Kamis, 28 April 2011

(Cerita Mini) Cuma anak Ibuku saja....



Jelita tersenyum kepada ayah dan ibunya. Rasa cemas dan gugup itu tidak dapat disembunyikan dari wajahnya. Berkali-kali pandangannya berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Tidak fokus.

Sementara itu, ayah dan ibunya tampak tak kalah gugupnya. Mereka melihat ke beberapa halaman kertas yang disodorkan putrinya barusan, saat mereka sedang asik menonton televisi. Biodata orang yang akan dijodohkan guru ngaji Jelita dengan gadis itu. Biodata kelima dalam dua tahun ini.

“Emm… bagaimana Yah? Bu?”

Ayah dan Ibu berpandang-pandangan. Akhirnya saat itu, mau tidak mau, datang juga kepada mereka, seberapapun mereka mencoba menundanya. Kini Jelita sudah 27 tahun, sudah lulus S2, dan sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan. Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menolak orang yang datang kepadanya.

“Kalau dilihat dari fotonya, cakep. Ibu suka orangnya..” wanita setengah baya itu berkata sambil merapikan kerudungnya.

“Latar belakang keluarganya bagus. Pendidikannya bagus. Pekerjaannya juga. Sepadan dengan kamu…” ayah berkata sambil tersenyum.

“Jadi?” Jelita bertanya

“Ayah sama Ibu setuju..” Ibu yang berkata. Dia lantas memeluk Jelita, “sudah waktunya kamu menikah..”

***

Tiga minggu menjelang hari pernikahan.

Undangan sudah ditangan. Sebentar lagi akan disebar. Tinggal menunggu daftar namanya diselesaikan oleh Rama, adik Jelita. Sore itu mereka sedang akur, duduk bersisian menghadapi komputer. Sesekali Jelita memberikan instruksi.

Ayah masuk ke dalam kamar dan tersenyum melihat keduanya. Gurat usia itu nampak jelas di wajahnya.

“Jelita, ayah ingin bicara…”

***

Berdua, mereka duduk di bangku teras. Suara air gemericik di kolam kecil depan rumah. Jalanan tampak ramai oleh tetangga yang keluar membawa anak-anaknya. Beberapa Ibu terlihat bergerombol di rumah tetangga depan, sementara anak-anak kecil berlarian di sekelilingnya.

Mata Jelita panas. Ada butiran air bening yang sebentar lagi tumpah di sana. Sepertinya hujan berhari-hari akan turun. Hujan menjelang hari pernikahannya. Tiba-tba dia tahu alasan dibalik semua penolakan yang dia terima selama ini.

“Kamu sudah dewasa. Ayah tidak mungkin terus-terusan memendam rahasia ini. Maaf, Nak.. Ayah tidak bisa menikahkanmu nanti. Kamu harus memakai wali hakim. Kalau ayah berkeras ingin menjadi walimu, pernikahan kalian tidak sah, dan kalian akan zina seumur hidup.” Ayah berkata sambil menghela napas panjang.

Air mata itu kini telah menganak sungai di pipi Jelita.

“Ayah minta maaf, sungguh. Itu kesalahan 28 tahun yang lalu. Tapi, seorang anak akan tetap suci walaupun dia lahir di luar pernikahan yang sah. Kamu tidak berdosa. Ayah dan Ibu yang berdosa. 5 bulan setelah pernikahan Ayah dan Ibu, kamu lahir. Kamu bukan anak Ayah. Kamu adalah anak Ibu…”

Jelita menerawang jauh ke depan. Senja kian temaram. Matahari mulai tenggelam. Ibu-ibu di jalanan depan rumah mulai pulang. Maghrib menjelang. Di kejauhan, suara adzan berkumandang. Dan Jelita, semakin terisak dalam..

“Aku, ternyata cuma anak Ibuku saja…”

*terinspirasi oleh sinetron Pesantren dan Rock ‘n Roll semalam yang menjelaskan tentang status anak di luar nikah

*****


Tentang Anak di Luar Pernikahan yang Sah

Terjadi perselisihan dikalangan para ulama tentang sah tidaknya pernikahan seorang wanita yang sedang hamil dikarenakan zina : Para ulama Maliki, Hambali dan Abu Yusuf dari madzhab Hanafi tidak memperbolehkan pernikahannya itu sebelum dia melahirkan, tidak dengan lelaki ang menzinahinya atau tidak juga dengan lelaki yang lainnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Seorang wanita yang sedang hamil tidak boleh digauli sehingga dia melahirkan..” (HR. Abu Daud) dan sebagaimana riwayat dari Said al Musayyib bahwa seorang laki-laki telah menikahi seorang wanita dan ketika diketahui bahwa wanita itu sedang hamil dan diberitahukanlah hal ini kepada Nabi saw maka beliau saw pun memisahkan mereka berdua.” (HR. Baihaqi). Sedangkan para ulama Syafi’i dan Hanafi membolehkan pernikahannya dikarenakan belum terkukuhkannya nasab, berdasarkan sabda Nabi saw,” Anak itu bagi yang memiliki tempat tidur sedang bagi yang berzina tidak memiliki apa-apa.” (HR. Jama’ah kecuali Abu Daud).

Adapun pendapat bahwa jika si ayah biologis dan ibunya yang telah terlanjur hamil ini kemudian menikah. Jika setelah menikah, si ibu masih menjalani kehamilan selama 6 bulan atau lebih sampai kelahirannya, maka si anak bisa mengikuti garis keturunan sang ayah dan bisa menjadi wali nikahnya. tapi jika si ibu menjalani kehamilan kurang dari 6 bulan sampai saat kelahirannya, maka sang anak hanya bisa mengikuti garis keturunan sang ibu.. pernyataan ini bisa ditemukan didalam “al Fatawa al Hindiah” didalam Fiqih Hanafiyah yang menyebutkan : jika seorang lelaki berzina dengan seorang wanita dan wanita itu menjadi hamil kemudian lelaki itu menikahinya dan melahirkan maka jika wanita itu mengandung selama 6 bulan atau lebih maka nasab anak itu terkokohkan dan jika wanita itu mengandung selama kurang dari 6 bulan maka nasab anak itu tidak terkokohkan kecuali hanya sebatas pengakuannya—bahwa anak itu adalah anaknya—selama dia tidak mengatakan,”Sesungguhnya anak itu dari perzinahan.” Adapun jika dia mengatakan,”Sesungguhnya dia adalah dariku dari perzinahan.” Maka nasabnya tidak terkokohkan dan dia tidaklah mewariskan hartanya.”

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa anak zina tidaklah terkokohkan nasabnya dari seorang lelaki pezina baik dirinya menikahi wanita yang dizinahinya lalu wanita itu mengandung anak itu kurang dari enam bulan sejak waktu akad nikah atau tidak menikahi wanita itu lalu wanita itu melahirkannya. Akan tetapi jika anak itu dinisbatkan kepadanya dengan pengakuannya dan dia tidak mengatakan bahwa anak itu dari hasil perzinahan maka nasabnya terkokohkan didalam hukum-hukum dunia. Demikian pula jika lelaki itu menikahi wanita yang dizinahinya dan dia mengandung anak dari hasil perzinahannya lalu melahirkan seorang anak dalam masa kurang dari waktu minimal suatu kehamilan sementara orang itu terdiam atau mengakuinya dan tidak mengatakan bahwa anak itu adalah dari hasil perzinahan maka nasabnya terkokohkan didalam hukum-hukum dunia.” (Fatawa al Islam Sual wa Jawab juz I hal 591)

Dengan mengambil pendapat jumhur ahli ilmu bahwa seorang anak zina tidaklah dinasabkan kecuali kepada ibunya dan ketika anak zina tersebut kelak ingin menikah maka tidaklah bisa diwalikan oleh ayah yang berzina dengan ibunya akan tetapi perwaliannya dilakukan oleh penguasa atau hakim. Karena hakim adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dan seandainya seorang anak zina dinikahkan oleh ayah yang menzinahi ibunya maka pernikahan yang dilakukannya itu batal sehingga kedua pasangan tersebut haruslah dipisahkan. Adapun cara pemisahan antara keduanya adalah dengan cara si suami menjatuhkan talak (cerai) terhadapnya jika memang dirina rela untuk melakukannya sendiri namun jika dirinya tidak ingin melakukannya sendiri maka pemisahan itu dilakukan oleh hakim.

Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Qudamah bahwa apabila seorang wanita dinikahkan dengan pernikahan yang rusak (batal) maka tidaklah boleh dirinya denikahkan dengan selain orang yang telah menikahinya sehingga orang yang menikahinya itu menceraikannya atau dipisahkan pernikahannya. Apabila suaminya itu tidak mau menceraikannya maka hakimlah yang harus memisahkan pernikahannya, dan nash ini dari Ahmad. (al Mughni juz IX hal 125)

Setelah suaminya menceraikan istrinya atau keduanya dipisahkan oleh hakim lalu si lelaki ingin kembali menikahinya maka hendaklah dengan akad yang baru dengan diwalikan oleh penguasa atau hakim, yang dalam hal ini adalah KUA.

Wallahu A’lam
Penjelasan didapat dari Yahoo Answer



Rabu, 27 April 2011

Kampung yang aku rindu



"Demi matahari dan cahanya di pagi hari....."

Di desanya eyangku... Sebenernya pengen upload foto yang banyak, tapi ternyata nggak ada tuh foto-fotonya. Cuma ini yang ketemu.

Di sana ada sawah yang terhampar luaaassss, sungai yang jernih dengan batu2 yang gedee, air terjun, bukit, dan gunung.

Besok kalau pulang kampung, mau foto-foto deh :D

Rabu, 06 April 2011

Tidak ada SINETRON yang sempurna....

Kali ini kita ngobrolin perihal sinetron ya?

Iya, itu looh, sinetron ala Indonesia yang ceritanya sebagian besar idenya berkutat dalam kisah gadis cantik miskin-yang ternyata adalah putri seorang kaya, perebutan kekuasaan, anak yang tertukar, atau kehidupan cinta remaja SMA, kadang dibumbui dengan derita yang tiada henti. Yang anehnya, itu sinetron walaupun semakin lama semakin tidak jelas jalan ceritanya, dia punya episode panjaaaang dan hanya Tuhan dan produser yang tau kapan tamatnya.

Okey, stop pembahasan mengenai sintron ala Indonesia. Yang saya ingin bahas sekarang adalah sinetron yang sedang jadi favorit saya. Dan itu adalah: "Islam KTP" dan "Pesantren dan Rock 'n Roll"

Baiklah, kita bahas satu-satu dulu:

1. Islam KTP


Sinetron yang satu ini tidak punya inti cerita. Tidak membawa ide tertentu. Bukan kisah percintaan yang bisa dinantikan bagaimana nanti endingnya. Sinetron ini bebas, punya cerita yang berbeda-beda dan berganti tema setiap harinya. Sebebas tokoh-tokoh di dalamnya yang tidak jelas apa pekerjaannya. Kalau kata saya "Orang-orang di sinetron ini pada nggak punya kerjaan ya? Kerjaannya kok tiap hari keliling kampung. Keliling ke sana kemari. Kalo ketemu orang, trus ngobrol-ngobrol."

2. Pesantren dan Rock'n Roll


Sebenarnya, banyak hal yang menggelitik saya saat nonton sinetron ini *aduuh, tiap kali nonton capek dong ketawanya?? Bukaan. bukan digelitikin itu maksudnyaaa, tapii..membuat jiwa komentator sinetron saya gatal ingin protes. Ya, ya, ya, memang judulnya mengandung kata 'pesantren', ceritanya juga bersetting pesantren. Tapi, saya-walaupun tidak pernah hidup di pesantren, mengunjunginya pun nyaris tidak pernah-yakin kehidupan pesantren tidak seperti itu:

-santri dan santriwati bercampur baur. bebas berkeliaran. ngobrol bebas satu sama lain

-Wahyu (kalo yang belum tau nih, dia itu tokoh utamanya) kok bisa tiba-tiba bawa teman-temannya ke kehidupan dalam pesantren? Dan gaya mereka itu..... memangnya boleh diterapkan di pesantren?

-Mas Najib alias Masbro (kalo yang belum tau lagi, dia ini rivalnya Wahyu), yang notabene santri senior pengurus pesantren, masa punya tingkah laku yang sama sekali tidak mencerminkan keseniorannya, apalagi kesantriannya. Ditambah ulah dua anak buahnya. Deuuh... (namanya juga sinetron, pasti butuh tokoh yang menghibur kali yaa)

-kisah cinta di pesantren ini. Tidak setuju! Apalagi melibatkan putri pimpinan pesantren, namanya Nada. Hubungan Wahyu-Nada-ditambah Mas Najib yang mati2an merebut hati Nada, sepertinya bukan pesantren sekali.

OK. Seperti yang sudah saya bilang di judul, tidak ada sinetron yang sempurna. Tapi, saya tetep ngefans sama dua sinetron ini. Kenapa? Soalnya banyak 'ceramah' ustadz di sini. Ceramah yang disisipkan dalam dialog-dialog antar pemainnya, atau ceramah berbentuk pengajaran dari ustadz di dalam kelas di pesantren. Saya sukaaa bagian itu. Menurut saya, itu bagus sekali. Di luar semua ketidaksepakatan saya tentang jalan cerita, selalu ada hikmah dan pembelajaran di setiap episode-episodenya.

Seperti episode yang lalu, saat ada pembahasan mengenai Surat Ar Rahman, atau semalam, saat ada pelajaran mengenai berbakti kepada kedua orang tua. Suka pokoknya. Apalagi gaya ceramahnyanya tidak membosankan. Mungkin karena itu disisipkan di antara jalan cerita yaa.. Coba kalau kita disuruh mendengarkan kajian selama dua jam penuh..yang ada kantuklah yang muncul, heheh.....


Ya sudahlah..
cukup sekian pendapat saya tentang dua sinetron itu. Kapan-kapan kita sambung lagi.. *yakin An?? enggak sih..heheheh

Intinya, kita ambillah hikmah dari apa yang kita tonton sehari-hari. Yang jelek-jelek?? Buang ke laut aja kali yeee





Kamis, 31 Maret 2011

My Wedding (biar telat asal upload :D)




18 September 2010

Tak terasa, masa itu sudah terlewat setengah tahun yang lalu. Waktu berjalan begitu cepaaaatnya ^^. Tak terasa pula, sudah selama itu menjalani suka dan duka dengannya. Pahit, manis, sudah dikecap bersama *tsaaah!

Dan walaupun sampai kapan juga, sekotak memori di bawah ini akan selalu manis untuk diingat :)

I love you, suamiku
Semoga kita bisa menjadikan keluarga kecil kita keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah.. aamiin.. :)

Rabu, 30 Maret 2011

Me vs My Husband



Me
vs
My Husband



Keluarga
anak ke-1 dari 2 bersaudara
vs
anak ke-2 dari 2 bersaudara

Selera makan
ikan, ikan, ikan
vs
jangan ikan
*tapi, suami sekarang udah doyan makan ikan ;)

Kampus
ga ikut organisasi apa-apa, freelance, cuma ikut kepanitiaan-kepanitiaan aja
vs
aktivis

Percintaan
gadis baik-baik (o yeah?? :-O)
vs
playboy cap kadal (dulu :-O)

Ngemil
doyan banget
vs
no,no, no

Film
horror, science fiction
vs
komedi
*he said: nonton kok yang berat-berat? bikin pusing. nonton itu ya yang menghibur

Baca
hobi dari TK
vs
jarang baca
*hobi mas cuma beli buku. beli lagi. ditaroh. dibaca sesekali

Buku
novel
vs
non fiksi
*he said: baca buku itu yang ada gunanya

Kendaraan
angkot
vs
apa aja selain kendaraan umum (apa aja itu termasuk tebengan)
*he said, suatu kali di angkot: aku baru pernah sekali ini naik angkot di Jakarta

Pekerjaan
biarkan mengalir seperti air
vs
visioner
*he said: mumpung masih muda, nggak apa capek-capek. nanti, 2 tahun lagi bla-bla-bla, 3 tahun lagi bla-bla-bla *kejarlah cita-citamu sayang ;)

Watak
nrimo
vs
punya effort

Kopi
capuccino, mocca, apa aja yang berasa
vs
kopi item
*kopi susu aja ya? nggak, kopi item aja

Seafood
cumi
vs
kepiting

Boss
pemerintah
vs
swasta


umm... apalagi ya??
nanti kalau ada yang inget ditambah lagi :D

Senin, 28 Maret 2011

(FF) Kelinci Percobaan

Aku memandang wajahmu dengan tatapan nanar. Aku benci! Aku marah!

Kau mendesah, galau.

Ah, tidak perlu kau tunjukkan penyesalan pura-pura itu! Tidak usah kau tunjukkan wajah tidak berdosamu itu! Aku sudah muak. Ternyata selama ini kau punya maksud lain dibalik semua sikap baikmu itu. Ternyata, hatimu tidak sesuci yang kubayangkan. Ternyata, kau memang sengaja memilihku kan? Yang terjelek di antara semua yang cantik. Aku pikir kau tulus, ternyata...

Kau hanya memilihku, untuk kemudian mencabik-cabik hatiku, lantas menertawakannya bersama teman-temanmu itu, di tempat ini, beberapa saat lagi. Iya kan???

Kau sedih? Aku tak percaya. Kau hanya pura-pura.

"Andi," tegur bapak tua berjas putih. "Mana kelincinya? Ayo, kita mulai kelasnya.."

Kau menatapku dari balik kandang. Pelan-pelan, kau mengeluarkanku dari tempat sempit itu. Andai aku bukan hanya seekor kelinci....





Selasa, 22 Maret 2011

Keguguran




Saat engkau tertidur..

Kupandangi wajahmu..
Masih ingin ku mendekapmu..
Masih ingin ku menciummu..


Lantunan lagu Vina Panduwinata itu kuputar berkali-kali mengiringi pagi. Sambil mengelus-elus perut yang mulai membuncit, sambil bercengkrama dengannya yang sedang bertumbuh di dalam diri. Menikmati keajaiban yang sukar dijelaskan.

Suamiku susah sekali dibangunkan. Padahal kami sudah berjanji akan jalan-jalan pagi itu. Sambil sedikit memaksa, akhirnya bisa juga dia bangkit dari tempat tidur.
"Dedek mau disayang," ada-ada saja keinginanku pagi itu. Dengan muka masih mengantuk, mas mencium perutku 'cup'.
"Bukan gituu, mau disayang," aku masih merajuk.
"Kan udah.."
"Bukan gituu, mau ngobrol sama Ayah.."
Akhirnya mas mengalah juga. Daripada istrinya yang sedang manja ini tak berhenti mengoceh, lebih baik segera dituruti kemauannya. Mas mengelus-elus perutku, berbincang dengan buah hati kami. "Dedek ini.. Dedek itu... "


***


Kami sampai di Monas. Weekend, pagi hari, banyak orang beraktivitas di tempat itu. Aku dan mas bersemangat. Jarang-jarang kami jalan pagi. Mas susaaaah sekali diajak bangun pagi saat weekend. Jalan santai, sembari melihat aktivitas orang di sekeliling saat udara masih segar ternyata sangat menyenangkan. Mas larii pagi mengelilingi Monas, sementara aku jalan santai sambil menikmati suasana di sekitar.


Tak pernah kusadari..
Waktu cepat berlalu..
Kini engkau menjadi besar..
Kini engkaulah harapanku..


Tak terasa, sudah cukup lama kami bercengkrama di keramaian. Saatnya pulang. Kami berjalan melintasi rindang pepohonan yang jarang ditemukan di kota besar seperti ini. Ah, aku senang sekali pagi itu.

Tiba-tiba.. Seperti ada sesuatu yang mengalir di bagian bawah tubuhku. Aku terkesiap. Kuraih tangan mas, menghentikan langkahnya.
"Mas.. Kayak ada yang keluar..."
"Apa?" dia bertanya. Aku menggeleng. "Nggak tau.. Ayo cepet pulang. Mau ke toilet.."
Tanganku erat menggenggam tangan mas. Keringat dingin mengaliri sekujur tubuh. Hanya satu yang ada di pikiranku saat itu. Anak kami di kandungan.

Di halaman Monas, di dekat tempat parkir kendaraan, ada toilet umum. Segera, tanpa menunggu waktu, aku menuju ke sana. Sementara mas menunggu di dekat motor kami.

Terkejut aku mendapati darah segar di pakaian dalamku. Banyak. Seperti saat menstruasi. Lemas. Sedih yang tak terkira. Aku langsung keluar dan memanggil2 mas, sedikit emosi karena dia tak kunjung mendengar. Tak peduli berapa pasang mata yang melihat, tak peduli seramai apa suasana di parkiran, tak peduli lagi sekitar, tak peduli, aku menghambur ke pelukan mas, dan menangis sesenggukan di sana tanpa bisa ditahan. "Dedek..dedek..." Hanya itu yang terucapkan. Tak tau bagaimana ekspresi mas, tak tau bagaimana dia juga ikut terkejut. Aku hanya menangis dan menangis. Mas, betatapun terguncangnya dia, berusaha membesarkan hatiku, "Nggak papa.. Nggak papa.. Abis ini kita langsung ke rumah sakit. Dedek nggak papa.."

Kami pulang. Dan sepanjang perjalanan, aku hanya bisa menangis, sembari memegangi perutku.


Di rumah, aku kembali ke toilet. Darah lebih banyak dari sebelumnya. Tapi tidak ada yang kurasakan. Sakit, nyeri, mules, tidak ada sama sekali. Dalam kepanikan itu, kami sempat telpon beberapa orang. Bertanya apa yang harus dilakukan. Dan tanpa menunggu waktu lagi, segera bersiap menuju UGD rumah sakit tempat aku check kandungan. Dalam pada itu, sempat mas menangis, saat kutunjukkan darah yang tercecer. Tangisan seorang laki-laki. Tangisan seorang ayah yang mengkhawatirkan kondisi anaknya.


***


"Lihat ini Bu.. Sudah nggak ada apa-apa," Dokter Lita, dokter yang menangani kehamilanku menunjukkan layar USG.
Aku mengangguk-angguk. Kubesar-besarkan hati, kutahan-tahan tangis yang hendak meledak lagi. Tidak boleh. Aku harus tegar.
"Saya, harus dikuret ya Dok?" tanyaku.
"Iya"
"Sekarang?"
"Ya..sekarang. Apa Ibu mau pikir-pikir dulu?"
"Apa saya masih bisa hamil lagi?"
"Ya bisa laah Buu.." Ibu Dokter tersenyum lebar. "Bisa bangeet.."
Mas masuk. Melihatnya, semakin ingin kutumpahkan tangis ini. Dokter bertanya lagi, apa hendak dikuret, atau masih akan berpikir lagi? Kami tanpa berpikir panjang langsung menyetujui. Kuret.


Wajah pertama yang kulihat saat efek bius mulai menghilang adalah wajah mas yang sembap. Dia memandangku dengan ekspresi sedih yang sukar kulukiskan. Dari semua yang kami alami pagi itu, pasti dia yang merasa paling bingung, paling bertanggung jawab, paling takut, dan mungkin paling sedih. Dia telah kehilangan anak pertamanya, dan sekarang, harus melihat isterinya terbaring tak berdaya, dengan wajah pucat, dan selang oksigen di hidung. Bukannya mengobati kesedihannya, aku pasti telah membuatnya semakin sedih.

"Mau dibacain Quran.. Mau dibacain Quran.." aku merajuk.
Mas meraih hpnya. Dan memilihkanku surat Ar Rahman. Tersedu dia membacanya.

Aku terlena dalam lantunan surat yang dibacakan patah-patah. Kadang sadar, kadang terbang entah kemana. Efek bius masih terasa.

Fabiayyi aala irobbikuma tukaddzibaan...

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Terngiang-ngiang di telingaku


***


Selama beberapa hari, banyak orang yang datang menjengukku. Bapak Ibu Temanggung dan kakak ipar langsung meluncur dari Cibubur hari itu juga, dan menemani kami sampai malam. Bapak Ibu Purbalingga langsung berangkat dengan kereta dan tiba sore harinya. Paman dan Bibi di Jakarta datang. Teman-teman juga sempat menengok.


***


Kami namai anak kami Azka Auliya. Kekasih yang suci, artinya. Allah lebih sayang Azka, hingga ia dipanggil tanpa sempat bertemu ayah bundanya di dunia. Azkaku sayang sudah tenang di sana. Allah yang akan menjaganya..


Tumbuh..
Tumbuhlah anakku..
Raihlah cita-citamu..
Jangan pernah engkau ragu, sayang..
Doaku slalu bersamamu..
Membuat aman di hidupmu..

(Anakku, Vina Panduwinata)