“ Nak, sedang apa? Sama siapa? Sudah makan belum? Udah sore mandi dulu ya?”
Percakapan seperti itu akhir-akhir ini sering saya dengar dari balik sekat yang membatasi ruangan kami, staff TU, dengan ruangan Ibu Direktur. Tentu saja, yang berbincang adalah sang Ibu Boss dengan anak tercintanya.
Wanita karir. Ya, mereka yang bekerja keras, sama seperti kerjanya para laki-laki di luar sana. Yang menghabiskan waktu sebagian besar dengan berada di luar rumah, meninggalkan keluarga dan anak tercinta.
Wanita karir pertama yang saya kenal sejak masih kecil adalah Ibu. Ya, Ibu saya. Beliau hanyalah seorang guru. Seorang guru, yang menghabiskan waktu sampai siang hari di sekolah. Waktu yang dihabiskannya di luar, kalau dibandingkan dengan wanita-wanita karir yang mengelilingi saya saat ini, masih jauh lebih sedikit. Tetapi bahkan pada saat itu, dengan jiwa kanak-kanak yang selalu ingin dimanja dan diperhatikan, saya merasa kalau Ibu adalah wanita yang sibuk.
Saya sering dititipkan di rumah Eyang, sewaktu-waktu kalau beliau ada penataran di luar kota. Selain itu, Ibu juga sering pulang sore. Entah ada kegiatan di sekolah, entah les, entah apalah yang pada masa itu saya tidak peduli.
Setiap hari, sepulang sekolah, saya berada di rumah seorang diri, begitupun adik saya. Kami terbiasa mendapati rumah dalam keadaan kosong. Kami terbiasa ganti baju sendiri, pergi bermain sendiri, dan menonton TV sendiri, sebelum akhirnya Bapak dan Ibu pulang dari sekolah-bapak saya juga seorang guru. Kesendirian macam itu masih sering saya rasakan sampai kemairn-kemarin, saat saya masih punya banyak waktu luang yang dihabiskan di kampung halamn tercinta.
Lalu, ketika akhirnya saya beranjak dewasa, saya mulai mengenal wanita-wanita karir di luar, dengan jadwal yang jauh lebih padat dibandingkan dengan jadwal Ibu saya.
Lalu ada lagi, seorang mbak yang baru saya kenal di kantor ini. Dia baru saja melahirkan. Anaknya berusia dua bulan kalau tidak salah. Setiap hari, saya melihatnya datang sebelum jam delapan dan pulang lebih dari jam 5 sore. Anaknya yang bayi itu dirawat oleh sang Ibu. ASI memang masih alami, tetapi minumnya dari botol. Setiap hari sudah disediakan di kulkas, tinggal menghangatkan sewaktu-waktu kalau si baby mulai lapar.
Lalu ada juga Ibu Direktur, yang datang sekitar jam delapan pagi dan pulang malam setiap hari. Tak pernah sampai rumah sebelum matahari masih bersinar saya rasa, hehee….
***
Tumben kali ini saya nulis yang bukan curhatan pribadi.
Maaf kalau paragraf terakhir ditulis dengan ke-sotoy-an tingkat tinggi. Maklum, saya kan bukan seorang Ibu. Tapi yang pasti, mother wanna be
Hihi.. udah ah..
Cukup sekian dan terima kasih