Mbak Imaaa, pempeknya baruu aja nyampe. Udah ga sabar nih, pengen buru-buru ngerasain :D
Kamis, 24 November 2011
Rabu, 23 November 2011
Perjalanan menemukan rumah idaman (bagian 2)
Haii? Halloo??
Apa kabar rumah idaman kami?
Sedikit cerita tentang suka duka pencarian rumah idaman kami, yang sepertinya sampai saat ini belum mengalami kemajuan berarti. Setelah berjuang sendiri, mencari info lewat internet, juga teman-teman, akhirnya ayah menggunakan jasa agen untuk mendapatkan informasi rumah. Sudah sekian minggu berjalan. Sudah sekian info yang dikirimkan lewat email, tapi belum juga ada yang sreg di hati.
Terakhir, kemarin minggu ayah bertemu dengan seorang agen. Agen ini juga bukan tanpa koneksi sama sekali. Jadi, isteri-teman kantor-ayah punya nasabah-nasabah yang bekerja di bisnis properti. Melalui temannya itulah, ayah mendapatkan info tentang perumahan-perumahan. Kata temannya, "Bilang saja, kenal dengan Ibu X" Ibu X itu adalah isteri teman ayah ini. Bingung?? Hahaha..abaikan.
Minggu pagi, ayah janji bertemu dengan seorang agen untuk melihat soft launching sebuah perumahan di kawasan Serpong. Saya tidak ikut. Apalagi pagi itu, hujan kecil sempat meramaikan suasana. Ayah bawa motor dari kontrakan sampai Bintaro sektor 9. Saya sebenarnya tidak tega melepasnya pergi sendiri, soalnya dia tidak hapal daerah Bintaro. Akhirnya setelah meyakinkan diri dengan melihat rute yang akan dilaluinya lewat google maps, ayah pun berangkat. Tak lupa doa restu dari isteri turut mengiringi keberangkatannya.
Sepanjang siang, setelah ayah sampai di Bintaro sana, kami pun berkomunikasi via bbm. Ayah pergi dari satu perumahan ke perumahan lain ditemani sang bapak agen untuk melihat-lihat. Sesekali dia mengirimkan foto perumahan yang tampak masih dibangun.
Siang menjelang sore, saya tiduran di kamar depan. Tang-tung-tang-tung suara bb dari ruang tengah tidak saya pedulikan. Sekitar satu jam kemudian, ayah pulang ke rumah. Dia cerita kalau sempat nyasar. Langsung saya buka bb. Ternyata ayah yang bbm, bilang kalau dia kebingungan di jalan. Kasihaan... Tidak nyasar sebenarnya. Hanya dia tidak tau sedang ada di daerah mana. Akhirnya mampirlah dia di warung padang untuk makan. Begitu ceritanya.
Ayah pulang tidak dengan ekspresi kegembiraan. Sepertinya dia belum menemukan perumahan yang cocok. Malam itu kami bercerita tentang pencarian ayah. Ada satu tempat yang dia suka. Perumahan dekat dengan stasiun, jalan kaki pun bisa. Jumlah rumahnya hanya sekitar 30an. Daerahnya tenang, tapi begitu keluar sedikit langsung masuk ke keramaian. Ada pasar juga di sekitar situ. Hanya mendengar dari cerita ayah, entah kenapa saya langsung sreg, meskipun belum pernah melihatnya secara langsung. Tapi...penawarannya masih terlampau tinggi untuk kami. Kami bicarakan berbagai alternatif. Akhirnya kami pikir kami akan mencari yang lain dulu, sambil masih menyimpan pilihan yang satu itu di dalam hati. Siapa tau kami dapat meraihnya. Kalau memang jodoh, Allah pasti memberi jalan.
Pencarian pun dilanjutkan. Sementara dengan mengandalkan internet dan email-email dari agen. Puncaknya 2 hari yang lalu. Saya capek. Sepertinya kami tak kunjung menemukan apa yang kami inginkan. Saya pun marah-marah ke ayah via hape, siang hari, di kantor. Saya bilang saya sudah tidak mau tau lagi urusan rumah. Capek. Lalu muncul pemikiran, kenapa ya, kita tidak punya uang banyak biar bisa beli rumah yang sesuai keinginan? Astaghfirullah... Itu namanya kufur nikmat. Saya beristighfar, mengingat banyak orang di luar sana yang bahkan untuk makan saja susah. Saya dan ayah masih hidup dengan sangat layak meskipun kami belum punya rumah. Menyesal rasanya punya pemikiran seperti itu.
Sore harinya, saya bbm ayah, bilang minta maaf karena sudah judes nggak jelas ke dia. Ayah pun memaafkan. Sampai saat ini, kami belum membicarkan rumah lagi. Begitu banyak yang ada di depan mata. Yang paling dekat tentu saja kelahiran anggota baru keluarga kami. Sepertinya, menemukan rumah idaman kami memang bukan perkara mudah di tengah event-event yang akan segera datang.
p.s: sekarang, kami sedang menunggu informasi tentang tanah yang sedang dinegosiasikan harganya. Setelah berkonsultasi dengan teman yang punya rumah dengan cara dibangun, sepertinya kami lebih prefer untuk membangun rumah sendiri. Tapi tentu saja, pencarian perumahan pun takan etap dilakukan. Semoga tahun depan, keluarga kecil kami sudah mempunyai tempat berteduh yang nyaman. Dan milik sendiri :)
*postingan ini juga bisa dilihat di sini
Selasa, 22 November 2011
Senin, 07 November 2011
Jenuh
Mulai jenuh?
Sepertinya
Ingin pindah ke rumah baru
Ingin suasana baru
Tapi, rumah yang setahun lalu pernah dibuat pun, sampai sekarang masih seperti itu-itu saja
Jadi ingat, berapa banyak akun yang sudah pernah dibuat di dunia maya ini
Pada akhirnya, toh tetap kembali lagi ke MP :)
Sepertinya
Ingin pindah ke rumah baru
Ingin suasana baru
Tapi, rumah yang setahun lalu pernah dibuat pun, sampai sekarang masih seperti itu-itu saja
Jadi ingat, berapa banyak akun yang sudah pernah dibuat di dunia maya ini
Pada akhirnya, toh tetap kembali lagi ke MP :)
Selasa, 01 November 2011
Jadi, siapa yang telpon?
Lagi konsinyering di xxx hotel nih. Udah malam kedua. Males banget karena cewek sendiri, nggak ada temennya. Jadinya ngapa-ngapain ya mesti sendiri. Ngapa-ngapain itu misalnya, istirahat di kamar, atau ke toilet pas lagi rapat. Nggak tau tuh, nggak suka aja sama toilet-toilet hotel. Tempatnya mojok, terpencil, dan kedap suara. Jadi begitu masuk ke toilet, yang tadinya di luar masih ada suara-suara, tiba-tiba jadi sunyi senyap. Belum lagi biliknya banyak, dan penerangannya remang-remang pake lampu yang nyalanya kekuning-kuningan. Bagus siii, tapi kok ya serreeeemmm... Berhubung nggak ada temen yang bisa diajakin ke toilet, jadi ya terpaksa memberanikan diri.
Naah, malem ini tuh rencananya mau naroh tas di kamar dulu, baru turun ke ruang rapat. Biar kalau mau pulang, bisa langsung bablas nggak usah malu-malu. Kemaren soalnya udah disuruh-suruh pulang tuh, karena udah malem. Tapi akunya nggak enak. Masa yang lain masih rapat, aku pulang sendiri jinjing-jinjing tas. Kalau ini kan, kalau capek bisa pura-pura keluar, ambil tas ke kamar, trus pulang deh. Kenapa nggak nginep aja sih? Karenaa, nggak suka nginep di hotel. Nggak cocok. Boboknya nggak nyenyak. Padahal juga udah malem, gampangnya tinggal masuk ke kamar aja, trus tidur deh.
Dan tadi, akhirnya pinjem kamar deh ke Mas Mail. Mas Mail nggak mau nginep, jadi kamarnya aku pinjem, buat istirahat, dan buat tiduran misua dulu kalau nanti jemput.
Jadi, kamar itu letaknya di lantai 23. Begitu sampai lantai 23, langsung cari-cari kamar yang ternyata letaknya ada di pojokan. Oke. Koridor sepi, kamar di pojok. Kalau ada apa-apa, mungkin aku lari saja. Haha..
Masuklah ke kamar. Nyalain lampu. Liat twin bed. Boboan di kasur, nonton tivi, trus telpon misua yang masih di kantor. Nanyain jam berapa mau jemput. Sebenarnya untuk menghalau dan menghilangkan rasa sepi. Halah! Telponnya juga sengaja dilama-lamain. Selesai telpon, iseng nonton acara TV. Tiba-tiba..... "Kriiiiinnngg! Krriiiiiinngg!!" Telpon kamar bunyi. Siapa yang telpon ya? Ngapain?? Sambil cari-cari sumber bunyi, masih juga berpikir. Ooh, ternyata yang bunyi telpon di toilet.
"Halo?"
"Halo.. Ibu, ini dari front desk. Tadi ibu telpon biar bednya disatuin ya?"
Ha? Emmh.. Perasaan nggak telpon kemana-mana deh.
"Iya, gimana?"
"Nanti orang kita naik ke atas ya Bu, buat nyatuin bed-nya"
"Tapi saya nggak telpon deh"
"Tadi, Bu ANDI telpon buat nyatuin bednya kan?"
Karena ngerasa punya nama ANDIAH, jadi deh aku iyain.
"Mm..ya..."
"Ibu tunggu di kamar 30 menit ya. Nanti 30 menit lagi orang kita naik buat nyatuin bed"
Aneh. Nggak habis pikir. Beneran nggak nih? Kok kayaknya mencurigakan? Apalagi lagi sendirian di kamar.
Langsung deh telpon mas Mail. Tanya apa dia yang mesen biar bednya disatuin. Ternyata Mas Mail bilang nggak tau. Dan pesen biar nanti kalau orangnya dateng, ditolak aja.
Mulai deh serem. Siapa yang telpon? Trus, kok tau kalau yang ada di kamar namanya Andi. Padahal kan kamar itu atas nama Ismail. Dan yang punya kamar juga nggak telpon? Siapa lagi coba yang tau? Hiiiyy.. Daripada serem di kamar sendirian, lagian bingung juga nanti kalau ada mas-mas hotel yang dateng, mending turun aja deh. Nungguin orang-orang selesai makan. Ke kamarnya nanti lagi kalau misua sudah datang.
Ah, jadi nggak konsen dengerin rapat nih :D
Naah, malem ini tuh rencananya mau naroh tas di kamar dulu, baru turun ke ruang rapat. Biar kalau mau pulang, bisa langsung bablas nggak usah malu-malu. Kemaren soalnya udah disuruh-suruh pulang tuh, karena udah malem. Tapi akunya nggak enak. Masa yang lain masih rapat, aku pulang sendiri jinjing-jinjing tas. Kalau ini kan, kalau capek bisa pura-pura keluar, ambil tas ke kamar, trus pulang deh. Kenapa nggak nginep aja sih? Karenaa, nggak suka nginep di hotel. Nggak cocok. Boboknya nggak nyenyak. Padahal juga udah malem, gampangnya tinggal masuk ke kamar aja, trus tidur deh.
Dan tadi, akhirnya pinjem kamar deh ke Mas Mail. Mas Mail nggak mau nginep, jadi kamarnya aku pinjem, buat istirahat, dan buat tiduran misua dulu kalau nanti jemput.
Jadi, kamar itu letaknya di lantai 23. Begitu sampai lantai 23, langsung cari-cari kamar yang ternyata letaknya ada di pojokan. Oke. Koridor sepi, kamar di pojok. Kalau ada apa-apa, mungkin aku lari saja. Haha..
Masuklah ke kamar. Nyalain lampu. Liat twin bed. Boboan di kasur, nonton tivi, trus telpon misua yang masih di kantor. Nanyain jam berapa mau jemput. Sebenarnya untuk menghalau dan menghilangkan rasa sepi. Halah! Telponnya juga sengaja dilama-lamain. Selesai telpon, iseng nonton acara TV. Tiba-tiba..... "Kriiiiinnngg! Krriiiiiinngg!!" Telpon kamar bunyi. Siapa yang telpon ya? Ngapain?? Sambil cari-cari sumber bunyi, masih juga berpikir. Ooh, ternyata yang bunyi telpon di toilet.
"Halo?"
"Halo.. Ibu, ini dari front desk. Tadi ibu telpon biar bednya disatuin ya?"
Ha? Emmh.. Perasaan nggak telpon kemana-mana deh.
"Iya, gimana?"
"Nanti orang kita naik ke atas ya Bu, buat nyatuin bed-nya"
"Tapi saya nggak telpon deh"
"Tadi, Bu ANDI telpon buat nyatuin bednya kan?"
Karena ngerasa punya nama ANDIAH, jadi deh aku iyain.
"Mm..ya..."
"Ibu tunggu di kamar 30 menit ya. Nanti 30 menit lagi orang kita naik buat nyatuin bed"
Aneh. Nggak habis pikir. Beneran nggak nih? Kok kayaknya mencurigakan? Apalagi lagi sendirian di kamar.
Langsung deh telpon mas Mail. Tanya apa dia yang mesen biar bednya disatuin. Ternyata Mas Mail bilang nggak tau. Dan pesen biar nanti kalau orangnya dateng, ditolak aja.
Mulai deh serem. Siapa yang telpon? Trus, kok tau kalau yang ada di kamar namanya Andi. Padahal kan kamar itu atas nama Ismail. Dan yang punya kamar juga nggak telpon? Siapa lagi coba yang tau? Hiiiyy.. Daripada serem di kamar sendirian, lagian bingung juga nanti kalau ada mas-mas hotel yang dateng, mending turun aja deh. Nungguin orang-orang selesai makan. Ke kamarnya nanti lagi kalau misua sudah datang.
Ah, jadi nggak konsen dengerin rapat nih :D
Jumat, 21 Oktober 2011
Jadi (nggak) enak
Alhamdulillah.... puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan nikmat usia, nikmat waktu, nikmat kesehatan, sehingga hari ini saya bisa berada di sini, dalam keadaan sehat walafiat tidak kurang suatu apapun, dalam usia saya yang menginjak 23 tahun hari ini :)))))
Hihihi..
Alhamdulillah yaa, tak terasa, udah 23 tahun mulai sekarang.
Tanpa berpanjang lebar lagii, sebenernya pengen cerita aja. Kalau tahun kemarin, saya menikmati 22 tahun dengan status pengantin baru, maka hari ini statusnya berubah menjadi calon ibu. Insya Allah..aamiin...
Sebagai pengantin baru (setahun yang lalu), wajar dong yaa, kalau mengharapkan surprise dari suami baru. Makanya, lumayan ngambek juga tuh pas ternyata saya didiemin aja, cuma dikasih ucapan doang dari suami yang nggak bisa romantis ituh. Tapi eh tapi, beberapa waktu kemudian, datanglah surprise dari sang suami. Udah nggak ngambek lagi dehh
Mungkin, mengingat pengalaman tahun lalu yang seperti itu, kali ini suami nggak mau kecolongan lagi.
Tadi pagi pas bangun tidur, tiba-tiba aja suami langsung ngeloyor keluar kamar. Nggak seperti biasanya. Biasanya, dia cuma nabok-nabok nyuruh isterinya bangun. Pas isterinya udah wudlu buat sholat subuh, baru deh dia bangun dan ambil wudlu. Eh, tadi pagi kok ndilalah dia langsung bangun keluar kamar. Saya yang masih setengah terlelap pun curiga (ya elaah, masih setengah terlelap aja udah curiga :p). Sambil membuka sebelah mata, saya melihatnya keluar kamar. Habis itu saya pun melanjutkan merem lagi (padahal udah waktunya subuh). Dan benar ternyata..... "Selamat ulang tahun ya sayaanng..." Katanya yang udah di dalam kamar lagi sambil membawa sekotak sesuatu. Waaahh, asiiikk. Padahal sempet berharap kalau kejutannya dikasih di akhir hari, biar deg-degan. Kalo udah dikasih pagi-pagi, udah nggak ada surprise lagi dong, wkwkwk..
***
Sore ini, iseng-iseng saya browsing, cari harga barang yang dikasih sama misua tercinta. Dan setelah tau harganya..Hiks! jadi terharu.. Soalnya saya tau jumlah saldo yang ada di rekeningnya itu tidak banyak. Secara, uang di rekeningnya cuma mampir sebentar untuk jangka waktu yang tidak lama. Maklum, bukan rekening untuk tabungan, hanya rekening untuk menampung gajinya yang tiap bulan habis untuk keperluan bulanan. Jadi, pas kemarin2 di awal gajian, dia sempet 'menahan' agar uangnya lumayan banyak bersisa di rekening. Tujuannya supaya bisa kasih kado 'sesuatu', yang memang sudah lama diminta sama isterinya ini. Tapii, ternyata uang di sana lama-lama terkikis sedikit demi sedikit untuk keperluan ini-itu. Dan akhirnya, tidak cukup lagilah untuk membelikan apa yang diminta isterinya :p
Suami sempet bilang, "Nanti, kadonya nggak barang itu dulu yaa.."
dan dengan entengnya sang isteri menjawab, " Iya, nggak papa.. Tapi nanti kapan-kapan tetep dibeliin yaaaa.." *dasar isteri matre!
Dan ternyata, walaupun bukan barang yang diinginkan, tetep aja harga kadonya lumayan. Tidak terlalu mahal, tidak juga murah, untuk ukuran orang lagi nggak punya uang kayak suami saya minggu-minggu terakhir ini. Makasih ya sayaanng... Akan kurawat pemberianmu ini dengan baik. Jangan khawatir, nanti tanggal 25 kan udah gajian lagi ya sayang... 
Hihihi..
Alhamdulillah yaa, tak terasa, udah 23 tahun mulai sekarang.
Tanpa berpanjang lebar lagii, sebenernya pengen cerita aja. Kalau tahun kemarin, saya menikmati 22 tahun dengan status pengantin baru, maka hari ini statusnya berubah menjadi calon ibu. Insya Allah..aamiin...
Sebagai pengantin baru (setahun yang lalu), wajar dong yaa, kalau mengharapkan surprise dari suami baru. Makanya, lumayan ngambek juga tuh pas ternyata saya didiemin aja, cuma dikasih ucapan doang dari suami yang nggak bisa romantis ituh. Tapi eh tapi, beberapa waktu kemudian, datanglah surprise dari sang suami. Udah nggak ngambek lagi dehh
Mungkin, mengingat pengalaman tahun lalu yang seperti itu, kali ini suami nggak mau kecolongan lagi.
Tadi pagi pas bangun tidur, tiba-tiba aja suami langsung ngeloyor keluar kamar. Nggak seperti biasanya. Biasanya, dia cuma nabok-nabok nyuruh isterinya bangun. Pas isterinya udah wudlu buat sholat subuh, baru deh dia bangun dan ambil wudlu. Eh, tadi pagi kok ndilalah dia langsung bangun keluar kamar. Saya yang masih setengah terlelap pun curiga (ya elaah, masih setengah terlelap aja udah curiga :p). Sambil membuka sebelah mata, saya melihatnya keluar kamar. Habis itu saya pun melanjutkan merem lagi (padahal udah waktunya subuh). Dan benar ternyata..... "Selamat ulang tahun ya sayaanng..." Katanya yang udah di dalam kamar lagi sambil membawa sekotak sesuatu. Waaahh, asiiikk. Padahal sempet berharap kalau kejutannya dikasih di akhir hari, biar deg-degan. Kalo udah dikasih pagi-pagi, udah nggak ada surprise lagi dong, wkwkwk..
***
Sore ini, iseng-iseng saya browsing, cari harga barang yang dikasih sama misua tercinta. Dan setelah tau harganya..Hiks! jadi terharu.. Soalnya saya tau jumlah saldo yang ada di rekeningnya itu tidak banyak. Secara, uang di rekeningnya cuma mampir sebentar untuk jangka waktu yang tidak lama. Maklum, bukan rekening untuk tabungan, hanya rekening untuk menampung gajinya yang tiap bulan habis untuk keperluan bulanan. Jadi, pas kemarin2 di awal gajian, dia sempet 'menahan' agar uangnya lumayan banyak bersisa di rekening. Tujuannya supaya bisa kasih kado 'sesuatu', yang memang sudah lama diminta sama isterinya ini. Tapii, ternyata uang di sana lama-lama terkikis sedikit demi sedikit untuk keperluan ini-itu. Dan akhirnya, tidak cukup lagilah untuk membelikan apa yang diminta isterinya :p
Suami sempet bilang, "Nanti, kadonya nggak barang itu dulu yaa.."
dan dengan entengnya sang isteri menjawab, " Iya, nggak papa.. Tapi nanti kapan-kapan tetep dibeliin yaaaa.." *dasar isteri matre!
Jumat, 07 Oktober 2011
Minggu ke-18
Sedikit ringkasan aja, belum sempet nulis panjang-panjang *lagi ngebut nyelesein kerjaan :D
Yang pertama,
mulai minggu ke-17, tepatnya hari Sabtu kemarin, untuk pertama kalinya kami (saya dan suami) merasakan gerakan-gerakan lembut yang bisa diraba dari luar. Awalnya saya aja si yang ngerasa-dan itupun masih sangsi-gerakan seperti angin di dalam perut. Tapi semenjak minggu kemarin, kami sudah bisa elus-elus dedek kecil dari luar. Bahagiaaa banget rasanya. Biarpun masih lemah, tapi semakin ke sini, saya semakin peka terhadap gerakan-gerakan yang tidak tentu waktunya itu.
Kedua,
Seiring dengan itu, mulai belajar juga pola waktu si dedek aktif gerak-gerak. Biasanya kalau bangun, subuhan, sudah bisa merasakan gerakan-gerakan mungilnya. Lalu sore hari di kantor, kayak sekarang ini, trus malem pas udah nyampe rumah. Bahkan sampe jam sepuluh malam pun, dedek biasanya masih aktif bergerak :D
mulai minggu ke-17, tepatnya hari Sabtu kemarin, untuk pertama kalinya kami (saya dan suami) merasakan gerakan-gerakan lembut yang bisa diraba dari luar. Awalnya saya aja si yang ngerasa-dan itupun masih sangsi-gerakan seperti angin di dalam perut. Tapi semenjak minggu kemarin, kami sudah bisa elus-elus dedek kecil dari luar. Bahagiaaa banget rasanya. Biarpun masih lemah, tapi semakin ke sini, saya semakin peka terhadap gerakan-gerakan yang tidak tentu waktunya itu.
Kedua,
Seiring dengan itu, mulai belajar juga pola waktu si dedek aktif gerak-gerak. Biasanya kalau bangun, subuhan, sudah bisa merasakan gerakan-gerakan mungilnya. Lalu sore hari di kantor, kayak sekarang ini, trus malem pas udah nyampe rumah. Bahkan sampe jam sepuluh malam pun, dedek biasanya masih aktif bergerak :D
Ketiga,
semakin rajin browsing segala sesuatu tentang kehamilan, dan kelahiran. Masih rajin baca tahapan perkembangan bayi. Dan mulai rajin browsing segala hal yang diperlukan untuk mempersiapkan kelahiran. Teruuss, rajin baca-baca juga tentang ASIX, ASIP, dan teman-temannya. Paling suka baca perjuangan ibu-ibu pekerja yang menyediakan ASIP untuk ana-anak mereka. Biarpun masih lama, nggak ada salahnya membekali diri dari awal.
Keempat,
nggak doyan nasi. Tiap kali makan nasi dan turunannya (bubur ayam, lontong), selalu dimuntahin lagi. Sudah semingguan lebih kayaknya. Karenanya, bingung juga tiap kali waktu makan tiba. Kemarin sempet nyobain makan bubur ayam lagi pas sarapan, Udah nggak habis, muntah pula. Ya sudah. Sekarang, tambah nggak doyan nasi. Tiap kali ngeliat, udah eneg. Alhamdulillah, kalau malam masih bisa. Soalnya langsung disambung tidur. Jadi nggak sampai muntah
Kelima, dan yang terakhir,
nggak penting siihh.. cuma mau bilang aja kalau kemarin habis beli timbangan. Soalnya suka penasaran: berat badan nambah nggak yaa?? Bukan untuk mengontrol kenaikan berat badan, suerr! Cuma untuk tahu perkembangannya aja. Rasanya seneng banget pas liat di timbangan berat badan naik. Tapi nggak tau juga, timbangannya akurat apa enggak, hehehe
Oya, ini perkembangan Janin Minggu ke-18, sumbernya dari sini
Sekarang Janin sudah dapat mendengarkan suara dari luar tubuh anda. Janin akan bergerak atau melompat ketika mendengarkan suara keras. Otot Janin sudah dapat berkontraksi dan relaks, Janin sudah dapt menendang, meninju dan bergerak sangat aktif. Dalam minggu ini mungkin anda sudah dapat merasakan gerakan putarannya untuk pertama kali.
Taksiran berat janin sekitar 150 gram. Rahim dapat diraba tepat di bawah pusar, ukurannya kira-kira sebesar buah semangka. Pertumbuhan rahim ke depan akan mengubah keseimbangan tubuh ibu. Sementara peningkatan mobilitas persendian ikut mempengaruhi perubahaan postur tubuh sekaligus menyebabkan keluhan punggung. Keluhan ini makin bertambah bila kenaikan berat badan tak terkendali. Untuk mengatasinya, biasakan berbaring miring ke kiri, hindari berdiri terlalu lama dan mengangkat beban berat. Selain itu, sempatkan sesering mungkin mengistirahatkan kaki dengan mengangkat/mengganjalnya pakai bantal.
Mulai usia ini hubungan interaktif antara ibu dan janinnya kian terjalin erat. Tak mengherankan setiap kali si ibu gembira, sedih, lapar atau merasakan hal lain, janin pun merasakan hal sama.
nggak doyan nasi. Tiap kali makan nasi dan turunannya (bubur ayam, lontong), selalu dimuntahin lagi. Sudah semingguan lebih kayaknya. Karenanya, bingung juga tiap kali waktu makan tiba. Kemarin sempet nyobain makan bubur ayam lagi pas sarapan, Udah nggak habis, muntah pula. Ya sudah. Sekarang, tambah nggak doyan nasi. Tiap kali ngeliat, udah eneg. Alhamdulillah, kalau malam masih bisa. Soalnya langsung disambung tidur. Jadi nggak sampai muntah
Kelima, dan yang terakhir,
nggak penting siihh.. cuma mau bilang aja kalau kemarin habis beli timbangan. Soalnya suka penasaran: berat badan nambah nggak yaa?? Bukan untuk mengontrol kenaikan berat badan, suerr! Cuma untuk tahu perkembangannya aja. Rasanya seneng banget pas liat di timbangan berat badan naik. Tapi nggak tau juga, timbangannya akurat apa enggak, hehehe
Oya, ini perkembangan Janin Minggu ke-18, sumbernya dari sini
Sekarang Janin sudah dapat mendengarkan suara dari luar tubuh anda. Janin akan bergerak atau melompat ketika mendengarkan suara keras. Otot Janin sudah dapat berkontraksi dan relaks, Janin sudah dapt menendang, meninju dan bergerak sangat aktif. Dalam minggu ini mungkin anda sudah dapat merasakan gerakan putarannya untuk pertama kali.
Taksiran berat janin sekitar 150 gram. Rahim dapat diraba tepat di bawah pusar, ukurannya kira-kira sebesar buah semangka. Pertumbuhan rahim ke depan akan mengubah keseimbangan tubuh ibu. Sementara peningkatan mobilitas persendian ikut mempengaruhi perubahaan postur tubuh sekaligus menyebabkan keluhan punggung. Keluhan ini makin bertambah bila kenaikan berat badan tak terkendali. Untuk mengatasinya, biasakan berbaring miring ke kiri, hindari berdiri terlalu lama dan mengangkat beban berat. Selain itu, sempatkan sesering mungkin mengistirahatkan kaki dengan mengangkat/mengganjalnya pakai bantal.
Mulai usia ini hubungan interaktif antara ibu dan janinnya kian terjalin erat. Tak mengherankan setiap kali si ibu gembira, sedih, lapar atau merasakan hal lain, janin pun merasakan hal sama.
Langganan:
Postingan (Atom)