Rabu, 17 Maret 2010

Kelaparaaaaannnn!!!!!!!




Ow ow ow!!!
Lapar sangaaatt, dari pagi cuma minum air putih sama makan biskuit
Googling gambar makanan, tambah bikin laper dah..
Kayak-kayaknya lagi pengen makan ini, soalnya nggak ada menu lain yang ada di pikiran.. Mikir-mikir menu lain pun, nggak kepengen tuh rasanya..
Heheh..

Enjoy..

*Maaf buat yang lagi shaum yaaa... ^^v

Rumah....di Jakarta? Hmm...

Tadi, iseng-iseng, saya ngobrol-ngobrol soal rumah sama teman kantor. Lebih tepatnya, ngobrolin tentang rencana mempunyai rumah di Jakarta (gaya beneeerrr!! kerja belum dibayar juga, obrolannya udah soal rumah aja)


Back to the past:
Kemaren-kemaren, pas masih kongkow-kongkow di ruang rapat (bahasa kerennya kongkow2, padahal sebenernya mah bengong g ada kerjaan), pas belum ada pembagian Direktorat, anak-anak baru juga udah ngobrolin tentang apartemen. Hahaha.. Lebih gaya lagi kami waktu itu. Baru lulus, masih luntang-lantung di kantor baru, ngomongnya tentang nyicil apartemen.
Mungkin, karena kami tau bakal netep di Jakarta seterusnya, jadi bahkan saat itu pun udah mulai ngobrolin tentang tempat tinggal.

Back to the present lagi (maaf, tulisan ini emang alurnya campuran :p):
Jadi tadi, saya dan seorang teman ngobrol iseng tentang beli/nyicil/kredit/whatever lah tentang rumah. Dan saya baru sadar, nyari rumah (khususnya di Jakarta) itu sama sekali bukan perkara gampang.

Yang pertama jelas faktor biaya. Come on, ini Jakarta guys! Orang-orang datang dari berbagai penjuru daerah. Jakarta sesak. Pemukiman padat. Apalagi di pusat, di kawasan perkantoran.
Rumah di pusat pasti mahaalll. Makanya orang-orang rata-rata mengambil daerah pinggiran Jakarta buat tempat tinggal. Yang berarti: jauh, macet, dsb.

Yang kedua, faktor lingkungan.
Lingkungan yang dimaksud adalah masyarakat dan lingkungan tempat tinggal. Kalau masyarakat jelas, artinya, bagaimana keadaan orang-orang di sekitar. Kalau di daerah kampus, tentu kebanyakan penghuninya mahasiswa. Kalau di daerah terminal, kemungkinan bakal banyak gaul dg orang-orang terminal.
Sementara yang dimaksud dg lingkungan tempat tinggal adalah apakah daerah tersebut bersih, nyaman, bebas banjir (banyak tempat di Jakarta yang jadi langganan banjir), dst.

Lalu pertimbangan selanjutnya adalah akses transportasi. Saya tadi sempat bilang ke teman saya:
"Aku pengennya yang ke kantornya naek angkot aja. Nggak suka naek metromini!"
Wew!
Hahaha..
Entah kenapa saya sedikit sensi dg metromini. FYI ya, naik metromini itu butuh stamina lebih. Udah naiknya buru-buru, mesti ngejar sampe tengah jalan di tengah kepadatan lalu lintas, udah gitu ga ditungguin, turunnya gitu lagi pula. Boro2 dibilangin ''check your belonging and step carefully''
Kagak maeenn..!!
Yang ada, keneknya bakal ketok-ketok jendela kaca metromini pake uang logam 'CTAK! CTAK! CTAK! CTAK!' yang artinya buat si supir adalah ''Tungguin Bang, ada yang turun neh!''
Sementara buat yang turun berarti ''Buruan woii!!!''
(heheh...kok malah jadi ngomongin metromini gini =P)

Jadi, intinya, transportasi itu penting-ting-ting-ting! Transportasi dan jarak menentukan kehidupan pekerjaan kita selanjutnya. Udah tau jauh, berangkat naik angkutan, macet, beuuh..!

Lalu yang selanjutnya adalah fasilitas. Ada apa aja tuh, di daerah sekitar rumah.
Makannya gampang nggak? *ini terutama buat yang suka makan di warung
Ada minimarketnya nggak?
ATM gimana?



Haduh..haduh..
Pusing kan??
Ternyata cari rumah tu ga gampang sodara-sodara.
Ada yang mau nambahin pertimbangan lainnya?
Sok atuh..



*Maaf tulisan nggak jelas gini. Maklum, dketik lewat HP dan tanpa perencanaan konsep yang matang :D

Minggu, 14 Maret 2010

GEREGETAN

Rating:
Category:Other

Ku lihat lagi.. wajahnya
Ku lirik lagi.. dia
S’makin ku pandang.. wajahnya
S’makin rupawan.

Matanya.. memancarkan cinta
Senyumnya.. manja nan menggoda
Gayanya.. wajar mempesona
Siapa dia.. hey.. hey..

Reff :
Geregetan..
Jadinya geregetan
Apa yang harus kulakukan
Geregetan..
Duh aku geregetan
Mungkinkah aku jatuh cinta

Ku coba.. ku sapa dirinya
Ku tanya.. siapa namanya ( Hey sayang..)
Ku dengar.. desah suaranya *Andiah: sedikit mengernyit*
Oh lengkaplah sudah

Back to Reff

Geregetan..
Duh aku geregetan
Mungkinkah aku jatuh cinta

Minggu, 07 Maret 2010

Andiah




Katanya, "ini gambar kamu pas udah jadi Kasubag TU dan udah punya anak 3..."

Hahaha....
Secara, gambarnya, berdasarkan penuturan beberapa orang-dan saya sendiri-nggak ada mirip-miripnya sama Andiah

"Kalo udah punya anak kan jadi endut, ntar juga mirip"
Dasaaarrr..!!

However, tengkyu marengkyu buat my friend yang udah bikin nih gambar. Good joob! Haha...

Rumahku bukan surga...

Dulu, ketika pertama kali membuka-buka buku "Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta" kepunyaan salah seorang teman, saya menemukan sebuah tulisan yang langsung membuat saya jatuh hati. Halaman 337, di bilik kelima "Membangun Maskanah, Tak Sekedar Rumah" ada sebuah puisi indah, begini bunyinya:


bukan surga, tapi serambinya
rumahku hanyalah sebentuk bait
tempat melabuh rindu, membagi tawa dan pangkuan,
lalu wangian surga semilir bersama tahmid
tempat menegak malam dengan dzikir menggigil dan tangis pertaubatan
rumahku adalah rasa aman dalam genggam jemari Ar Rahmaan
rumahku adalah juga derak kekhawatiran
agar tiada lena dalam fana
rumahkulah kutub yang mendamai hati dan sesenyum rasa
"Masuklah, berselimut, rehat!"
terkadang ia mentari yang menyala, menegur hati, dan menggerak
"Keluarlah, da'wah, jihad!"
rumahku perhentian,
tempat iman diperbarui dan ruh diisi ulang
lalu aku harus keluar membukti amalan
rumahku, menawan tenteram, menggerak bandang
rumahku
mungkin bukan surga, tapi insya Allah
serambinya





Rumahku nanti, jika ia tak seperti surga, izinkanlah ia menjadi serambinya saja, Ya Allah...
hanya serambi..
sebagai jalan para penghuninya untuk benar-benar masuk ke surgaMu..

Selasa, 02 Maret 2010

(My first Flash Fiction) Untitled

Ami mengerjap-ngerjapkan matanya. Sesekali menguap. Masih mengantuk. Dengan enggan dia meraih handphone yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya. Jam enam kurang lima menit.

“Huwaaaa!!”
“Belum sholaaatt!”

Dak-duk-dak-duk! Setengah berlari dia menuruni tangga, menuju kamar mandi, wudlu, lantas menyambar mukena di ruang sholat. 5 menit kemudian dia sudah berlari kembali ke kamarnya di lantai dua.

“Nggak usah mandi aja pagi ini. Ntar telat ketinggalan kereta!” sungutnya sambil meraih handphone-nya lagi.

Jam enam lewat dua menit. Kereta berangkat jam enam lima belas. Kalau tidak bisa mengejarnya, dia harus menunggu sejam lagi. Padahal jam setengah delapan dia harus sudah sampai di bakal kantornya untuk  wawancara kerja. Hari sepenting ini. Kenapa mesti bangun telat?? Ami merutuki diri sendiri.

Tergesa-gesa dia memakai kerudung. Ugh! Kalau saat-saat genting macam ini pake kerudung aja susah! Setengah frustasi dia menjejalkan berbagai macam barang ke dalam tas. Dilihatnya kembali layar handphone-nya. Enam lewat delapan menit. Dia mau naik ojek saja ke stasiun. Kalau jalan kaki, pasti nanti ketinggalan kereta.

Kembali dia berlari menuruni tangga. Lalu langsung melesat keluar.

“Sepatu mana?? Sepatu?? Duuhh…” panik dia mencari sepatunya di antara tumpukan sepatu dan sandal milik anak-anak kos.

“Ami, mau kemana rapi amat?”
“Iya, ngapain lo Mi?” sapa dua teman kosnya yang baru masuk halaman.
“Hari ini kan gue wawancara kerja. Kalian jahat amat si, nggak bangunin. Kan jadinya kesiangaaan...” katanya sambil memakai sepatu.
“Sore ini?”
“Iya!”
“Hari Minggu gini?”
“Iii……..” kata-katanya terhenti, “Emang ini hari Minggu ya?”
“Ya ampun, Ami. Linglung ya?? Makanya, jangan tidur sore-sore sayaanngg.....”
“ Hahahaha!!”

Ami masih tertegun memandang kedua sahabatnya. Dia lalu mengecek handphone-nya lagi. Jam 6.15 p.m. Kereta sore pasti sudah berangkat.


***


masih baru belajar bikin flash fiction..barruuu aja belajar..
Jadi mohon dimaklumkan hasilnya..

Senin, 01 Maret 2010

Menjemput Impian ^.^/

 









Saya adalah seseorang dengan banyaaak mimpi.. Dengan banyak keinginan dan pemikiran di dalam otak. Begitu banyaknya sampai saya bingung kalau harus menyebutnya satu per satu.
Saya ingin pergi ke sini, pergi ke situ. Saya ingin bersekolah sampai tingkatan ini, tingkatan itu. Saya ingin punya anak ini, itu. Saya ingin buka usaha ini, itu.
Duuuhhh banyak deh..



Daripada bingung-bingung, sekarang lebih baik kita persempit cakupan mimpi saya itu. Kali ini dalam bidang pekerjaan ya?
Jujur, saya tidak pernah berpikiran untuk menjadi seorang PNS, pekerja kantoran, yang bekerja dari pagi sampai maghrib menjelang. Menekuni komputer dan berkas-berkas di meja. Mobilitas sedikit, dan bersosialisasi dengan orang banyak pun bukan prioritas pekerjaan.
Dulu saya pikir, saya adalah orang yang cocok untuk bekerja di balik meja. Berhubungan dengan barang-barang, bukannya dengan orang-orang. Saya kan pendiam, jadi saya rasa pekerjaan semacam itu cocok untuk saya. Tapi, seiring berjalannya waktu, meskipun saya masih pendiam, saya sudah bisa lumayan berkomunikasi, dan saya pikir saya juga bisa melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang.

Sungguh, bukannya saya tidak bersyukur mendapatkan pekerjaan seperti yang saya lakoni sekarang (Wait! Mendapatkan? Mencarinya saja tidak. Saya hanya menunggu saja. Ya, menunggu tanpa berusaha mencari-cari pekerjaan). Syukur teramat sangaat ya Allah,,atas segala kemudahan ini … Syukur yang teraaaamat sangat.  Kuliah gratis, uang saku dapat. lulus langsung diberi pekerjaan, insya Allah diangkat menjadi PNS (doakan kami…), kurang nikmat apalagi coba?

Saya bersyukur bekerja di sini, di tempat seperti ini. Tapi saya pikir, saya punya impian yang masih mengendap di dalam kepala saya.
Impian mengenai ‘pekerjaan impian’. Pekerjaan yang apabila di sana, saya rasa, saya akan dengan senang hati menjalaninya.

Pekerjaan –pekerjaan impian yang pernah saya pikirkan adalah:

-    Bekerja di redaksi sebuah majalah. Sepertinya menyenangkan, berada di dunia yang sangat saya sukai sedari kecil. Dunia baca dan tulis (kayak slogan aja nih). Sepertinya saya akan bekerja di sini dengan penuh suka cita dan tanpa beban. Saat ini, pekerjaan ini yang paling menarik bagi saya.

-    Menjadi penulis dan menerbitkan buku. Tidak tau buku macam apa yang ingin saya terbitkan. Tapiii…impian yang satu ini ingiiiiinn sekali saya wujudkan. Jadi PNS yang juga penulis .. Aamiinn..

-    Apapun bentuknya itu, pokoknya saya ingin menulis dan terus menulis. Ingin berperan aktif dalam dunia kepenulisan. Ingin menjadi orang yang dibaca karyanya, bukan sekedar membaca karya orang lain. Semoga suatu hari nanti mimpi itu akan terwujud. Aamiin.. (lagi)

-    Ingin jadi guru. Dulu sewaktu akan masuk ke perguruan tinggi, saya menolak dengan keras gagasan orang tua yang menyarankan saya untuk jadi guru saja. Saya tidak tertarik mengajar. Apalagi harus berbicara di depan kelas? Oh, no! Saya pikir itu bukan ide yang bagus. Tapi sekarang, saya pikir saya ingin juga menjadi guru. Mengamalkan ilmu yang dimiliki, lantas berbahagia saat sang murid memahami, mengerti yang diajarkan, dan beranjak menuju kesuksesan mereka.

-    Menjadi business women. Membuka butik, atau toko, atau apalah semacamnya yang menjual pernak-pernik muslimah. Dengan barang-barang yang didesign sendiri. Baju, jilbab, tas, atau semacamnya. Saya suka menggambar, dan walaupaun saya tidak pernah mendesign sesuatu sendiri, itu pasti akan jadi pekerjaan yang menyenangkan….dan memuaskan ketika kita melihat hasil akhirnya




Hwaaaa… and so many things I wanna do..!!!!!


Tapi, bisakah? Mampukah??
Insya Allah, kalau kita punya niat lantas menjalaninya dengan penuh kesungguhan, tidak ada hal yang tidak mungkin kita raih.
 


Jadi, jika suatu hari nanti teman-teman MPers melihat nama Andiah di sebuah buku, atau di majalah, atau menjadi pemilik sebuah brand ternama, teman-teman tau kalau saya pernah memimpikan semua itu..



*Ahh..mimpi aja Andiah… ayo banguuuuuunnnnn!!!!




























*gambar diambil dari google