutnya, kami menonton dedek lagi, kali itu dengan Eyang dan Omnya dari Purbalingga. Kebetulan mereka sedang liburan di Jakarta kemarin. Dan keluarlah komentar, katanya dedek mirip sayaaa. Emang pipinya chubby-chubby gitu miriip dengan saya, nggak ada miripnya sama suami yang berpipi tirus bin kurus. Hidungnya, kalau dari samping pun sepertinya mirip saya, tidak terlalu mancung. Tapi sepertinya kalau dilihat dari depan, hidungnya besar dan mbangir. Hmmm...  

Ayahnya sebel bener dibilang sang anak mirip dengan Bundanya. Apalagi waktu itu dia sendirian tidak ada pendukung. Hihi, peace Yah.. Kita lihat nanti saja, dedek kecil mirip siapa ;) Lagipula, bukannya anak bayi itu masih berubah-ubah wajahnya? Sebentar mirip ibunya, sebentar mirip ayahnya. Ah tapi, siapa mirip siapa itu tidak penting. yang penting, dedek baik-baik di dalam sana, dan lahir sesuai waktunya dengan sehat dan selamat. Aamiin :)


Tuh, liat pipinya yang chubby. He is soo sweet :-*

Kamis, 29 Desember 2011

Minggu ke-30: Tensi naik



Bulan Desember. Sudah saatnya kembali cek ke dokter kandungan. Kunjungan kali ini sebenarnya agak terlambat, mengingat 2 minggu yang lalu sudah mendaftarkan diri untuk cek, tapi ternyata saya dan suami tidak bisa datang. Akhir pekan kemarin juga sudah mendaftarkan diri, tapi kali itu dokternya yang tidak bisa karena cuti.

Akhirnya, karena ingin secepatnya, saya pun memutuskan untuk kontrol kandungan Rabu malam. Satu-satunya jadwal ibu dokter bersangkutan selain hari Sabtu pagi, dimana kami biasa datang.

Berangkat dari kantor jam 7 malam. Waktu telepon 2 hari sebelumnya dapat nomor antrian 26. Dan oleh susternya diperkirakan bakal kena giliran sekitar jam setengah sembilan malam. Lapangan Banteng-Tambak sebenarnya tidak jauh. Tapi jalanan sepanjang Salemba samapai Matraman biasanya macet pada jam pulang kantor. Benar saja, sampai di sana sekitar setengah jam kemudian. Langsung menuju kedai ayam goreng di sebelahnya karena sudah kelaparan. Sekitar jam setengah delapan lebih baru masuk RSIA Tambak untuk ngantri.

Eh tapi, kok sepi yaa? Waah, bakal dapet giliran cepet nih. Padahal waktu ngambil antrian di meja depan masih ada setumpuk nomer lumayan banyak. Tapi ternyata sampai seluruh proses selesai malam tadi, saya jadi pasien paling akhir. Mungkin sebagian tidak datang. Maklum, hari kerja dan sudah malam.

Begitu duduk di kursi tunggu, tidak lama kemudian dipanggil untuk cek tekanan darah dan berat badan. Sapertinya saya satu-satunya pasien di ruangan itu. Mbak-mbak sebelumnya sudah naik ke ruangan atas.

Ditimbang berat badan, 59 kg. Naik 3,5 kilo dari berat badan sebelumnya, dan 11 kilo dari berat badan awal kehamilan. Dicek tensi, 130/90. “Hmm…. Kok agak tinggi ya? Ibu barusan banget dateng ya?” tanya perawat. ”Mungkin masih deg-degan. Kalau gitu, duduk dulu aja. Nanti 10 menit lagi ditensi lagi ya Bu.” Oke, duduk manis lagi di kursi. Nonton tv sambil menunggu suami yang janji mau datang secepatnya. Paass, banget kemarin hp ketinggalan. Jadi tidak bisa komunikasi sama sekali. Untung suami datang tidak lama kemudian.

Sekitar 15 menit kemudian, perawat memanggil lagi. Dicek lagi tekanan darah. Tetap. Tidak ada perubahan. ”Mm... mungkin nanti dikasih resep sama Ibu Dokter” kata si mbak sambil tersenyum. Okee, dari pengalaman membaca dimana-mana, tekanan darah yang tinggi pada ibu hamil bukan pertanda bagus. Tapi tetap saja dokter yang lebih tau, jadi saya hanya tersenyum berterima kasih, lantas naik ke lantai 2, ke ruangan ibu dokter.

Waktu datang, masih ada sepasang sejoli yang menunggu di ruang tamu. Di dalam masih ada pasien. Jadi kami bakal masuk setelah sepasang sejoli tadi, hihi.

Setelah menunggu sekitar setengah jam, kami akhirnya masuk ke ruangan ibu dokter cantik itu. Setelah memeriksa rekam medisnya, beliau berkomentar, ”Kok tensinya naik? Makan apa hayo?” Saya hanya senyum-senyum. Perasaan nggak habis ngapa-ngapain deh. Setelah itu, ibu Dok menjelaskan ini, itu, pre eklampsia, dan sebagainya. Dan dapatlah saya saran untuk mengurangi konsumsi garam, makanan manis, goreng-gorengan, makanan bersantan, serta menambah makan sayur dan buah-buahan. Eh tapi, baru tau lhoo, ternyata mangga tidak terlalu recommended, karena...emmh... mengandung kolesterol (?) *lupa-lupa ingat penjelasan ibu Dok. Untuk buah, sebaiknya jeruk atau kiwi.

Setelah itu dilihat lagi keluhan yang lain, yaituu mual muntah (lagi) di trimester terakhir ini (selagi menulis ini, barusan saya lari dari kamar mandi dan mengeluarkan semua makanan yang masuk dari pagi, yaiks!). Beliau bilang, mual muntah bisa saja terjadi karena tekanan, bisa juga dari maag. Jadi, beliau meresepkan obat maag untuk cek kali kemarin.

Setelah puas ngobrol-ngobrol, ibu Dok membimbing saya ke balik tirai. Ngapain??? Mau liat si dedek kecil. USG. Sembari beliau melihat kaki saya dan bilang kalau kaki saya baik-baik aja tuh. Tidak ada bengkak sama sekali.

Lalu setelah menyingsingkan baju, saya pun menunjukkan stretchmark yang mulai menghiasi perut bagian bawah saya. Dan dia pun hanya berpesan, beli saja cream anti SM. Ada banyak di apotek. Merknya terserah. Yang penting, harus rajin mengoleskannya. Setiap saat. Tidak hanya sesudah mandi saja. Saya hanya nyengir.

Saat di usg 2 dimensi itu, saya bilang kalau saya pengen usg 4 dimensi. Ehh, tidak taunya beliau malah bilang, ”Sekarang aja ya kalo gitu. Soalnya kalo udah tambah gede, nanti tambah susah liatnya. Tapi diukur dulu ya perkembangan dedeknya..” Waah, senaaanng. Akhirnya malam itu bisa lihat wajah jagoan kecil kami juga.

Perkembangan dedek di usia 30 minggu, beratnya mencapai 1,5 kg. Normal. Alhamdulillah. Organ-organ dalam bagus. Alhamdulillah. Setelah itu, dilihat grafik aliran plasentanya. Normal.

Eh looh, tapi? Kok sang suami nggak ikut lihat? Dia masih asik di balik tirai. Mungkin canggung karena biasanya Ibu Dok tidak memakai ruangan tersebut. Setelah dipanggil, baru dia masuk ke balik tirai dan ikut mengamati gambar di layar. Tapi saking asiknya, kami sampai lupa memfoto saat Ibu Dok memulai usg 4 dimensi. Dan tidak bilang juga kalau mau dicetak. Jadi hanya dapat CDnya saja, huhu...

Selesai semua aktivitas bareng ibu Dok, saya diminta sekalian cek urine di lab. Akhirnya turun ke bawah, buat ngambil sampel urin. Tapi karena antri toilet (entah ada orang di dalamnya atau tidak, hihi), kami jadi agak lama. Dan waktu hasil labnya keluar, ternyata ibu Dok sudah pulang. Ya sudahlah, besok waktu cek lagi dikonsultasikan lagi hasil labnya. Semoga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Seharian ini, rasanya sudah memenuhi hari dengan pikiran negatif. Walaupun sudah berkali-kali mensugesti untuk take it easy, ternyata hal itu tidak mudah. Akibatnya, makanan yang masuk keluar lagi semua. Stress siihh.. Ayo semangat! Gimana mau nurunin tensi kalo stress masih berlanjut? Pasrahkan semuanya hanya kepada Allah.. Nothing to be worried. Okay? ;)


P.S:
dan untuk biaya total tadi malam, konsultasi dokter, USG 4 dimensi, 4 macam obat-obatan, dan cek lab, ternyata hanya habis Rp 733.000,00. Padahal sudah negatif thinking saja bakal lebih dari satu juta. Ternyata alasannya karena ibu Dok (tempat kami biasa cek itu) bukan spesialis yang biasa melakukan usg 4 dimensi. Jadi, biayanya lebih murah *urut dada karena lega. Mana dibilang plafon asuransi untuk melahirkan sudah Rp 0,00 pula. What?? Padahal baru sekali itu mau memakainya . Memang sengaja selama ini tidak pakai asuransi dengan pertimbangan asuransi itu akan dipakai pada saat lahiran nanti. Ternyata oh ternyata, pada waktu tes TORCH dulu, di sana tercatat sebagai pengeluaran untuk persalinan normal. Dan sepanjang tahun ini, saya dinyatakan sudah melakukan 2x persalinan normal: waktu kuretase di kehamilan pertama, dan tes TORCH di kehamilan kedua *tepok jidat. Untuk urusan yang satu ini, biar suami aja deh yang mengurus nanti. Semoga masih rejekinya dedek yaa :))


Senin, 06 Juni 2011

Ngobrolin Kehamilan



Mbak-mbak sekretaris yang baru, menggantikan mas-mas sekretaris yang selama ini jadi partner, saat ini sedang hamil. Sebenarnya, kehamilan si mbak penerimaan S1 ini selisih 1 bulan dengan kehamilan kakak Azka dulu. Kalau saya diketahui hamil bulan Februari, mbak ini ketahuan hamil tak lama sesudah saya keguguran, sekitar akhir Maret. Dan sekarang kehamilannya sedang memasuki bulan keempat. Tak terasa ya. Waktu berjalan begitu cepatnya.

Awalnya, kami ngobrol tentang cuti kehamilan yang akan diambilnya di pertengahan November. Kalau mengingat saat itu akan tiba, malah saya yang deg-degan. Soalnya itu berarti saya harus menjadi single fighter secretary selama 3 bulan, sepanjang cuti bersalinnya. Semoga semua berjalan baik-baik saja selama tiga bulan nanti. Dan kalau saya mengingat, seandainya kakak Azka masih ada (tidak untuk menyesali keadaan, sama sekali tidak), berarti HPLnya sekitar Oktober, dan itu berarti kedua sekretaris bakal tidak ada di tempat selama 3 bulan. Waah, kalau itu yang terjadi, siapa yang bakal kelimpungan ya? Heuuu...

Ngobrol ini ngobrol itu, kita lantas saling bercerita tentang kebiasaan datang bulan. Dan mbak itu bilang, katanya 3 bulan terakhir sebelum kehamilan, siklus menstruasi biasanya teratur. Awalnya saya yang yang bercerita kalau siklus bulanan saya kali ini sedang tidak teratur. Alasannya karena kecapekan. Dan mbak tersebut menyarankan, agar jangan capek-capek, biar programnya berhasil. Dan memang setelah diingat-ingat, sebelum hamil dulu, siklus menstruasi saya teratur.

Kalau dirunut ke belakang, waktu awal menikah, saya memang kelayaban kesana-kemari. Kondangan kesana-sini. Sempat, beberapa bulan di awal pernikahan itu, saya dan suami mbolang ke Jember, ke Solo, atau ke Magelang, hanya untuk kondangan. Ada yang naik turun bis, ada yang naik turun pesawat, atau cuma duduk manis di dalam mobil. Saya ingat terakhir kali saya menstruasi adalah saat kami sedang pulang dari perjalanan ke Magelang, dan sedang mampir di pasar batik Pekalongan. 2 minggu sebelumnya, kami jalan ke Solo. Saat itu saya benar-benar merasa kelelahan. Dan benarlah, biasanya kalau kelelahan saya 'dapet'

Setelah itu, si mas bilang, intinya: 'mulai sekarang, kita istirahat dulu. nggak kemana-mana. biar kamu nggak kecapekan'. Dan, sebulan lebih kemudian, saya dinyatakan hamil. Meskipun harus keguguran di tengah jalan.

Oya, sebelumnya saya juga pernah diurut oleh tukang urut (ya iyalaah, masa diurut sama tukang sayur?)-waktu itu karena leher saya kecetit, eh malah jadi diurut seluruh badan- dan dia bilang kalau rahim saya lemah. Hmm.. Wallahu a'lam. Saya juga tidak tahu penjelasan secara medisnya dia tahu darimana. Karena itu, saya diminta untuk menguatkan rahim dengan makan makanan tertentu dan menghindari makanan tertentu secara berlebihan (buah dan sayuran). Dan sewaktu dia datang urut kedua kalinya, dan tahu saya habis keguguran, semakin banyaklah ceramahnya. Yah, intinya, saya dilarang bercapek-capek ria.

Saya sendiri sering heran, saya kok suka banget capek-capekan kesana-kemari. Contohnya saja liburan kemarin. Di tengah liburan, saya sempat bilang ke mas: 'waah, kalau capek-capek kayak gini, biasany dapet nih'. Dan lagi-lagi, dua hari kemudian, dapet beneran.

Jadi, mulai sekarang, sepertinya harus membatasi aktivitas nih. Karena Juni ini sudah 3 bulan sejak dikuret. Dan itu berarti sudah boleh merencanakan kehamilan lagi. Untuk semuanya sih, saya manut saja sama Allah. Karena Dia yang Maha Memberi, Maha Menjaga, Maha Mengatur segalanya. Pasrah saja. Yang penting, tetap jaga kesehatan dan stamina. Ya to?


*picture from google