Senin, 08 Februari 2010

Happy Working Mother ( Will I? ^^ )



“ Nak, sedang apa? Sama siapa? Sudah makan belum? Udah sore mandi dulu ya?”


Percakapan seperti itu akhir-akhir ini sering saya dengar dari balik sekat yang membatasi ruangan kami, staff TU, dengan ruangan Ibu Direktur. Tentu saja, yang berbincang adalah  sang Ibu Boss dengan anak tercintanya.

Wanita karir. Ya, mereka yang bekerja keras, sama seperti kerjanya para laki-laki di luar sana. Yang menghabiskan waktu sebagian besar dengan berada di luar rumah, meninggalkan keluarga dan anak tercinta.

Wanita karir pertama yang saya kenal sejak masih kecil adalah Ibu. Ya, Ibu saya. Beliau hanyalah seorang guru. Seorang guru, yang menghabiskan waktu sampai siang hari di sekolah. Waktu yang dihabiskannya di luar, kalau dibandingkan dengan wanita-wanita karir yang mengelilingi saya saat ini, masih jauh lebih sedikit. Tetapi bahkan pada saat itu, dengan jiwa kanak-kanak yang selalu ingin dimanja dan diperhatikan, saya merasa kalau Ibu adalah wanita yang sibuk.

Saya sering dititipkan di rumah Eyang, sewaktu-waktu kalau beliau ada penataran di luar kota. Selain itu, Ibu juga sering pulang sore. Entah ada kegiatan di sekolah, entah les, entah apalah yang pada masa itu saya tidak peduli.

Setiap hari, sepulang sekolah, saya berada di rumah seorang diri, begitupun adik saya. Kami terbiasa mendapati rumah dalam keadaan kosong. Kami terbiasa ganti baju sendiri, pergi bermain sendiri, dan menonton TV sendiri, sebelum akhirnya Bapak dan Ibu pulang dari sekolah-bapak saya juga seorang guru. Kesendirian macam itu masih sering saya rasakan sampai kemairn-kemarin, saat saya masih punya banyak waktu luang yang dihabiskan di kampung halamn tercinta.

Lalu, ketika akhirnya saya beranjak dewasa, saya mulai mengenal wanita-wanita karir di luar, dengan jadwal yang jauh lebih padat dibandingkan dengan jadwal Ibu saya.

Ada mamanya Nico, keponakan kos kami, yang setiap minggu hampir dapat dipastikan menitipkan kedua anaknya di rumah sang nenek. Sesekali, dia ikut menginap di sana. Berangkat kerja sekitar jam 9 pagi, dan pulang lewat di atas jam 9 malam. Seringkali, ketika berangkat itu, Nico akan menangis merengek-rengerk, meminta mamanya agar tidak usah pergi. Duuh..kasihan rasanya. Sekarang Nico katanya sudah mulai sekolah. Paling tidak, dia tidak harus menyaksikan mamanya meninggalkan dia di rumah bersama orang lain (Tapi mungkin, besok giliran adiknya yang akan merengek meminta mamanya jangan pergi).
 

Lalu ada lagi, seorang mbak yang baru saya kenal di kantor ini. Dia baru saja melahirkan. Anaknya berusia dua bulan kalau tidak salah. Setiap hari, saya melihatnya datang sebelum jam delapan dan pulang lebih dari jam 5 sore. Anaknya yang bayi itu dirawat oleh sang Ibu. ASI memang masih alami, tetapi minumnya dari botol. Setiap hari sudah disediakan di kulkas, tinggal menghangatkan sewaktu-waktu kalau si baby mulai lapar.

Lalu ada juga Ibu Direktur, yang datang sekitar jam delapan pagi dan pulang malam setiap hari. Tak pernah sampai rumah sebelum matahari masih bersinar saya rasa, hehee…. Belum lagi kalau ada rapat atau konsinyering di hotel sampai beberapa hari. Beeuuh….kalau jadi anak beliau mungkin saya akan protes. Karena itu saya paling tidak suka dengan yang namanya konsinyering. FYI, teman satu kos saya, selama sebulan ditempatkan di salah satu direktorat, sudah 3x ikut konsinyering di 3 hotel berbeda, dan semuanya menginap lebih dari  satu malam. Bagaimana kalau nanti sudah punya anak ya?? Hikshiks!

Yah…bagaimanapun, menjadi wanita karir adalah sebuah pilihan. Tinggal bagaimana kita (kita??) menyikapinya. Saya rasa, wanita karir pun bisa-pasti bisa!-menjadi Ibu yang baik, yang tetap memberikan perhatian terbaik kepada keluarga-especially for her children. Sehingga sang anak tidak pernah merasa kekurangan perhatian ataupun merasa kesepian, walaupun setiap hari, sebagian hidupnya dihabiskan tanpa dampingan seorang Ibu di sisinya.



***


Tumben kali ini saya nulis yang bukan curhatan pribadi.
Maaf kalau paragraf terakhir ditulis dengan ke-sotoy-an tingkat tinggi. Maklum, saya kan bukan seorang Ibu. Tapi yang pasti, mother wanna be
Hihi.. udah ah..
Cukup sekian dan terima kasih


 

Sabtu, 06 Februari 2010

Maumu apa, Sayang? ^_^

"Kenapa, sayang?"

"Kok kayak gitu"

"Mau apa sayang?"

"Mau minum susu? Iya? Kamu mau minum susu?"

"Jangan ribut dong..masih ada tamu. Ya?"

"Oh..mau naik pohon dulu.. Naik pohon, ya sayang?"

"Iya..nah.. Udah? Ya, jangan berisik ya sayang..."




*pagi ini, di ruang depan, sambil tersenyum-senyum mendengar percakapan antara Ibu kos dan beo kesayangannya

Senin, 01 Februari 2010

Mau bunuh diri dengan tuntas??? Try this :p

Rating:
Category:Other
Pada zaman sekarang ini, hampir setiap orang yang melek teknologi pasti mempunyai akun-entah di suatu tempat dimanapun-di internet. Oke. Kalaupun, tidak bermain internet, hampir setiap orang pernah berkomunikasi melalui handphone. Entah itu via telepon ataupun sms. Mulai sekarang, sebaiknya kita selalu waspada terhadap segala macam kecanggihan teknologi, apapun bentuknya.Ingat, teknologi itu ibarat dua mata pisau: di satu sisi biisa memberikan manfaat, di sisi lain bisa juga berbuah petaka. So, be carefull ^^

artikel dibawah ini diambil dari: http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/26/1257/sms_dan_suicide_machine


*****


Gincu di kerah baju atau rekening kartu kredit di tempat kencan. Dulu, dua barang bukti tersebut bisa jadi pemicu perseteruan pasangan suami istri. Sekarang, SMS sudah cukup membuat rumah tangga berantakan. Orang belum lupa wanita selingkuh Tiger Woods yang membeberkan SMS intim mereka di media atau politisi yang teledor membuka aib partai mereka melalui SMS.

Banyak yang menganggap SMS tidak cukup kuat untuk menyeret seseorang ke meja hijau. Namun, kini SMS justru menjadi barang bukti akurat untuk menjatuhkan seseorang. Belakangan, SMS malah membongkar sepak terjang pasangan tak setia. Bahkan, tim reserse polisi aktif mengadakan lokakarya seputar SMS sebagai barang bukti.

“Terdakwa tak mungkin mungkir bila ada bukti hitam di atas putih,” ujar Mitchell Karpf, pengacara di Miami. “Begitu ada setumpuk bukti SMS, kartu mati sudah dipegang tertuduh,” lanjut Karpf. Seperti surat elektronik email, SMS pun disimpan oleh provider dalam jangka waktu tertentu. Orang kerap lupa menghapus pesan singkat ini. Apalagi, SMS kadang diketik sekejap tanpa berpikir panjang akibatnya.

Pengacara di Amerika melihat celah baru fenomena ini. Dilihat melalui statistik biro Nielsen, perbandingan SMS dan percakapan telepon adalah 3 dibanding 1. Tiap orang per bulan mengirim 584 SMS atau kenaikan 60% selama 2009 terakhir. Sebetulnya, kita makin kehilangan privasi. SMS dianggap komunikasi private, namun tak jarang seorang istri mengintip ponsel suaminya atau sebaliknya.

“Sebaiknya jangan gunakan ponsel apabila Anda ingin menyampaikan pesan intim atau pribadi,” terang Marc Rotenberg, direktur Electronic Privacy Information Center di Washington. Pada kasus hole in one Tiger Woods, pramusaji Jaimee Grubbs ‘menjual’ SMS intim Woods ke pers. Deretan wanita lain yang pernah menjalin hubungan gelap dengan Woods serentak mengikuti langkah yang sama.

Woods cuma bisa ‘mengaku dosa’ dan berharap, keluarganya tidak dijadikan bulan-bulanan pers. “Media tidak perlu membesar-besarkan konflik pribadi atau masalah keluarga dan memaksa seseorang minta maaf di hadapan publik,” tegas pemain golf itu. Kasus lainnya menimpa mantan gubernur Detroit, Kwame Kilpatrick. Di bawah sumpah, ia berbohong tidak memiliki hubungan ‘khusus’ dengan asistennya, namun SMS Kilpatrick membongkar semuanya.

Jajak pendapat seputar jejaring sosial baru-baru ini menyebut, 12% dari 2300 responden menyesal mengirim pesan terburu-buru dan tidak memikirkan efek negatifnya. Lee Rainie, direktur Pew Internet and American Life Project, menjabarkan, “Kita makin ceroboh dengan data-data pribadi. Kisah percintaan kita bisa saja disebarluaskan tidak sengaja melalui daftar teman di Facebook atau instant messenger.”

Sherry Turkle, guru besar dan peneliti di Massachusetts Institute of Technology, 20 tahun terakhir melakukan riset mengenai tingkah laku manusia terkait perkembangan teknologi modern. Menurut Turkle, manusia mempunyai hubungan istimewa dengan ponselnya. “Berbeda dengan komputer atau laptop, telepon genggam disimpan di saku celana atau baju. Nyaris melekat dengan kulit,” terang Turkle.

“Kolega perempuan saya bahkan panik luar biasa ketika ponselnya raib. Seakan ada anggota keluarga yang meninggal. Banyak orang menganggap HP sebagai extension jiwa dan raganya. Kita dibius kemudahan dan mengagungkan fungsi ponsel. Begitu ia memojokkan kita, barulah orang sadar bahwa HP punya sisi gelap pula,” tambahnya.

Robert Stephen Cohen, pengacara pendamping perceraian eks supermodel Christie Brinkley dengan mantan suaminya, arsitek Peter Cook, memperkirakan, ruang pengadilan bakal kisruh jika SMS makin sering digunakan sebagai barang bukti sah. “Membaca SMS selingkuh beda dengan mendengar gosip. Jauh lebih menyakitkan dan serasa ditusuk dari belakang,” pungkasnya.


*) Sumber: Harian de Volkskrant “Oude sms’jes behouden hun schaduw” (17-12-2009)


*****


Privasi rentan, manipulasi data dan selektif berteman di dunia maya.

Lebih dari 70% pengguna internet di Belanda memiliki profil di Hyves, Facebook atau Twitter. Mereka antusias berbagi kehidupan dengan teman maya, baik melalui foto, film maupun pesan singkat. Hanya dengan menjawab sejumlah pertanyaan sederhana, setiap orang bisa membuat profil dan berbagi dengan kawan maya di seluruh dunia. Tak mengenal waktu dan tanpa batas! Namun, bagaimana bila tiba-tiba bosan?

“Email ini mungkin bukan ditujukan buat Anda…,” demikian balasan Hyves sewaktu seorang pengakses ingin menutup profilnya di situs jejaring sosial itu, sedangkan Facebook memperlihatkan foto-foto teman maya Anda dengan teks ‘Mereka bakal merindukanmu’. Masih belum cukup dikelabui secara emosional, data-data kita pun disimpan. Foto-foto, pesan dan info pribadi – sekalipun telah dinonaktifkan – tetap bisa diakses melalui mesin pencari Google.

Belakangan, jika ingin definitif menghapus profil di internet sudah ada aplikasi yang menawarkan kemudahan, di antaranya Suicide Machine. Hanya dengan satu klik mouse kita bisa melakukan ‘bunuh diri’ virtual. Aplikasi ini dikembangkan oleh WORM, kumpulan seniman media di Rotterdam. Sejak Desember 2009, Suicide Machine berhasil menghapus 1750 profil, 100 ribu teman maya dan 250 ribu pesan Twitter. Masih ada ribuan orang antri dan ingin memakai Suicide Machine.

“Ide kami muncul sewaktu pergantian tahun kemarin,” terang Walter Langelaar, pemimpin proyek WORM dan salah satu perancang ‘mesin’ ini. “Kami mengorganisasi acara web 2.0 suicide night. Semua daftar kawan maya kami undang dan bertemu live di bar. Setelah bertemu muka, kami berjanji menghapus profil masing-masing di internet,” tambahnya. Selanjutnya, Langelaar dan rekan-rekannya terinspirasi untuk membuat situs Suicide Machine.

Kini, aksi iseng tersebut malah menggemparkan dunia nyata. Suicidemachine.org diblokir Facebook, MySpace dan LinkedIn. CNN, BBC, koran USA Today dan majalah Time membuat laporan tentang Suicide Machine. Tiap hari, sekitar 25.000 pengunjung mengakses aplikasi ini. “Situs kami mengangkat sekaligus mengobrak-abrik tema privasi. Untung mudah mengakali pemblokiran itu. Situs-situs raksasa tersebut meraup keuntungan dari pengumpulan data. Makin banyak info yang didapat, makin menggiurkan pula pemasukan iklan dan pemasaran,” tutur Langelaar.

Langelaar: “Banyak yang tak sadar. Begitu kita membuat profil di internet, sebetulnya kita bekerja tanpa digaji untuk situs tersebut. Setiap bit yang hilang sewaktu kita menonaktifkan profil berarti membuang uang mereka. Facebook pun dalam disclaimer-nya menyebut, berhak menggunakan data anggota untuk keperluan pemasaran. Consumer targeting dalam bahasa mereka. Kita dibodohi dan ditelan bulat-bulat.”

Setelah memasukkan kode login, Suicide Machine akan menghapus seluruh daftar teman maya secara bertahap. Menurut Langelaar, prosesnya makan waktu dan intensif. Mematikan sebuah profil Facebook dengan 1200 teman membebani server sekitar setengah hari. Begitu proses selesai, profil tersebut hanya dapat diakses melalui situs Suicide Machine.

“Mimpi buruk bagi situs-situs seperti Facebook dan LinkedIn,” timpal Joran Polak, redaktur security.nl. Menurut Polak, aplikasi serupa akan makin banyak muncul dalam waktu singkat. “Orang mulai sadar berapa harga privasi mereka. Bukan cuma pemasok iklan bisa melihat data kita. Stalkers, asuransi, kolega, atasan dan bahkan kriminal pun ikut melongok. Ironisnya, justru kita sendiri yang memamerkan data-data tersebut. Inisiatif untuk menghentikan ekses negatif situs pertemanan pun bakal muncul dari pengguna internet sendiri,” lanjut Polak.

Masalah privasi bukan satu-satunya alasan untuk menghapus profil di internet. Langelaar memaparkan, “Terutama menghabiskan waktu sering disebut ganjalan utama internet. Saya bukan anti Facebook atau Twitter. Bentuk komunikasi ini sangat praktis, namun kita sering dijejali program atau permainan. Mereka ingin, pengakses membuka situs mereka berjam-jam atau kontinu mencek status kawan-kawan lainnya. Memutuskan pertemanan maya berarti mengembalikan waktu luang kita.”

Suicide Machine dianggap berjalan berdampingan dengan tren. Tom Palmert, jubir lembaga riset Trend Wolves di Belgia menuturkan, “Generasi muda cepat bosan. Cool kids tak sembarang memilih teman dan kadang sengaja liburan atau cuti secara virtual. Situs jejaring sosial pun makin dewasa. Pengguna internet ingin, kontrol ada di tangan mereka sendiri. ‘Bunuh diri’ masal tidak akan terjadi. Boleh dibilang, ini hanya semacam statement. Lagipula, bisa dihitung orang yang betul-betul menelanjangi diri sendiri di internet.”

“Situs kami mungkin hanya setetes air di gurun pasir. WORM pun bukan gerakan aktivis melainkan grup seniman. Aksi kami tidak ada artinya dibanding jutaan profil di internet. Kenyataannya, situs-situs raksasa itu memberikan reaksi dan memblokir kami. Mereka sebetulnya khawatir dengan ide di balik Suicide Machine,” tandas Walter Langelaar.

*) Sumber: Harian Trouw “Jezelf virtueel opheffen” (29-01-2010)

Groginya ke Dokter Gigi

Rating:
Category:Other
Aw, aw, aw!! Sakit gigi memang berjuta rasanya. Sebel campur sedih campur nelangsa, dan yang pasti campur sakiiiiiiiiiiiiiitttttt!!! Kalau lagi sakit gigi sepertinya lebih baik sakit hati saja. Kalau lagi sakit hati, bilangnya lebih baik sakit gigi. Tapi, mending nggak usah sakit deeh. Hmm...karena beberapa hari ini saya terserang sakit yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah menghampiri saya lagi-sakit gigi yang bikin makan nggak enak dan tidur nggak nyenyak-saya berencana untuk mengunjungi dokter gigi. Yah, walaupun dengan sangat terpaksa, tapi sepertinya ini jauh lebih baik dibandingkan jika saya mendiamkannya saja. Doakan saya, kawan..

***

Jakarta, Diantara banyak dokter, mungkin hanya dokter gigi yang paling ditakuti banyak orang. Tak hanya anak kecil, orang dewasa pun kadang memilih sakit gigi karena takut ke dokter gigi.

"Mengabaikan perawatan rutin karena kecemasan yang berlebihan bisa mengarah pada masalah yang lebih besar, sehingga nantinya membuat biaya perawatan mulut dan gigi menjadi lebih tinggi," ujar Dr Leonard Sizani, dari South African Dental Association (SADA) seperti dikutip dari Health24, Senin (1/2/2010).

Beberapa penyebab orang gugup ke dokter gigi adalah:
1. Karena takut dengan peralatan yang digunakan seperti bor.
2. Punya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan dokter gigi karena dokter giginya tidak simpatik.
3. Takut gigi akan disuntik sehingga menimbulkan perasaan tegang dan sakit secara fisik.
4. Ketakutan dokter akan memarahi Anda karena tidak rajin merawat gigi.

Jika ada salah satu dari alasan tersebut yang membuat seseorang takut ke dokter gigi, cobalah beberapa saran berikut untuk mengatasinya:

1. Pilihlah dokter gigi yang bisa berempati berdasarkan saran teman atau saudara.

Ketika memilih dokter, pilihlah dokter yang bisa berempati terhadap perasaan Anda. Dokter tersebut harus bisa membuat seseorang merasa nyaman dan aman sehingga Anda tak perlu takut. Cobalah untuk meminta rekomendasi dari teman atau saudara untuk menentukan dokter mana yang bisa membuat seseorang merasa nyaman dan tidak takut.

2. Makanan mempengaruhi tingkat kecemasan.

Mengonsumsi makanan tinggi protein seperti keju dalam waktu satu jam sebelum pemeriksaan gigi bisa menghilangkan kecemasan yang ada. Sedangkan makanan karbohidrat tidak memiliki efek menenangkan.

3. Bernapas secara teratur.

Saat cemas seseorang cenderung untuk menahan napas yang secara tak langsung meningkatkan rasa panik karena kadar oksigen yang berkurang. Cobalah untuk bernapas secara teratur dan perlahan-lahan selama beberapa detik.

4. Pikirkan segala hal yang positif mengenai dokter gigi.

Ketakutan yang timbul biasanya diakibatkan karena seseorang tidak terbiasa melakukannya. Cobalah untuk berpikir bahwa perawatan ini tidak akan seburuk yang dipikirkan karena teknologi sudah semakin maju. Dengan pemikiran yang positif, rasa takut akan sedikit berkurang.

5. Cobalah untuk melakukan teknik relaksasi sederhana.

Teknik bisa dimulai dengan melemaskan otot-otot tubuh mulai dari kepala hingga ujung kaki sambil mendengarkan musik saat sedang berada di dalam ruang perawatan dokter. Ketika sedang tegang, menarik napas dalam-dalam lalu membiarkan otot menjadi rileks akan membuat tubuh merasa santai dan rasa takut serta gugup akan hilang.

Mengunjungi dokter gigi mungkin tidak akan menjadi daftar utama bagi beberapa orang. Tapi dengan melakukan beberapa hal tersebut, rasa takut dan gugup akan berkurang dan berkunjung ke dokter gigi bukan lagi menjadi hal yang menakutkan.

(ver/ir)
sumber: http://health.detik.com/read/2010/02/01/153032/1290402/766/groginya-ke-dokter-gigi

Kamis, 28 Januari 2010

Walau Kau Gendut, Kau Masih Kekasihku

Rating:
Category:Other
Oleh: Arifwita

Sore itu gue lagi baring-baring depan tipi sambil ngipasin anak gue Ghaza yang lagi bobo pules sambil ngiler. Hebat ni anak masih umur 8 bulan ngilernya udah panjang banget...

Fatimeh, istri gue lagi di kamar. Tau lagi bersolek apa lagi tidur juga...

Lagi serius-seriusnya liatin acara MancingMania di Trans 7, ada suara kentongan penjual bakso keliling di depan rumah (oyalah masak jualannya dalem rumah sih), langsung aje beribeet..selarik sinar melesat kenceng dari dalem kamar...apaan tuh?

"Bang, mau bakso ga? pake sayuran ape kagak?" suara Fatimeh tiba-tiba terdengar dari luar dan menggema di seluruh ruangan...gilee cepet banget die denger suara tukang bakso?

"Mau, ntar Abang ke depan..jangan teriak-teriak ntar Ghaza bangun nih..repot lagi nidurinnya.." kata gue, masak sih gue nolak bakso. gue kan bakso adictif atao apelah tu namanye..

"Biarin aje Bang, Ghaza bangun..bentaran lagi kan emang mo dimandiin..Nih cepetan tukang baksonya udah mau pergi ke Paris..."

Tergopoh-gopoh gue angkat Ghaza dan gendong dalem peluka. ilernya ngebasahin baju gue...biarlah iler anak sendiri juga...

"Ade aje loe meh, tukang bakso sampe ke Paris..." kata gue setelah lewatin gerbang rumah..lah itu tukang bakso masih anteng depan rumah. masak mo dibeli dianya malah mo ngabur...

"LAh ini tukang baksonya masih dimari...dikira elo belom pake jilbabnye Meh...."
"Udah lah Bang, masak gue keluar rumah ga pake jilbab rugi di aye,,,seneng nih tukang baksonya...udah sini Ghazanye..abang deh yang pesen...Aye ga pake sayuran ye..."

Gue pun mesen bakso 2, buat Fatimeh ga pedes, ga pake sayuran, ga pake mie..cuma bakso sama kuahnya doang...buat gue lengkap minus sayuran...gue udah apal sama kesukaan istri gue..kagak perlu dibilangin..cuma kudu dibilangin biar romantis..hehe

Setelah sampe dalem rumah, bakso segera diganyang...sambil makan gue ngomong dikit
"Meh, elo kayaknya abis lahirin Ghaza, makanya tambah kuat aje..."
"Iyelah Bang..biar asi buat anak kita banyak.."
"MMm...tapi ati-ati ntar elo gendut loh.."
denger kata gendut, Fatimeh langsung berhentiin makannya dan ngeliatin gue tajem...gue jadi ngeri...ntar doi nyangka gue bakso juga lagi...

"Trus kalo aye gendut kenape Bang?"
"ye kagak ape-ape..cuma gendut aje..."
"Gitu ye, kalo aye gendut Abang udah ga suka lagi ama aye kan...trus abang cari deh yang laeennya..." kata Fatimeh berapi-api...padahal die ga makan sambel...

"Ya elah Meh, sampe segitunya..gaklah..Abang kan cuma ngasih sedikit perhatian aje ke Fatimeh...biar ga ndut gitu.."
"Iya kan ...Abang gitu..kalo aye ndut ntar pasti ditinggalin...iya kan hayo ngaku..."
"Duile..kenapa jadi begini ya? ribet amat jadinye...sungguh tak ada niatan dalam hatiku yang paling kecil sedikitpun, kecuali tuk memujamu...sesungguhnya bilapun kau gendut, kau masih kekasihku, Sayang...."



sumber: http://www.eramuslim.com/oase-iman/walau-kau-gendut-kau-masih-kekasihku.htm

Selasa, 26 Januari 2010

Aku Bahagia

Kalau kau bertanya padaku:
“Apa kau bahagia?”

Aku akan menjawab:
"Ya. Aku bahagia"


Begitu banyak nikmatNya yang telah Dia curahkan untukku.
Dulu, kemarin, hari ini.
Dan aku yakin, akan lebih banyak nikmat yang Dia persiapkan untukku, untukmu, untuk kita, untuk mereka di esok hari, esoknya lagi, dan seterusnya.

Kalau kau bertanya untuk yang kedua kali:
“Apa kau benar-benar bahagia?”

Kau bisa melihatku tersenyum.

Bagaimana aku tidak bahagia?
Begitu banyak orang di sekelilingku yang menyayangiku.
Mereka yang peduli padaku.
Yang mengingatku.
Yang menganggapku sahabat, yang menganggapku saudara.
Mereka yang hadir di saat aku membutuhkan.
Mereka dan mereka.

Kalau kau bertanya lagi padaku:
“Kau tidak bohong kan?”

Aku tidak akan menjawabnya lagi.
Kupikir kau sudah tahu kalau aku bahagia.








Sekarang, giliranku yang bertanya:
“Apakah kau juga bahagia?”




Untuk semua kebahagiaan yang dianugerahkanNya kepadaku, kepadamu, kepada kita.....
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”