Setelah sekian lama tidak menunjukkan progress apapun, kami (saya dan suami) menghentikan sementara proses pencarian rumah kami. Pasrah. Sebentar lagi akan ada banyak keperluan menyangkut kelahiran bayi mungil kami. Selain itu, masa kontrak rumah yang sekarang kami tempati masih lama. Baru berakhir bulan Agustus tahun ini. Jadi kami pikir masih akan ada waktu untuk rumah.
Dalam masa itu, kira-kira sebulan yang lalu, tiba-tiba ada telepon dari Pakdhe yang rumahnya di Ciledug sana. Beliau yang tau bahwa kami sedang mencari rumah, memberitahu bahwa di dekat rumahnya ada sebuah perumahan yang bagus, aksesnya ke Jakarta mudah, dan beliau merekomendasikannya untuk kami. Saya iyakan dan janjikan bahwa dua minggu lagi Insya Allah kami akan main untuk melihat-lihat. Selain itu, ada saudara yang hajatan. Jadi kami ingin berkunjung.
Pada waktu itu, saya pikir Pakdhe hanya basa-basi. Mengingat saudara-saudara kami yang lain juga merekomendasikan daerah di dekat tempat tinggal mereka masing-masing sebagai pilihan kami mencari rumah. Yang di Pamulang merekomendasikan daerah Pamulang, yang di Graha Raya merekomendasikan Graha Raya, dst.
Ternyata, dua minggu kemudian kami ditelpon lagi. Saat itu, kebetulan bapak-ibu Purbalingga sedang ada di Jakarta. Karena tidak enak hati, tidak mengira bahwa ternyata Pakdhe serius sedang menawarkan rumah, akhirnya berangkatlah bapak-ibu ke Ciledug untuk melihat rumah itu terlebih dahulu. Saat itu hari kerja, saya dan suami tidak bisa ikut. Tidak lupa saya pesankan kepada adik saya untuk memotret rumah dan sekelilingnya.
Sepulang dari sana sore harinya, ibu antusias bercerita dan bilang bahwa beliau sreg dengan rumah yang ditawarkan Pakdhe. Daerahnya enak, lingkungannya beliau suka, dan aksesnya juga lumayan mudah, walaupun memang jauh dari Jakarta. Bapak juga cocok. Apalagi katanya, dekat dengan rumah Pakdhe. Jadi kalau bapak-ibu ke Jakarta, mereka bisa main-main ke rumah Pakdhe. Haha.. iya juga si. Secara kalau ke Jakarta, sekarang-sekarang ini, bapak sama ibu suka bingung mencari kegiatan. Maklum, seharian ditinggal anak-menantunya dari pagi sampai malam hari. Kalau ibu masih ada kegiatan: memasak untuk orang rumah. Kalau bapak, paling hanya tidur, nonton tv, atau jalan-jalan ke sekitar yang sama sekali tidak enak untuk ditelusuri lantaran kami berada di perumahan padat penduduk yang rumahnya ada di dalam gang.
Saat melihat foto-foto yang sempat diambil oleh adik, saya juga merasa cocok dengan rumah yang ditawarkan. Saya dan suamipun memutuskan untuk melihat rumah tersebut di akhir pekan. Dan memang kami juga tidak enak hati kalau sampai tidak melihatnya. Mengingat Pakdhe sudah susah-susah memberitahu kami, dan bahkan membooking kepada pemiliknya agar rumah itu jangan diproses dengan orang lain dulu.
Akhir pekan, saya dan suami pun pergi ke tempat Pakdhe. Hanya berdua soalnya waktu itu bapak, ibu dan adik sudah pulang semua. Sayang sesampainya di sana kami hanya bisa melihat rumah dimaksud dari luar pagar saja. Pemiliknya sedang tidak ada di rumah (rumahnya yang lain) sehingga tidak ada kunci yang bisa diantarkan. Setelah puas menjelajah dan melihat-lihat dari luar pagar, kami pun ke rumah Pakdhe-yang ternyata benar-benar dekat hanya sekitar 500 meter saja, hanya saja rumah Pakdhe ada di belakang kompleks perumahan rumah yang kami taksir-untuk membicarakan perihal rumah tersebut lebih lanjut.
Pada akhirnya, saya dan suami (akhirnya) sepakat untuk memrosesnya lebih lanjut. Akhirnyaa setelah sekian pencarian kami, kami memutuskan akan mengambil rumah itu. Berbagai hal kami pertimbangkan. Jauh? Ya tentu saja. Tapi insya Allah, saya mantapkan diri untuk menempuh perjalanan itu.
Minggu berikutnya, kami jadwalkan bertemu dengan pemilik rumah untuk meminta kelengkapan dokumen. Sebelum-sebelumnya, Pakdhe yang selalu berhubungan dengan pemilik rumah. Mulai dari negosisasi harga, pajak penjualan pembelian, DP, dan lain sebagainya. Kami tidak enak merepotkan terus menerus. Akhirnya minggu itu kami pun ke sana lagi, bertemu bapak pemilik rumah, dan kami akhirnya masuk ke rumah itu.
Tadinya saat membayangkannya dari luar pagar dan dari foto-foto yang diambil, saya berpikir akan kecil sekali calon rumah kami. Dengan tipe tanah hanya 72, dan tipe rumah hanya 30sekian (lupa), tentu akan berbeda dengan kontrakan kami sekarang. Apalagi jika dibandingkan dengan rumah Purbalingga atau Temanggung yang jauuuh lebih besar lagi (maklum rumah di kampung, hehe). Tapi setelah melihatnya sendiri, thats not too bad kok. Rumah kecil itu terlihat lapang karena plafonnya tinggiii. Jendelanya pun besar-besar. Saya dan suami yang tadinya menguatkan hati dengan pemikiran seperti: kita kan mulai dari nol, jadi wajar kalau rumahnya kecil, atau kita kan bukan orang kaya, jadi mampunya ya beli rumah yang segitu—semakin lapang dan tersenyum lebar saat melihat rumah itu langsung. Ah, tidak seburuk yang dibayangkan. Lagipula, kanan-kiri rumah itu, banyak rumah bagus yang sudah dibangun 2 lantai. Terlihat megah dan besar walau dengan luas tanah yang sama dengan rumah incaran kami. Kami pun lebih berbesar hati.
Selanjutnya, ternyata proses untuk menuju pengajuan kredit dari kantor pun tidak mudah, karena ada beberapa pending matters (haha..bahasa gue) yang harus kami bereskan terlebih dahulu. Ceritanya akan saya posting lain waktu saja mengingat jurnal ini sudah cukup panjang dan akan jadi membosankan kalau nekat diterukan juga. Yang jelas, saat ini kami sedang dalam tahap membereskan pending-an tersebut. Semoga akhir minggu ini sudah kelar sehingga minggu depan benar-benar sudah mulai diproses pengajuan kreditnya. Doakan kami ya temans :)
Rumah itu memang benar-benar jodoh ya. Dicari kemana-mana nggak ada yang nyangkut. Saat nggak dicari-cari, eh dia malah muncul sendiri. Semoga, untuk kali ini, rumah itu benar-benar jodoh kami. Aamiin...

