Rabu, 12 Januari 2011

Dari walimah sahabat, kupat tahu, sampai mantan-mantan (bagian 2)



Oke, setelah beristirahat, setelah tidur cukup nyenyak, setelah perut sedikit kenyang, mari kita lanjutkan cerita kita tadi (lihat cerita sebelumnya di sini)



.....

Singkat kata, setelah pulang dari walimah Ocha & Icha, kami pun melaju ke Temanggung. Berangkat dari Solo sekitar jam setengah dua siang, naik bis patas AC jurusan Magelang. Ngobrol, bercanda, diskusi, tidur, makan. Begitulah selama dalam perjalanan Solo-Magelang (via Jogja). Sore menjelang. Sekitar pukul 5, bis kami mulai tersendat di daerah Tempel, Magelang. Macet. Mirip seperti  jalanan di Jakarta. Berkilo-kilometer, bis berjalan seperti siput. Usut punya usut, ternyata daerah di depan adalah daerah yang terkena banjir lahar dingin. Rumah-rumah tertutup pasir setinggi atap, batu-batu besar bergelimpangan.  Tepi jalan raya sudah seperti tebing, kanan kiri pasir setinggi 2 meter.


suasana banjir lahar dingin, Magelang
*gambar dari Google


Gerimis kala itu, lama-lama menderas menjadi hujan. Alhamdulillah, kami sudah melewati daerah itu saat hujan deras turun, karena dari berita, malam hari itu banjir lahar dingin kembali terjadi, dan jalanan mulai tertutup lagi, bahkan ada bis yang terendam pasir..


Bis kami masuk terminal Magelang saat hujan deras turun. Belum sempat menarik napas, kami berdua berlari-lari mengejar bis kecil yang akan membawa ke Temanggung. Kata mas, bis ke Temanggung sudah habis kalau malam menjelang. Jadi ketika ada satu-satunya bis petang itu mulai berangkat, kami mengejarnya.

Sampai di kota Temanggung, jam setengah delapan malam. Kami dijemput dengan motor oleh bapak dan salah seorang saudara. Akhirnya, sekitar jam 8 malam, kami pun sampai di rumah.

2 hari di Temanggung, dan hp saya tidak kebagian sinyal sama sekali. Entahlah. Hp manja. Waktu di Purbalingga, nggak dapet sinyal, di Temanggung juga sama *ketok sayang hp

Malam Selasa, malam sebelum kepulangan, ngajakin keluar makan adek-adek sepupu cewek mas. Prima, Azkia, dan Dek Vina. Modus utamanya makan-makan, modus sampingannya, mas mau mendiskusikan masalah kelajutan kuliah Azkia yang sekarang sudah kelas 3 SMA. Pilihan kami, atas rekomendasi Dek Kia, jatuh ke rumah makan “Omah Kebon

Sesampai di sana, sueeepiiii reeekk! Pengunjungnya cuma kali berlima. Mungkin karena bukan hari libur. Secara tempat,  oke. Asik. Menyenangkan. Recommended deh. Suka konsepnya. Sayang, nggak difoto. Kalau secara makanan, menurut saya biasa saja. Yah, karena kami hanya berlima, di tempat seluas itu, jadi bebaaass. Serasa rumah makan pribadi, hahaha. Ngobrol ngalor ngidul, tanya ini-itu, diskusi, kadang ikut kasih nasehat, lalu pulanglah kita saat jarum jam menunjukkan angka 9.
 
Sepertinya, kali ini tidak ada agenda jalan-jalan. Maklum, hanya dua hari di sana. Kendaraan pun tak ada. Jadi, hanya bersantai di rumah saja. Dan kemarin sore, kami pun bersiap kembali ke Jakarta.

***

Sembari menunggu bis yang akan berangkat ke Jakarta, saya ngobrol dengan Prima, yang ikut mengantarkan kami ke pujasera sore kemarin. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada tulisan “KUPAT TAHU” di salah satu warung di sana. Dan tiba-tiba saya pun ingat: saya pengen kupat tahu!! Iyaa, saya kan pengen makan kupat tahu, sebelum sampai di Temanggung kemarin itu.

Seketika saya langsung menengok ke arah mas yang sedang duduk bareng bapak dan bilang, “Pengen kupat tahuu....” hahaha.. LOL. Pengen kupat tahu di saat-saat akhir. Lagipula warungnya ternyata tutup. Yo wes lah. Eh, tapi ternyata ada yang nawarin buat beliin kupat tahu, “Sini biar aku beliin aja mbak” kata Prima. Setelah ngobrol bla bla bla, bisnya kayaknya telat deh,  bla bla bla, akhirnya diputuskan Prima cari kupat tahu. Nanti kalau bisnya keburu berangkat, biar kupat tahunya dibawa pulang.

Kami pun melanjutkan mengobrol santai sambil menunggu pesanan kupat tahu dan bis Jakarta. Nasib ternyata kurang berpihak pada saya. Bis Jakarta datang tak lama kemudian, sementara kupat tahunya belum juga datang. Mulai harap-harap cemas. Bukan masalah kupat tahunya sekarang. Saya takut tidak sempat berpamitan dengan Prima, yang sedang sakit, tapi masih mau mengantar, plus beliin kupat tahu. Sampai akhirnya kami naik ke dalam bis, Prima belum juga kelihatan batang hidungnya.  

Bis melaju. Sampai di gerbang pujasera, bis memelankan lajunya, menyeberang ke lajur jalan depan, sedikit berbelok. Dari kejauhan, Prima dan motornya terlihat. Mendekat. Dan berhenti di sisi kanan bis. Sedikit terkejut melihat bis berangkat. Untung kami ada di sisi jendela yang tepat, jadi bisa dadah-dadah dari dalam bis. Bis menyeberang ke lajur kiri, dan gadis pengantar kupat tahu tertinggal di belakang.

Prima, gadis pengantar kupat tahu
*foto diambil dari fesbuk


***

Mulailah perjalanan kami. Kembali ke metropolitan city.

Cerita pun bergulir lagi, mas menunjukkan tempat-tempat tertentu. Sampai ke suatu wilayah, Parakan, kalau tidak salah. “Dulu waktu sma sering main ke sini nih sama temen-temen

Saya bilang,”Maen ke tempat cewek yang dikecengin ya???

Dan dia menjawab,”Enggaklah. SMA nggak suka gitu-gituan. Nggak suka cewek. Kalo yang suka mah banyak

Beeuuh! Mulai deh. Kalau lagi berdua aja, bisa ngomong kek gitu, coba kalau lagi rame-rame. Suaranya ilang nggak tau kemana.

Karena pancingan itu, saya jadi iseng-iseng bertanya tentang cerita masa lalunya. Selalu suka kalau mas sudah mulai cerita. Apa saja. Dan kali itu, saya menginterogasinya tentang mantan-mantannya. Setiap kali dia menyudahi cerita, saya minta cerita lagi. Siapa mantan ceweknya yang tercantik, siapa yang terpintar, siapa yang tercerewet, siapa yang ini, siapa yang itu. Sambil sesekali protes: “Loh, si A emang mantan mas?? Kan bukan? Orang nggak jadi cewek mas..” hahaha!

Nggak tau deh, saya suka mengorek-orek cerita masa lalu mas, hehehe.

Dan akhirnya,”Kalo aku, aku jadi yang ter-apa dong???!!”

Jawabnya,”Terakhir


Apaaa??! Cuma itu doanng??!!! Gggrrr..

Selasa, 11 Januari 2011

Dari walimah sahabat, kupat tahu, sampai mantan-mantan (bagian 1)



Weekend kemarin merupakan wiken panjang, wiken dimana saya untuk pertama kalinya (akhirnya) mengambil cuti tahunan, Yay!!

Kebetulan tanggal 9 Januari lalu merupakan hari bersejarah salah satu sahabat dekat, kawan karib, partner in crime, Rosaria Endah Meitasari, atau yang kita kenal sebagai ukhtikecil88. Yaaang melangsungkan walimahnya dengan teman seperjuangannya di BPKP Ariesca Kamajaya Suryaman, a.k.a ariescakamajaya.

Tidak ingin melewatkan hari spesial tersebut, saya pun jauh hari sudah memikirkan bagaimana cara untuk bisa datang ke Solo. Beruntung, ada mas yang selalu siap-sedia menemani kemanapun saya pergi. Setelah dulu ke Jember, menghadiri walimah juga, kemarin kami akhirnya ke Solo. Lagi-lagi hanya berbekal nama daerah tempat tinggal sahabat. Karena dua undangan (Jember maupun Solo)-yang pastinya ada denah tempat acara-tidak sampai ke tangan. Dan, masih akan setia menunggu sederet nama lagi yang acaranya akan saya datangi berdua dengan suami. Para sahabat dekat. Mereka yang namanya sudah dicatat: harus datang ke walimahnya. Dan karena saya merasa wajib datang, maka suami pun merasa wajib menemani, heuheu (Luv u dah!!). Cant wait for another travelling!



OK, jadi, mari kita mulai ceritanya (Loh,emang daritadi ngapain??)

Pertama-tama, kami berangkat dari kontrakan hari Sabtu, sekitar jam setengah delapan malam. Di tiket tertulis keberangkatan kereta Senja Utama Solo jam 20.15. Sesampainya di Stasiun Senen, kami sholat isya terlebih dahulu. Setelah itu, kami menunggu. Menunggu dan menunggu. Dan ternyata, keretanya terlambat. Oh, great! Jadi ingat waktu mau ke Jember, pesawat ke Surabaya juga delay. Dan saya sudah ketar-ketir takut tidak bisa melihat dua temanku bersanding di pelaminan.  Finally, setelah menunggu sekian lama, kereta pun datang sekitar jam 9 malam. Dan ya, kami pun berangkat ke Solo. Horeeeee...!!!

By the way, anyway, busway, karena belum tau rute perjalanannya, saya pun sms teman yang punya hajat. Diberitahulah kami rutenya. Katanya dalam sms:  “Dr stasiun solo balapan naik taksi ke terminal tirtonadi. Trs naik bis yg jurusan matesih (putra perkasa/gaya putra/handoyo), turun terminal matesih (trakhir). Trs naik ojek ke balai desa.”

Oooh, ya ampuun, saya bahkan baru tau kalau acaranya di balai desa, bukan di rumah -__-

Dan yah begitulah, kami pun sampai di Solo pagi harinya, sekitar jam 7 lebih. Keluar kereta langsung cari taksi. Wah, ada loket taksi. Pergilah kami ke sana. Solo balapan-terminal tirtonadi: 25.000. Hhmm...oke

Keluar stasiun, mata berputar-putar mencari sedan Limo (taksi.red), yang sejauh mata memandang tidak ada di sudut manapun. Tiba-tiba seorang bapak, rambutnya beruban, dengan seragam biru kucel menghampiri kami dan bilang, ”Saya supir taksinya” dan dibimbinglah kami menuju mobil...L300. Hah?? Jadi ini taksinya?? Saya dan suami berpandang-pandangan. Di dalam mobil saya bilang: “Waah, sayang banget ni mobil. Cuma isi dua orang” padahal, kalau mau diisi 10 orang juga bisa."

Solo balapan-terminal tirtonadi, 10menit (atau kurang), Rp. 25.000, dengan menggunakan taksi L300. Baiklah, hitung-hitung pengalaman (hey, pengalaman itu mahal, kawan )

Di terminal sarapan sebentar, bersih-bersih, dan siap menuju tempat walimah. Lagi-lagi kebingungan. Mencari-cari nama bis sesuai dengan yang disebutkan dalam sms. Nihil. Tanya ke pak polisi. Ditunjukkanlah tempat dimana kami seharusnya menunggu. Tapi bisnya sedang kosong. Dan oleh orang-orang di sana kami diberi tahu: “Oohh.. kalau mau ke sana, naik bis itu aja. Ini daritadi bis ke sana nggak ada. Mungkin masih lama. Jarang memang.”

Ya sudahlah, kami manut saja, daripada kelamaan.

Naik bis X, di belakang supir, sambil minta ditunjukkan jalan. Waktu sampai di suatu perempatan di karanganyar, supirnya bilang, “Mas, turun di sini, nanti naik bla bla bla

Turun lagi, tanya-tanya sebentar dengan orang yang ada di situ, dan segera naik bis lain yang lebih kecil. Dimulai perjalanan melewati daerah persawahan. Berkelak-kelok. Dan kami disuguhi pemandangan khas kampung di dalam bis kecil itu. Orang-orang saling mengenal! Padahal yang satu naik darimana, yang lain naik darimana, tapi kemudian bisa mengobrol akrab di dalam bis. Padahal bis itu berjalan berkilo-kilometer jauhnya! Coba bandingkan dengan saya di Jakarta sini. Kenal tetangga?? Paling cuma sebatas tahu saja..

Beberapa lama kemudian, masuk rombongan ibu-ibu dan simbah-simabh berpakaian rapi, berkebaya. Curi-curi dengar obrolan mereka, saya menyimpulkan: mereka juga mau datang ke nikahan sahabat saya. Horeeee, dapat titik terang!!

Dan akhirnya, setelah melewati gunung dan lembah, sampailah saya di BALAI DESA MATESIH.

Waaahh, sudah ramai sekali. Para penyambut tamu dari pihak keluarga, yang berseragam merah, berderet-deret di depan balai desa, menyalami satu-satu tamu yang masuk. Sebuah tenda besar disipakan di depan balai desa. Undangan-undangan berpakaian rapi. Mobil-mobil di parkiran.

Saya dan mas bingung. Tas ransel dan koper ini mau diapakan?? Masa masuk ke dalam bawa tas dan koper? Akhirnya kami minggir dulu, menepi ke parkiran. Dan tak disangka-sangka, sang manten sedang duduk di sana menanti saat dipanggil ke pelaminan. Huwaaaa!! Cipika-cipiki dulu sama manten perempuan yang cantiiiiiiikkkk. Tapi sayang, lupa buat foto

what a beautiful bride
*foto diambil dari fesbuk


Setelah kebingungan, akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan ransel dan koper kami di suatu tempat tersembunyi di parkiran itu. Benar-benar ditinggal. Yang dibawa hanya dompet.

Setelah memasukkan amplop *ups* kami mencari tempat duduk. Pilih yang di luar balai desa sajalah, yang di dalam sudah penuh. Maunya foto-foto, tapiiiiii hp saya mati, hp mas sakaratul maut, dan kamera yang sudah dibawa jauh-jauh mati kehabisan baterai. Hiiiiiikkkksssss!!!!!!  *nangis darah. Ya sudahlah, duduk tenang saja. Tapi, duduk tenangnya ternyata cuma sebentar. Karena saya melihat teman-teman saya kemudian. Ada yang dari Jakarta, ada yang dari Solo aja, ada yang dari Malang, ada yang jauh-jauh datang dari Balikpapan, si Phesona Elok a.k.a sebeningmentari, ada pasangan muhammadishak dan cepaka yang dipanggil-panggil tidak dengar *piss*, dan beberapa teman lain. Heboh ketemu, heboh cipika cipiki.

Acara selesai, dilanjutkan foto-foto, dan pulang deh! Untung, waktu pulang itu dapet tumpangan. Jadi, saya dan suami, juga beberapa teman lain, diantar ke terminal oleh si pemilik mobil yang baik hati.

Di terminal sholat dzuhur dulu, lalu langsung cari bis ke Temanggung, untuk liburan sementara waktu di rumah mertua..



bersambung



Ceritanya disambung lagi nanti ya?? Ternyata capek nulis banyak-banyak.. *ngos-ngosan

Rabu, 05 Januari 2011

Identitas Dunia Maya

Coretan ringan di sela makan siang


Let me think, sejak kapan ya, saya berkenalan dengan internet?? Sepertinya, saat saya SMA. Saat itu saya sering menggunakan fasilitas chat MiRC. ID yang sering saya pakai adalah: Aida, Annida, Allisha, atau Ai (hahaha, ternyata sekarang saya banyak menemui teman yang namanya seperti itu)

Kapan punya email pertama?
Errr...yang ini saya lupa. Tidak ingat sama sekali. Yang saya ingat cuma email yang saya pakai sekarang. Dua-duanya ber-id: andiahzahroh

Kapan punya blog pertama?
Blog pertama saya ada di Friendster Andiah Zahroh. Setelah itu, saya punya MP: andiahzahroh.mulitply.com dan blogspot: andiahzahroh.blogspot.com Sebenarnya, ada blog-blog lain, tapi saya sudah lupa apa alamat atau id-nya.

Punya Fb, sekitar akhir tahun 2009, namanya Andiah Zahroh juga. Lalu, punya twitter baru-baru ini, id-nya andiahzahroh

Saya pikir, kenapa ya saya tidak memakai id yang bukan nama saya?? Kenapa semuanya harus ANDIAH ZAHROH?? Sebenarnya, hanya karena alasan sepele. Saya tidak bisa menciptakan nama baru yang cantik. Banyak orang memakai unsur alam (biasanya yang cewek nih), atau sesuatu yang sepertinya keren. Kenapa orang-orang kreatif mengarang nama yang bagus dan unik, sementara saya tidak punya inspirasi untuk itu?

Tapi, selagi menulis blog ini, saya punya beberapa karangan id yang....emmm.... lumayan-lah, menurut saya:
secerahlangitbiru
bintangkejora
bungaditepijalan
padangilalang
lembayungpagi atau lembayungsenja
*udah ada yang punya id di atas?

hei, saya juga punya nama alay yang baru terpikirkan:
AndiaH chuantiXxx issterinyahh mAs Uut kiYuth

Mungkin suatu kali bisa coba dipakai di Fb, hahahaha *just kidding

Surat dari Suami

Pagi ini, entah kenapa hawa malas merasuki seluruh tubuh. Perut juga belum mau diajak berdamai, meskipun kondisinya lebih mendingan dibandingkan hari kemarin. Berniat mengerjakan sesuatu, saya malah menemukan tulisan ini di salah satu folder. Yah, baca dulu deh, biarpun dulu juga pernah baca. Dan karena saya udah lama ga nulis blog, saya copas aja ke sini yee... Kayaknya si tulisan ini sudah sering ada dimana-mana. Tapi ga papa, buat diingat aja. Dan yang belum pernah baca, silakan dinikmati :))


***



Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan"
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.  Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok." Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus  memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.".

"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."

"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."

"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati  matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."

"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu."

"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur,  tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu  puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.".

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.



Let's your tear drop and feel the sense of love...!

Selasa, 04 Januari 2011

Nostalgia Buku Masa Lalu (part 1)

Terinspirasi dari postingan ukhtikecil88 tentang buku, saya merasa diajak untuk kembali bernostalgia ke masa SD. Awal dimana saya mulai mencintai buku.

Kisah cinta saya dengan buku dimulai pada masa-masa itu. Mungkin, kalau dipikir-pikir, bapak yang berprofesi sebagai guru SD lah yang paling berperan terhadap kecintaan saya terhadap buku. Ah, saya masih dengan jelas menyimpan memori-memori itu di dalam kepala. Betapa setiap hari, saya akan menunggui bapak pulang sekolah. Tiduran di kursi ruang tamu sambil asyik membaca buku. Dan begitu suara motor bapak terdengar, saya langsung lari ke depan rumah menyambutnya. Sering, bapak pulang sambil membawa beberapa buah buku perpustakaan. Buku-buku itu dikeluarkannya dari dalam bajunya. Begitu cara bapak membawa buku.

Ada bbuku-buku jaman SD yang jadi favorit saya, dan saya kenang sampai sekarang. Let me see. Siapa tau ada buku yang sama-sama pernah kita baca:

1. Si Bungsu

Bercerita tentang seorang anak bungsu dari (saya agak lupa) 25 bersaudara. Si Bungsu adalah anak yang dilupakan oleh saudara-saudaranya. Saat saudaranya bermain ke hutan, dia tidak diajak. Tetapi, dia mengikuti secara diam-diam rombongan kakak-kakaknya. Cerita berlanjut sampai rombongan itu menemukan telaga, yang berada di dekat jurang. Dan entah bagaimana ceritanya (karena saya lupa), mereka semua jatuh ke jurang. *akhirnya, mereka semua terselamatkan oleh selendang si Bungsu. Tapi, kenakalan mereka perlahan-lahan mulai memudar. Semakin besar, mereka semakin dewasa. Semakin lama pula, si Bungsu bertumbuh menjadi gadis yang cantik. Pokoknya, pada akhirnya, si Bungsu menikah dengan pangeran bernama pangeran Dadap.

Di dalam buku ini terdapat tiga cerita. Satu cerita mengenai gadis penderita kanker (yang kakinya membengkak seperti kaki gajah). Dan satu lagi cerita mengenai perjuangan isteri almarhum polisi-yang mati ditembak penjahat-bersama anak-anaknya yang masih kecil.

2. Si Ipul

Sejauh otak ini mengingat-ingat, saya tidak bisa dengan yakin mengatakan kalau buku itu berjudul si Ipul. Buku ini saya baca di rumah saudara, dan dia juga mengatakan, kalau judulnya sepertinya adalah si Ipul.
Saya sukaaaaaa sekali dengan cerita-cerita di dalam buku ini. Bukunya tebaal, dan berisi banyak bab, dengan sub judul yang berganti-ganti. Gambarnya pun lucu. Saya masih ingat, si Ipul punya 2 orang adik. Yang satu sudah agak besar, yang satu masih bayi. Saya ingat adiknya dipotong dengan gaya rambut batok kelapa oleh si kakaek. Saya ingat, adiknya yang masih bayi pernah dikira diculik hantu, tapi ternyata dia hanya terjatuh ke kolong tempat tidur. Saya ingat Ipul ke kota naik delman bersama ayah. Saya ingat, potongan cerita si adik mencari telur bebek di rerumputan belakang rumah. Atau cerita-cerita tentang cendawan musim hujan, tentang burung ayam-ayam, tentang kaleng tempat makan dan minum. Dan beberapa kisah lain

Aaahh...saya ingin sekali menemukan buku ini. Tapi sayangnya saya tidak punya :(

3. Cerita tentang meletusnya Gunung Galunggung, Tentang seorang anak laki-laki yang berlarian sepanjang menghindari letusan, sembari mencari-cari Ibunya di antara pengungsi.

4. Cerita tentang liburan ke Lembang (sebenarnya, kisah tentang liburan-liburan ini ada banyak, tapi saya ingatnya yang satu itu :D)

5. Cerita Bali tentang leak

6. Kisah bawang merah dan bawang putih

7. dan masiiiih banyak lagi

Oya, Saya juga mengenal istilah green house effect dari buku bergambar pinguin jaman SD dulu.


Ah, ceritanya dipending dulu ya, lanjut lain waktu. Tulisan ini pun dibuat dengan kilaaaattt, jadi belum sempat mengingat-ingat banyak judul buku

Selasa, 28 Desember 2010

Ketika harus memilih...

Memilih bukan pekerjaan yang mudah ya? Absolutely YES! It is not easy

Beberapa hari ini suami dihadapkan pada beberapa pilihan berkaitan dengan masa depan pekerjaan. Ada beberapa tawaran, dan jelas tak mudah memutuskan. Jadi sebentar bilang mau ikut ini, mau ikut itu. Kalo ikut ini, kayak gini, kalo ikut itu kayak gitu.

Saya sebenarnya mendukung apa saja, apa saja asalkan itu benar-benar pilihannya. Toh, saya juga tak tahu menahu ada apa di sana.

Ada yang menawarkan posisi lebih tinggi, tapi dia takut merasa bosan di sana, tidak berkembang, dan akhirnya malah menurunkan kualitas kinerja. Ada yang menuntutnya harus sering2 keluar pulau. Ada yang ini ada yang itu.

dan tadi: "Mas pilih jadi auditor lapangan aja ya?"

Saya sudah siap tarik napas panjang lagi trus mewek, kalo dia bilang: harus sering keluar kota.
Tapi, "Pegang cabang2 di daerah Senen, biar ga keluar kota, biar bisa makan siang bareng isteri..hehehe "


terharuu......


Paket Cinta



Ini postingan telat banget sebenernya. Sudah ditulis beberapa hari yang lalu. Cuma, karena komputer kantor susaaaaaahhhh banget buat upload foto, jadinya ga dipublish-publish

Paket ini saya terima hari Senin minggu lalu, di hari pertama masuk kantor, setelah long weekend dan kepulangkampungan saya. Kadang, saya takjub dengan yang namanya persaudaraan dan kepercayaan. Bahwa orang yang belum pernah kenal sebelumnya, hanya karena interaksi di internet saja bisa demikian percaya. dan lalu, terbangunlah ikatan cinta di antaranya.

Seperti itu jugalah yang terjadi antara saya dan kak Rien. Belum pernah temu muka sekali pun, ataupun sekedar saling mndengarkan suara masing-masing. Hanya untaian kata dan kalimat saja yang sahut-menyahut di layar komputer. Namun, terasa sudah lama kami bersahabat.

Berawal dari QN, berawal dari janji di MP, akan membawakan oleh-oleh LN yang bukan cokelat atau gantungan kunci, kak Rien kemudian menanyakan alamat saya. Wah, saya cuma bercanda lho waktu itu, asli, suer! Tapi lantas, dia bilang, kalau tidak sempat memberi apa-apa sewaktu saya menikah, jadi anggaplah ini kado darinya.

dan kemarin, sampailah juga paket cinta itu:

tas mungil, gantungan kunci, dan cokelat

Sungguh, walaupun harganya tidak seberapa kata kak Rien, tapi paket itu memberikan nilai tersendiri.


dan mari kita dengarkan hadits berikut ini:

"Saling memberi hadiahlah, niscaya kamu akan saling mencintai" (HR Bukhari)

“Hendaknya kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian.” (HR. Tirmidzi dan dan Ahmad)