Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

Tidak ada SINETRON yang sempurna....

Kali ini kita ngobrolin perihal sinetron ya?

Iya, itu looh, sinetron ala Indonesia yang ceritanya sebagian besar idenya berkutat dalam kisah gadis cantik miskin-yang ternyata adalah putri seorang kaya, perebutan kekuasaan, anak yang tertukar, atau kehidupan cinta remaja SMA, kadang dibumbui dengan derita yang tiada henti. Yang anehnya, itu sinetron walaupun semakin lama semakin tidak jelas jalan ceritanya, dia punya episode panjaaaang dan hanya Tuhan dan produser yang tau kapan tamatnya.

Okey, stop pembahasan mengenai sintron ala Indonesia. Yang saya ingin bahas sekarang adalah sinetron yang sedang jadi favorit saya. Dan itu adalah: "Islam KTP" dan "Pesantren dan Rock 'n Roll"

Baiklah, kita bahas satu-satu dulu:

1. Islam KTP


Sinetron yang satu ini tidak punya inti cerita. Tidak membawa ide tertentu. Bukan kisah percintaan yang bisa dinantikan bagaimana nanti endingnya. Sinetron ini bebas, punya cerita yang berbeda-beda dan berganti tema setiap harinya. Sebebas tokoh-tokoh di dalamnya yang tidak jelas apa pekerjaannya. Kalau kata saya "Orang-orang di sinetron ini pada nggak punya kerjaan ya? Kerjaannya kok tiap hari keliling kampung. Keliling ke sana kemari. Kalo ketemu orang, trus ngobrol-ngobrol."

2. Pesantren dan Rock'n Roll


Sebenarnya, banyak hal yang menggelitik saya saat nonton sinetron ini *aduuh, tiap kali nonton capek dong ketawanya?? Bukaan. bukan digelitikin itu maksudnyaaa, tapii..membuat jiwa komentator sinetron saya gatal ingin protes. Ya, ya, ya, memang judulnya mengandung kata 'pesantren', ceritanya juga bersetting pesantren. Tapi, saya-walaupun tidak pernah hidup di pesantren, mengunjunginya pun nyaris tidak pernah-yakin kehidupan pesantren tidak seperti itu:

-santri dan santriwati bercampur baur. bebas berkeliaran. ngobrol bebas satu sama lain

-Wahyu (kalo yang belum tau nih, dia itu tokoh utamanya) kok bisa tiba-tiba bawa teman-temannya ke kehidupan dalam pesantren? Dan gaya mereka itu..... memangnya boleh diterapkan di pesantren?

-Mas Najib alias Masbro (kalo yang belum tau lagi, dia ini rivalnya Wahyu), yang notabene santri senior pengurus pesantren, masa punya tingkah laku yang sama sekali tidak mencerminkan keseniorannya, apalagi kesantriannya. Ditambah ulah dua anak buahnya. Deuuh... (namanya juga sinetron, pasti butuh tokoh yang menghibur kali yaa)

-kisah cinta di pesantren ini. Tidak setuju! Apalagi melibatkan putri pimpinan pesantren, namanya Nada. Hubungan Wahyu-Nada-ditambah Mas Najib yang mati2an merebut hati Nada, sepertinya bukan pesantren sekali.

OK. Seperti yang sudah saya bilang di judul, tidak ada sinetron yang sempurna. Tapi, saya tetep ngefans sama dua sinetron ini. Kenapa? Soalnya banyak 'ceramah' ustadz di sini. Ceramah yang disisipkan dalam dialog-dialog antar pemainnya, atau ceramah berbentuk pengajaran dari ustadz di dalam kelas di pesantren. Saya sukaaa bagian itu. Menurut saya, itu bagus sekali. Di luar semua ketidaksepakatan saya tentang jalan cerita, selalu ada hikmah dan pembelajaran di setiap episode-episodenya.

Seperti episode yang lalu, saat ada pembahasan mengenai Surat Ar Rahman, atau semalam, saat ada pelajaran mengenai berbakti kepada kedua orang tua. Suka pokoknya. Apalagi gaya ceramahnyanya tidak membosankan. Mungkin karena itu disisipkan di antara jalan cerita yaa.. Coba kalau kita disuruh mendengarkan kajian selama dua jam penuh..yang ada kantuklah yang muncul, heheh.....


Ya sudahlah..
cukup sekian pendapat saya tentang dua sinetron itu. Kapan-kapan kita sambung lagi.. *yakin An?? enggak sih..heheheh

Intinya, kita ambillah hikmah dari apa yang kita tonton sehari-hari. Yang jelek-jelek?? Buang ke laut aja kali yeee





Minggu, 25 Oktober 2009

ANTARA AKU, KAU, DAN DIRINYA

Mungkin ini sudah sering dibahas oleh banyak orang, saya sendiri pun pernah membahasnya.
Dan sekarang, saya ingin kembali membahasnya. Bukan apa-apa, tapi setiap kali saya melewati daerah Stasiun Pondok Ranji-bahkan jika hanya membayangkannya saja-saya akan langsung teringat dengan sosok2 mereka, anak2 jalanan yang menyodorkan tangan meminta belas kasihan.

Mungkin diantara kita sudah menjadi rahasia umum, kalau para anak jalanan itu 'bekerja' bukan tanpa alasan. Hmm.. Jangan2, mereka adalah anak buah preman sekitar. Tanpa disadari, kadang kita akan berpikiran seperti itu.
Atau kalau di STAN, saya ingat sekali dulu ketika masih jadi penghuni baru kampus ini, saya tertegun-tegun dg banyaknya anak peminta-minta di sekitar kampus. Lalu muncul imbauan-imbauan: jangan dikasih nanti uangnya buat main PS, kasih makanan aja biar ga mubadzir, dan lain sebagainya.

Lalu, suatu ketika, saya diingatkan oleh salah seorang saudara.
"Urusan kita adalah ketika kita disodorkan kesengsaraan di hadapan kita. Apakah hati kita tergerak ataukah tidak? Ketika kita memberi, maka itulah yang akan dilihat Allah. Sisanya, biarlah menjadi urusan mereka denganNya"
Kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi itulah maksud yang saya tangkap. Bahwa pada saat itu, ketika hati nurani kita yang penuh pertimbangan memilah2, mana yang baik mana yang tidak. Mana yang bijaksana mana yang tidak.
Maka cukuplah. Masalah preman2 itu, masalah uang itu akan dipergunakan untuk apa, itu adalah pertanggungjawaban mereka di hadapan Allah kelak. Urusan kita hanya dengan apa yang tersaji di depan mata kita.
Karena sekali pun, kita tidak pernah tahu sebenar-benarnya alasan mereka melakukan pekerjaan itu.

Lalu, ada lagi satu yang senantiasa saya ingat dalam nasihat itu
"Bukankan kita sedang BERDAGANG dengan Allah? Maka juallah apa yang TERBAIK darimu, agar Dia membelinya dengan SURGA"





Semoga kita bisa memberikan yang terbaik untuk mereka..lebih baik lagi dari pemberian2 itu, yang akan membawa manfaat bagi mereka dan masyarakat..


*aku, yang masih terus belajar*