Sabtu, 06 Februari 2010
Maumu apa, Sayang? ^_^
"Kok kayak gitu"
"Mau apa sayang?"
"Mau minum susu? Iya? Kamu mau minum susu?"
"Jangan ribut dong..masih ada tamu. Ya?"
"Oh..mau naik pohon dulu.. Naik pohon, ya sayang?"
"Iya..nah.. Udah? Ya, jangan berisik ya sayang..."
*pagi ini, di ruang depan, sambil tersenyum-senyum mendengar percakapan antara Ibu kos dan beo kesayangannya
Senin, 05 Oktober 2009
Dan akhirnya pertahananku jebol juga...
Kamis, 10 September 2009
Nostalgia
“ Kita bikin nama buat kos kita yuk?” kata Ambar sore itu.
“ Ayuk. Dari dulu juga
“ Masa kos kita nggak punya nama? Nggak kayak tempat laen tu, namanya bagus-bagus. Manna, Salwa, Salsabila, Tadzkiya…” kali ini Anis yang angkat bicara.
“ Habis, gimana ya? Dari dulu tempat kita ini
“ Hmm.. kira-kira kalo dikasih nama, apa ya yang bagus?” kata Ambar.
Suasana hening.
“ Gimana kalo Semuj?” Susi akhirnya buka suara.
“ Hah?!! Apaan tuh? Aneh banget?”
“ Sebelah Mujahidin. Pasti langsung pada tau tuh. Mushola Mujahidin
“ Ih, yang bagusan dikit napa?”
“ Gimana kalo Naas ajah? Singkatan dari Nanda, Anis, Ambar, sama Susi,”
“ Sial terus dong!”
“ Haha!!!”
“ Kalo mau kasih nama, yang ada artinya dong. Yang bermakna,” kata Susi.
“ Gimana kalo kita ngambil dari nama
“ An Nisa. Artinya kan wanita. Gimana?” Ambar buka suara.
“ Ah, itu terlalu biasa. Nggak spesial.”
“ Emm..kalo Al Baqarah..”
“ Sapi betina?”
“ Kan unik tuh?”
“ Iya. Ntar kalo ada yang nanya: Kosnya dimana? Di Al Baqarah. Kan keren..”
“ Heee…. Ngaco aja!”
Itu adalah ilustrasi percakapan yang terjadi kurang lebih 2 tahun yang lalu di antara aku dan anak-anak kos (nama sengaja disamarkan :D). Saat itu kami ingin menamai kos kami dengan sebuah nama yang bagus, karena memang kos kami hanya dikenal dengan nama Alm. Bapak Kos kami. Namun, pada akhirnya kos ini tidak diberi nama dan dibiarkan terkenal dengan sebutan “Kos bu Dilla”---bu Dilla, istri dari bapak Abdila..
(Belakangan, kami memikirkan untuk menamai kos kami lagi, kali ini dengan nama Wisma Cantik (narsissss). Hey, tapi kok…singkatannya jadi WC??? Jadilah nama itu pun gagal kami resmikan).
Sampai sekarang, kos kami tetap tanpa nama.
*****
Tidak ingin mellow-mellow, tapi pikiran ini tiba-tiba terselip di antara euphoria pulang kampungku. Saat sedang membereskan kamar dan tiba-tiba teringat bahwa ini mungkin kepulanganku yang terakhir dari kos ini (segera, setelah kembali ke kampus, aku dan teman-teman akan pindah kos).
Jadi teringat dulu, saat awal-awal kos.
Ada begitu banyak moment yang tidak mungkin aku lupakan di sini.
Saat kelahiran Nico. Malam sebelumnya, Ibu sekeluarga pergi menonton di bioskop. Bersama mbak Risma dan suaminya. Mereka menonton film Kuntilanak. Esoknya, mbak Risma ke rumah sakit karena akan segera melahirkan. Ibu menginap. Kami ditinggal di kos.
Setelah itu, selalu dijadikan perbincangan ringan di antara kami, Ibu, dan juga anak-anak beliau: Nico lahir karena nonton film Kuntilanak itu ^^
Ada juga saat ketika kami satu kos yang sedang santai menonton TV sambil ketawa-ketiwi lari lintang pukang, masuk ke pintu kamar terdekat karena tiba-tiba Pak Haji, salah satu tokoh masyarakat di sini masuk kos, sambil memanggil-manggil Ibu. Sekarang beliau sakit, sudah lama, dan tidak pernah terlihat lagi. Begitu juga salah seorang tokoh masyarakat lain, Pak Haji yang rumahnya ada di sebelah musholla, kini telah wafat. Padahal dulu kami sering melihat dan menyapa beliau di depan kos.
Lalu, pernah juga kejadian. Waktu itu Rahma sedang ngobrol dengan beberapa temannya di teras (kalau tidak salah, 2 cowok, 1 cewek). Tiba-tiba, mereka berteriak-teriak dan lari masuk ke dalam kos. Waktu itu kami sedang dalam formasi lengkap. Anak-anak kos dan 2 orang anak Ibu yang lain sedang menonton TV. Spontan kami semua lari menuju kamar-kamar yang terbuka. Mencari tempat bersembunyi, karena kami tidak memakai jilbab.
Aku, Mbak Rissa (anak ibu yang juga seorang akhwat), Ririn adiknya, dan salah seorang teman kosku langsung masuk ke pintu kamarku yang terbuka. Kami segera menutup pintu itu. Tapi apa yang terjadi?? Salah seorang anak cowok itu menggedor pintu kamar ingin ikut masuk. Spontan mbak Rissa menahan pintu kamar. Jadilah mbak Rissa dan anak cowok itu dorong-dorongan di depan pintu. Sementara aku dan temanku sebisa mungkin menyembunyikan diri di pojok kamar supaya tidak terlihat.
Gedoran mereda. Sepertinya anak cowok itu lari ke tempat lain.
Semenit, dua menit, kami yang di dalam kamar menunggu. Terengah-engah dan mengomel soal cowok yang mau masuk kamar. Bertanya-tanya apa yang sebenrnya terjadi di luar sana.
Akhirnya kehebohan pun mereda. Kami keluar dengan hati-hati. Usut punya usut, ternyata anak-anak itu tiba-tiba lari masuk ke dalam rumah karena salah seorang di antara mereka mengaku melihat “sesuatu” di jalan, dan di atas tembok pembatas musholla. Katanya, anak itu memang punya “penglihatan”.
Kami semua heboh. Ya ampuuuun…jadi tadi teriak-teriak sambil lari-lari itu karena ketakutan tho?? Jadilah setelah itu kami membahas mengenai hal-hal yang horror.
Tak terasa, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Mbak Risma hamil lagi, sementara Nico baru berumur satu tahun. Dan kami masih berada di sini.
Lalu, mbak Risma melahirkan anak keduanya, dan kami juga masih di sini. Sekarang, Keira (adik Nico) sudah sangat aktif merangkak ke sana kemari. Sudah mulai “rambatan”. Tidak bisa diam. Dan kami masih juga di sini.
Akan tetapi, ada juga saat-saat menegangkan yang terjadi. Seperti ketika musibah pencurian itu terjadi. Dan beberapa di antara kami harus kehilangan barang-barang berharganya. Atau saat ketika kebun belakang (katanya) kebakaran cukup hebat, sehingga anak-anak lari keluar menyelamatkan beberapa barang mereka dari kebakaran yang mungkin merambat ke kos.
Semua itu akan jadi kenangan tak terlupakan kami di sini. Dan akan kusimpan baik-baik kenangan itu dalam buku ingatanku, dan akan kuingat bahwa ada sebuah keluarga lain yang kumiliki di sini. Dan keluarga akan selalu menjadi keluarga.
Rabu, 01 Juli 2009
Musibah
"Ada apa?"
Temanku masih panik, semakin bertambah panik.
"Laptopku....Laptopku ilang!"
Hah!! Masih dalam kondisi terkejut karena bangun mendadak, aku langsung mengikutinya ke kamarnya.
"Tadi ada di situ...!" katanya sambil menunjukkan tempat dia biasa meletakkan laptop.
Benar saja, di sana sudah tidak ada laptop, di kamarnya dimanapun tidak ada. Hanya ada kabel charger dan mouse.
"Pintu belakang kebuka..Pas aku liat di kamar, aku baru sadar, ternyata laptopku ilang..." katanya lagi sambil masih terisak dan panik.
Seketika lemaslah persendianku..
Ya Allah..kami baru saja kemalingan!
Langsung kami bangunkan teman kos yang lain, dan tak lama timbul kehebohan kecil. Lalu datang seorang adik kos ikut bergabung.
" Kenapa Kak??"
" Laptop Mei ilang..diambil pencuri.."
Adik kosku itu tiba-tiba ikut panik, dan memintaku menemaninya kembali ke kamar. Dan tak lama kemudian..
" Huwaaaa!!! Laptop Ria juga ilaaang!!"
" Uang Ria yang di meja juga ilaang..!!"
Dan timbul kehebohan yang semakin besar. Semua terduduk, lemas. Yang kehilangan masih tampak terpukul. Menangis, terisak, telepon rumah.. Dan kami yang lain berusaha menenangkan..
Ya Allah....dua penghuni kos kami kehilangan laptopnya.. Kehilangan uang..
Ini jelas ada maling masuk..
" Bangunin mbak Ica..!" usul salah seorang dari kami (Mbak Ica adalah salah seorang anak Ibu kos kami). Mbak Ica kelihatan shock. Rumahnya kemalingan saat dia seorang diri di kos. Ibu sedang menginap di rumah mbak tertua, dua adiknya ikut. Tiga hari ini memang hanya ada dia yang menemani kami, anak-anak kos di rumah ini.
Kami berkumpul bersama. Berenam dengan mbak Ica, kami membicarakan kejadian yang baru saja terjadi. Kami sepakat berpendapat kalau maling itu sudah lama mengintai. Dan dia akhirnya beraksi saat tahu Ibu kos kami sedang pergi.
Saat itu, tiba2 aku ingin mengecek kamarku juga.
Dan benarlah...ternyata aku juga kehilangan sesuatu. Salah satu HPku hilang. HP yang satunya lagi selamat karena kutaruh di tempat tidur.
Lalu, adik kosku, Ria juga mengecek kembali barang2nya.
" Dompet Ria juga diambiiil!!"
Jadi, dini hari tadi, kami kehilangan 2 laptop, 1 HP, dompet, dan uang.
Walaupun begitu, aku masih sangat bersyukur..
Laptopku yang kuletakkan di atas meja masih berada di tempatnya, masih bertengger manis di atas sana saat aku terbangun.
Aku juga sangat bersyukur, kami semua selamat. Maling itu tidak melakukan apa-apa pada kami. Kami masih dilindungi..
Tidak terbayang bagaimana seandainya si maling membawa senjata tajam..
Tidak berani aku memikirkannya..
Sampai subuh tadi, semua sudah kembali tenang. Kami sudah ikhlas, meskipun aku tahu berat rasanya kehilangan. Kami bisa tertawa lagi. Apalagi Ria, yang memang suka heboh.
" Kakaak, temenin ke belakang.."
Aduuh..ni anak..
" Kamu diketawain malingnya kalo gitu, Ria. Kamu itu harusnya marah, bukan takut.." kata mbak Ica. Sepertinya beliau merasa bersalah. Anak-anak kos harus kehilangan saat hanya ada dia seorang diri di kos.
" Aku sekarang marah.." katanya lagi.
Mungkin ini peringatan Allah, agar kami senantiasa harus berhati-hati. Mungkin ini teguran, cobaan bagi kami. Dan pasti, ada hikmah di setiap peristiwa. Insya Allah..
Semoga, kami diberi kesabaran.
NB: Dompet Ria tak sengaja kutemukan waktu menemaninya ke belakang. Sepertinya, maling itu meninggalkannya di sana saat tahu tak ada uang di dalamnya. Dasar pencuri! Fiuuuh....semoga Allah memberimu hidayah..
link:
littesizt