Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2011

Ngumpet di toilet itu bener-bener......... nggak enak!!!

Setiap orang pasti pernah merasa tertekan dengan pekerjaannya. Dan ya, itulah yang baru saja saya alami. Merasa tertekan. Bukan, sama sekali bukan dengan atasan, atau teman-teman, tapi lebih ke pekerjaan itu sendiri.

Jadi, tadi sore, saya sedang merasa lelah dan jenuh. Dan sepertinya sudah tak tertahankan, jadi saya mengungsikan diri ke toilet daripada meneteskan air mata di ruangan dan jadi perhatian semua orang.  Toilet sedang kosong. Dan saya sedang berusaha untuk menenangkan diri dengan mondar-madir, dan curhat ke suami via BBM. Tapi, belum apa-apa, mata sudah mulai berkaca-kaca. Dalam pikiran saya, gawat  kalau sampai ada orang masuk. Dan benarlah, ada seseoarang masuk. Saya langsung memosisikan diri menghadap ke arah jendela yang berpemandangan luar gedung, membelakangi pintu masuk. Tapi...

"Andiah! Eh, bla bla bla... "

Ups! Ternyata yang baru masuk adalah mbak-mbak satu ruangan. Dan dia bertanya tentang ini dan itu. Mau tidak mau, saya harus menghadapinya juga dong. Dan akhirnya sambil malu-malu saya berbalik.

"Bentar, bentar mbak, lagi nangis.. heheheh," kata saya sambil buru-buru menyusut air mata.

"Oh, oh, maap.. Nggak papa. Ya udah ntar aja," katanya sambil masuk ke dalam toilet (yang ada klosetnya maksudnya)

Setelah mbak itu pergi, akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke salah satu toilet yang mati lampu (biar nggak kepergok orang lagi). Jarang sekali orang mau pake toilet itu karena gelap. Saya duduk di kloset, dan melanjutkan sesi curhat ke suami. Dan yah, wanita, semakin curhat, semakin deras air mata yang mengucur (lebaaaayyy :p). Jadi, saya diam-diaman di dalam toilet, sambil dinasehatin suami lewat hp.

Tak lama kemudiaan, seseorang masuk. Sebut saja mbak A. Dia langsung masuk ke toilet satunya (ada 2 toilet di sini, satunya ya yang mati lampu). Saya diam. Tak lama, dia keluar. Masih cuci tangan dan mematut diri di cermin depan wastafel sepertinya. Lalu masuklah mbak kedua, mbak B.

Mbak A: "Haaii.."

Mbak B: "Eeh, mbak A"

Mbak A: "Eh, kata Andiah, bajuku ini sama kayak bajumu yaa.."

Mbak B: "Eh iya. Waktu itu kan belinya bareng sama Andiah, bla bla bla..."

Hihihi. Geli juga menguping pembicaraan yang menyebutkan naman kita di dalamnya

Mbak A: "Eeh, aku duluan yaa.."

Mbak B: "Iya mbak"

Dan masuklah mbak B ke dalam toilet.

Sebenernya pengen keluar, tapi pasti nanti mbak B kaget. Jadi ya sudahlah, di dalam dulu.

Ada orang baru masuk. Mbak C

Mbak C: "Andiaaaahhh!!" (ternyata, mbak C itu mbak pertama yang memergokiku di awal tadi)

Mbak B: "Andiah nggak adaaa"

Mbak C: "Ini siapaa?"

Mbak B: "Beeee..!"

Mbak C: "Liat Andiah nggaak?"

Mbak B: "Enggaak.."

Mbak C: "Ooh, ya udah deh.."

dan mbak C pun keluar.

Masih menunggu dengan berdebar di dalam toilet, Sudah tidak menangis. Hanya geli. Tapi mata pasti masih merah. Jadi belum berani keluar.

Dan akhirnya, mbak B keluar juga. Dia cuci tangan sebentar, lalu segera keluar.

Amaaaaannn...

Dan saya pun pelan-pelan keluar dari tempat persembunyian

Nggak lagi-lagi deeh. Hehehee....


*picture taken from here

Rabu, 19 Januari 2011

Seharusnya.... (full curhat, full keluhan, yang ga pengen liat orang ngeluh, minggir! :p)



Seharusnya,, kalau jam pulang kantornya jam 5 sore itu, lewat dari jam 5 kantor udah sepi. Seharusnya orang-orang sudah pada pulang, tak terkecuali para sekretaris.

Seharusnya, kalau ada orang yang belum menyelesaikan pekerjaannya, kerjakan dulu sendiri sampai selesai. Lalu, kalau ada sesuatu yang perlu disampaikan kepada pimpinan, sampaikanlah sendiri, karena itu tanggung jawabnya. Sampaikanlah sendiri, karena yang lain  termasuk sekretaris seharusnya sudah pulang, karena memang sudah waktunya pulang.

Tapi, yang namanya sekretaris kadang ga bisa pulang on time. Karena terkadang ada hal-hal penting yang harus disampaikan-dan kadang bersifat sangat segera-kepada pimpinan. Kadang tidak bisa pulang on time, untuk memastikan bahwa semua sudah beres, dan tidak ada yang bersisa.

Yah, setiap pekerjaan ada konsekuensinya. Dan yakin, bahwa pekerjaan sekecil apapun, pasti bermakna-hanya kadang tidak kita sadari-PASTI



*kedinginan di kantor. brrrr!!!

NB:
untung kontrakannya masih deket
untung belum punya baby, nanti kalo sudah ada dedek, nggak bakal pulang lepas maghrib, kecuali untuk hal-hal yang benar-benar urgent

Rabu, 15 Desember 2010

Pasukan Berkuda



Setiap kali melintasi jalanan Jakarta, saya selalu beranggapan, betapa hebatnya (beraninya.red) para biker. Menyelip-nyelip di antara kendaraan, di tengah kemacetan, naik-naik ke trotoar, melintasi pembatas jalur busway, dll. Waah, pokoknya keren deh! Suami saya sendiri juga seorang biker, kemana-mana naik sepeda motor, kecuali kalo lagi minjem mobil kakaknya selama berhari-hari, qeqeqe (bermimpi suatu saat punya mobil sendiri)


Saya pernah ikut diajak naik-turun trotoar, kebut-kebutan, atau selip-selipan oleh dia, keren!! (aslinya sih megap-megap, sambil urut dada). Salah seorang temannya bahkan bersaksi kalau kepalanya pernah kepentok spion truk saat mbonceng si mas. Duuuhh.. Tapi saya yakin, dan selalu mengingatkan mas agar senantiasa berhati-hati saat berkendara.


Entah pada dasarnya memang taat aturan, atau hanya terlalu takut pada kejamnya jalanan, saya selalu cerewet tiap kali membonceng. Apalagi kalau sudah sampai di perempatan lampu merah. Motor-motor merangsek maju ke garis depan. Tidak jarang juga ada yang menerobos maju sebelum lampu merah berganti hijau. Apalagi kalau ada timer. Sekian detik sebelum lampu berganti warna, mereka sudah menggerung-gerungkan motor, layaknya peserta lomba lari yang diberi aba-aba “siaappp”. Dan begitu lampu berubah hijau, semua berhamburan maju.


Saya selalu mewanti-wanti mas bila di lampu merah “Tunggu dulu, sabar. Lampunya masih merah!” saking stressnya melihat banyak motor yang menerobos sepersekian detik sebelum lampu berubah hijau. Sementara di sisi lain jalan, banyak juga yang tidak mau kehilangan kesempatan menyeberang, padahal lampu sudah berwarna kuning, hendak merah. Detik-detik yang menegangkan (lebaaayyy, haha!)



Hal lain yang saya tekankan kepada mas adalah, “Hormati pejalan kaki”. Saya sering bilang, kalau ada orang menyeberang, mengalahlah dahulu, jangan memotong jalur jalannya. Bukan apa-apa, saya hanya membayangkan kalau mereka itu adalah saya. Bagaimanapun, saya juga pejalan kaki yang sering kesulitan bila dihadapkan pada urusan menyeberang jalan. saya pikir, kalau para pengendara bisa sedikit bertoleransi, itu akan memudahkan para pedestrian.


Satu hal lagi mengenai para biker. Saya suka menyebut mereka dengan “pasukan berkuda”, yang berada pada garis terdepan medan pertempuran. Bayangkan, dengan jumlah yang banyaaak (apalagi di perempatan lampu merah yang besar, mungkin jumlah mereka sekitar tiga puluh-lima puluhan) mereka mendesak maju, zig-zag di antara kendaraan-kendaraan lain untuk mendapatkan tempat terdepan. Lalu begitu lampu hijau menyala, brum-bruuummm-brruuuummmmm!!! SERAAAANNGG!!!






*gambar dari sini


Senin, 26 Juli 2010

Karena perasaan wanita itu sangat sensitif....

Temanku mengetuk pintu itu dengan hati-hati, liriiihh. Hening. Tidak ada jawaban.

“Coba buka pintunya lagi, siapa tau nggak dikunci,” kataku

Dia mendorong pintu kaca itu, lalu menggeleng-geleng. Tetap tidak bergeming. Ruangan di dalamnya pun terdengar senyap.

“ Kita coba pencet bel lagi deh,”

Aku sudah jenuh menunggu di ruangan luas, sepi, dan beraura seperti rumah sakit ini. hanya untuk meminta surat keterangan dokter. Kami akhirnya memencet bel yang digantung di depan kaca berlubang bertuliskan: LOKET untuk kedua kalinya. Beberapa saat kemudian, muncul petugas berseragam putih.

“ Maaf Bu, kami mau minta surat keterangan dokter,”

“Itu ketok-ketok aja pintu dokter ini,” kata petugas itu. Lalu tanpa memberikan keterangan lebih lanjut dia langsung masuk ke dalam ruangan lagi. Kami hanya berpandang-pandangan. Memang mungkin harus lebih keras lagi usahanya.

Temanku mengetuk pintu itu sekali lagi. Lebih keras. Lagi dan lagi. Aku hanya memperhatikan sambil beradu pandang dengannya. Lama kemudian, muncul seorang ibu bermukena di depan pintu. Dan belum sempat kami bernapas lega.

“ Ada apa ketok-ketok?”

“ Kami mau minta surat keterangan sehat Bu,” jawabku dan temanku

“ Kalian itu ganggu orang lagi sholat. Dari tadi ketok-ketok, berulang-kali, saya ini lagi sholat.”
Aku dan temanku hanya tertegun.

“ Lain kali, kalau mau ketemu, minta tolong petugasnya. Kan ada tuh petugas. Minta diliat dulu, dokternya lagi apa? Jangan kayak gini, ketok-ketok pintu dari tadi. Saya yang lagi sholat jadi terganggu.”

Aku dan temanku terlalu shock. Kami hanya mampu berucap, “maaf” dan “iya, Bu” berkali-kali.

“ Lagian di sini kan ada dokter lain. Itu, di sebelah ada dokter. Di sebelahnya lagi ada. Nggak harus ke saya. Sholat saya jadi keganggu dari tadi,”

Aku dan temanku masih meminta maaf. Setelah “menasehati” kami, dokter itu menutup pintu dan meninggalkan kami termangu di sana. Kami kesal? Iya. Sakit hati? Mungkin. Entahlah. Mungkin kami memang salah karena telah mengganggu dokter itu, tapi mana kami tau?? Kami hanya disuruh untuk ‘mengetuk pintu’.

Aku dan temanku lantas beranjak dari depan pintu kaca itu. Ingin menangis rasanya. Dimarahi orang tidak dikenal di saat tidak siap dan karena alasan yang sepertinya tidak tepat. Tidak terima.


***


Tetapi setelah beberapa hari kemudian, saya coba untuk berpositif thinking atas apa yang telah berlalu. Mungkin saja ibu itu sedang banyak pikrian. Mungkin beliau sedang kelelahan sehingga tanpa sadar melakukan tindakan kurang menyenangkan. Atau mungkin, beliau sedang badmood.

Saya ingin berbicara mengenai etika kerja, tapi saya sendiri tidak punya ilmu tentang itu. Saya pikir, kita harus bertindak professional dalam melakukan pekerjaan apapun itu. Bekerja dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab, tidak mementingkan kepentingan sendiri, tidak terbawa perasaan dan tetap berusaha dengan sebaik mungkin bagaimanapun buruknya kondisi hati dan pikiran kita kala itu.

Saya tau, saya sendiri pun masih terus belajar untuk hal ini. Amat sulit memang menjadi seseorang yang tangguh, yang dapat membagi mana urusan pribadi dan mana urusan kantor.

Suasana hati jujur sangat mempengaruhi aktivitas saya. Suasana hati yang buruk membuat saya malas dan enggan bekerja. Dan parahnya lagi, saya  kehilangan konsentrasi, sehingga cukup sering saya ditegur hanya karena hal-hal sepele yang luput dari perhatian.

Mungkin tidak begitu terasa dampaknya kalau hanya saya yang sedang badmood. Tapi, bisa jadi lebih besar lagi efeknya kalau yang badmood adalah atasan di kantor-beliau  yang mempunyai anak buah. Saya telah melihatnya. Bagaimana ketika seorang atasan sedang dalam kondisi yang tidak bagus, lantas berpengaruh pada perlakuannya terhadap anak buah. Sensitive sekali. dan itu menurun ke level-level di bawahnya. Seperti pyramid effect. Dan hasil akhirnya, kualitas kerja para pegawai pun menurun.

Back to the topic *topicnya ini sebenarnya tentang kejadian saya dimarahmarahi itu, hehehehe…

Akhirnya, dengan ikhlas saya katakan sekarang kalau saya sudah tidak sakit hati lagi. Sudah ikhlas dan memaafkan hal yang mungkin tidak sengaja dokter itu lakukan pada kami.. Ini juga jadi pelajaran berharga bagi saya. Agar saya harus senantiasa menjaga tingkah laku saya, dimana pun saya berada. Karena ternyata diperlakukan tidak baik itu sungguh tidak enak rasanya. Saya tidak ingin orang lain tersakiti hatinya karena apa yang saya lakukan.




Senin, 24 Mei 2010

Loosing you...



Saya begitu shock, saat kemarin dengan tidak sengaja menemukan kenyataan bahwa salah satu sahabat dekat saya, sebut saja namanya X, menikah. Awalnya, saya cuma iseng baca-baca status facebook salah seorang teman semasa sma. Dan sahabat saya, si X itu disebut-sebut namanya dalam percakapan.

Seketika saya menelpon sahabat saya yang dulu-bisa dibilang-se-geng dengan saya dan X saat SMA. Heboh saya bertanya ini itu tentang kabar pernikahan X. dan ternyata dia juga tidak tahu-menahu. Memang, sudah agak lama pula si X ini hilang kabar, nomer-nomer telepon dia yang saya punya tak ada satupun yang aktif. Hanya dari Fb kami mendengar keberadaannya.

Setelah heboh-hebohan, saya telepon sahabat saya yang lain lagi. Dan dia pun shock mendengar kabar dari saya. Terutama yang membuat kami sangat terkejut adalah bahwa X  tidak menikah dengan orang yang kami pikir akan menjadi suaminya nanti: kakak kelas yang sudah 4 tahun menjalin hubungan dengan X. Padahal, selama ini sudah nyata sekali semua orang tahu bahwa X serius menjalin hubungan dengan kakak kelas itu. Dan dia pun sudah sangat dekat dengan keluarga sang pacar. Tapi nyatanya, dia akhirnya menikah dengan orang yang bahkan di antara kami, para sahabatnya, tidak pernah dengar namanya. Tanpa ada angin tanpa ada hujan. Seandainya saya tidak kurang kerjaan membaca komen-komen di status teman sma itu, mungkin kami tidak akan pernah tahu.

Tiba-tiba saja saya merasa betapa saya bukan seorang sahabat yang baik. Sibuk dengan urusan sendiri, tidak perhatian, lupa menyapa sahabat jauh, hingga akhirnya tertinggal berita sepenting itu. Meskipun teman-teman yang lain juga tidak ada satu pun yang diberitahu mengenai kabar tersbut.

Sahabat saya yang satu ini memang punya cerita yang sedikit berbeda dengan sahabat saya yang lain. Saya pertama kali bertemu dengannya saat masuk SMA. Kami satu kelas kala itu. Di antara teman-teman baru, dia terlihat menonjol. Seorang gadis manis, berambut panjang lebat sepunggung, dan aktif. X terlihat berbeda terutama karena dia pindahan dari daerah lain yang bahasanya sedikit berbeda dengan kami.

Pada saat kelas 1 SMA itu, sahabat saya yang cantik dan berbakat ini kehilangan ibunya yang memang sudah sakit-sakitan. Sang ibu tinggal di kampung halamannya di kota asal, sementara sahabat saya tinggal di Purbalingga bersama ayah dan mama tirinya (ayah X ini punya 2 isteri). Semenjak saat itulah, dia menjadi seorang piatu. Meskipun demikian, dia masih punya ayah, mama (yang keduanya sudah beranjak sepuh), dan banyak saudara, baik kandung maupun tiri.

Ketika kami kelas 3 SMA, sahabat saya kembali kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Ayahnya meninggal dunia, membuatnya menjadi anak yatim-piatu. Semenjak saat itu, dia tinggal dengan mama tirinya, sementara kakak-kakaknya yang lain sudah berkeluarga dan ada pula yang kuliah di luar kota.

Kami dekat. Dia sering datang ke rumah saya. “ Bapak dan ibunya Andiah udah aku anggap kayak bapak dan ibuku sendiri…” katanya suatu saat. Tapi, karena saya harus kuliah di luar kota, kamipun menjadi jarang bertemu. Paling sesekali waktu saat saya pulang kampung dan kebetulan ada kesempatan untuk berkumpul dengan teman-teman. Dan itu adalah hal yang sulit direncanakan, karena saat itu kami sudah punya aktivitas dan jadwal masing-masing.

Sekarang saya kehilangan kontak dengan X.
“ Dulu, pas aku pulang dari Semarang, aku liat di depan rumahnya dipasang tulisan DIJUAL,” kata sahabat saya kemarin saat kami bertelepon ria. Saya juga ingat, lamaaa sebelumnya X pernah bercerita kalau mama tirinya sudah tidak tinggal di Purbalingga lagi. Beliau ikut salah satu anaknya di Bandung.

Jadi, dimana X sekarang? Dari Fb, kami tahu kalau X ingin segera menyusul suaminya-yang kami tidak tahu siapa itu- ke Padang dalam waktu dekat ini.

Sediihhh sekali kalau ingat tidak ada satu pun di antara kami yang tahu keberadaan dan kabar X sekarang. Besok weekend saya berencana akan pulang. Dan saya ingin sekali bisa menemukan X dengan bersama dengan sahabat yang lain. Alamat bakal seperti Termehek-mehek petualangan kami nanti. Semoga dalam waktu yang singkat itu, saya bisa bertemu dengan dia….


Rabu, 10 Februari 2010

Miss Grumble :(


''Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah''
(QS Al-Ma'arij [70]: 19)


Siapa si orang di dunia ini yang bisa lepas dari berkeluh kesah? Tidak ada sepertinya. Semua orang butuh pelampiasan, sekedar melepaskan unek-unek dan melegakan perasaan memang perlu, tetapi sebaiknya tidak berlebihan.

Itulah yang dari dulu sering saya rasakan. Jujur saja, saya bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaan kekurangnyamanan dalam hati. Saya suka mengeluh, dan saya sadar itu. Ingin menghilangkan kebiasaan buruk ini, tapi apa daya, saya hanyalah seorang gadis biasa *apa hubungannya???

Saya mungkin tidak menunjukkannya melalui gestur, atau raut wajah, atau apapun itu secara langsung. Saya cukup pandai menyembunyikannya. Akan tetapi, saya paling tidak bisa untuk tidak becerita. Entah itu di sms, di postingan, atau di status fb. Nggak enaaak  rasanya kalo nggak curhat...

Akibatnya, hampir setiap apa yang saya alami, biasanya orang-orang pada tau *PeDe berlebihan Contohnya kemarin ini, saat saya sedang sakit gigi.
Rasa-rasanya semua orang di sekeliling saya tahu. Soalnya saya pasang status di chat tentang sakit gigi, nulis di MP tentang sakit gigi, pasang status di Fb tentang sakit gigi. Akibatnya, sms-sms yang berdatangan pun biasanya diawali dengan:
“ Gimana sakit giginya??”
“ Masih sakit gigi Say?”
“ Andiah udah ke dokter gigi?”
“ Giginya udah sembuh?”

Heheheh… saking hebohnya menyebarkan berita sakit gigi, semua orang jadi tau deh. Tapi terima kasih juga buat mereka yang sudah mengingatkan saya ke dokter gigi kemarin. Ada beberapa orang yang sms buat ke dokter gigi.. Arigatouuuu ^^

Saya ingin menghilangkan kebiasaan berkeluh kesah yang tidak penting. Ingin jadi orang yang senantiasa optimis dan bersemanget menatap masa depan!!! *halah halah…

So, how??

Selasa, 22 Desember 2009

Kau tahu?

Kau tidak tahu..
seberapa keras aku bertahan
Kau tidak tahu..
seberapa keras aku mencoba untuk tetap di permukaan
Kau tidak tahu..
bagaimana usahaku agar aku tak tenggelam..
Tapi aku kehilangan pegangan..sendirian..
Aku tak butuh kau mengerti..
Aku hanya ingin kau tahu..
Itu saja..

Sabtu, 19 Desember 2009

Dewasa mode ON -> cerita nggak penting

Ini cerita tentang Ibu yang menceritakan tentang percakapan beliau dengan salah seorang temannya.. (hallah!!)

Biasalah, obrolan Ibu2.. Tau dah lagi ngobrol apaan..(pura2 nggak tau)


Dari obrolan itu, Ibu sayah menasehati saya secara tidak langsung, yang intinya seperti ini: ''nanti kalau punya mertua, yang baik ya sama mertuamu.."


Halah.. Ternyata, si Ibu teman Ibu saya itu bercerita, beliau bingung dengan para anak lelakinya.. Bingung kalau-kalau suatu saat anak-anaknya (yang semuanya lakilaki) mencari pendamping. Sang Ibu khawatir kalau menantunya kelak tidak peduli, nggak 'eman' sama mertua (ya si Ibu ini maksudnya)


Hmm.. Baru sadar sesadar-sadarnya.. Ternyata, para (calon) Ibu mertuapun mengalami kekhawatiran akan mendapatkan menantu perempuan yang tidak peduli terhadap mereka. Selama ini, hanya mendapatkan cerita tentang calon mempelai perempuan yang khawatir menghadapi calon ibu mertuanya.. Ternyata berlaku sebaliknya juga toh :D


huehehehe...
Pembicaraan saya dewasa sekali.. Jadi malu *blushing


Udah ah..mau ngabur dulu =p

Minggu, 15 November 2009

Uneg-uneg nggak penting :p

Niat suci saya pagi ini untuk mengurus pemberkasan penempatan berakhir dengan hilangnya mood saya.

Jadi, saya berencana untuk membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) hari ini.
Semalam bapak sudah meminta surat keterangan dr RT/RW, jadi tadi saya tinggal ke kelurahan saja.

Di kelurahan, saya cuma mesam-mesem, sementara para pegawainya bercanda satu sama lain. Ah, dikacangin.. Hanya ketika surat pengantar saya dibuat, mereka mulai bertanya2. Untuk apa? Ada keperluan apa?

Selesai urusan di kelurahan, giliran saya menyambangi kantor kecamatan. Tidak lama. Hanya sekitar 5menit.

Setelah itu saya ke Polsek.
Kembali, pertanyaan yang sama.
Untuk apa?
Saya jawab, untuk pemberkasan CPNS.
Dan kembali respon yang sama. Menanyakan kenapa saya sudah mulai pemberkasan. Padahal, ujian saja belum? :D
Jadi saya jawab saja kalau ini untuk pemberkasan penempatan STAN. Barulah mereka paham.
Tapi, hiks!
Surat pengantar untuk ke Polres tidak dapat diproses. Mati lampu.
"Besok aja kesini lagi Mbak.. Polresnya juga mati lampu, jadi sama aja.."
Saya hanya manggut2 sambil tersenyum. Kecewa... :(
"Persyaratannya sudah lengkap?"
Lalu disebutlah oleh mereka apa yang harus disiapkan.
Ternyata, fotonya masih kurang. Jadi, keluar dari Polsek saya segera menuju tempat cuci cetak foto.. (eh, kalo sekarang rata2 udah nggak dicuci lagi ya?)

Saya: "Mbak, mau cetak foto.."
Mbak penjaga: "Dari film atau disc?"
Saya: "Disc mbak." *senyum manis :)
Mbak penjaga: "Di sini ada berapa foto?"
Saya: "Dua. Yang dicetak yang nggak pake jas ya mbak?"
Mbak penjaga: "Yang nggak pake jas ya?"
Saya: *mengangguk*
Mbak penjaga ke temannya: *sambil berbisik, tapi masih terdengar oleh saya* "Nggak pake jas.."
Temannya: *mencibir*

Aargh!
Saat itu juga mood saya hancur berantakan.
Mbak, maksudnya itu, nggak pake jas almamater!
Biarpun mangkel dalam hati, saya tetap tersenyum. Sabar...
Pfiuuh...



Dan sekarang, saya sedang duduk manis di rumah.. Menghadapi sekotak donat.
Ada yang mau???! ^^


***

Lega sudah cerita..
Maaf ya teman2, saya cuma ingin meluapkan uneg2 :D

Minggu, 18 Oktober 2009

Hari yang penuh berkah.. Alhamdulillah...

Berawal dari pagi tadi..Temu kangen dg 2 orang mbak dan seorang mas kakak kelas yang sekarang sudah bekerja dan punya banyak uang..saya dan beberapa orang teman ditraktir. Diawali dg makan es campur di daerah kampus, dilanjutkan dg makan steak di Obonk.. hehe.. lumayan..sekali2 makan enak. Pulang dari makan2 langsung menuju kos teman. ada yang mau menunaikan nadzar dan membayar hutang katanya. Jadilah saya kenyang disuguhi berbagai macam brownies :D. Pulang tadi menjelang isya..sempet mampir beli bakso. Di kos..Ketika mulai makan.. Tiba2 pintu diketuk. Tetangga sebelah mengantarkan makan malam..nasi plus lauk pauk..ditambah sepoci teh anget. nganterinnya smpe 2 kloter pula. waah..beginilah rasanya hidup bertetangga :D ALHAMDULILLAH..Hari ini penuh berkah.. :D

Sabtu, 10 Oktober 2009

Kembali menjadi manusia lemah

Kalau begini, saya rasanya ingin pulang kampung.
Di rumah saja.
Homesick.


Ah ya, terimakasih setulus-tulusnya kepada semua yang sudah sangat berbaik hati sejak kemarin.
Teman satu rumah yang menawari ini-itu, menawarkan bantuan, menghibur dan menguatkan.
Orang-orang yang saya mintai izin..yang menyuruh saya untuk istirahat saja..padahal ada 2 agenda penting hari ini.. :((

Semoga besok sudah bisa beraktivitas seperti biasa.
Cukup.
Istirahat 1 hari cukup!
Bismillah..

Senin, 10 Agustus 2009

Ternyata aku masih cinta....

Ya, masih cinta.....
dan selalu terbayang-bayang....
Selalu khawatir kalau-kalau ada yang menghubunginya, dan aku tidak tahu????
Ah, rasa penasaran ini menyiksa..
Tapi kau kini sudah tidak di sisiku lagi...Huks!

Padahal aku masih cinta...
benar-benar cinta dengan nomer SIMPATIku..
Nomer yang sejak SMA setia menemaniku...

081 3xx 45 45 46

Cantik bukan?
Padahal itu nomer yang teman-teman lamaku tahu,,tapi 1,5 bulan lalu ia hilang bersamaan dengan hilangnya HPku.
Belum sempet diurus lagi, karena katanya kalau mau ngurus nomer daerah musti ke Gatot Subroto,,
jadi kupikir, lebih baik mengurusnya nanti saat pulang kampung, di rumah..
Khawatir, kalau2 selama ini ada yang nyoba ngubungin ke nomer itu...

Ada yang tahu nggak, nomer2 yang hilang batas expirednya kapan?
Sampai kapan kita masih bisa ngurus tu nomer?
Huhu....nggak rela kalo sampe kehilangan...

Kamis, 06 Agustus 2009

"Membaca" Tulisan

Kalau ada yang bilang, mata adalah jendela hati, maka di sini saya ingin bilang, tulisan adalah jendela hati. Mungkin tidak tepat untuk semua orang, tapi lumayan kena juga untuk saya pribadi.

Berawal dari sapaan kakak kelas, yang juga MP'ers, di YM kemarin. Dia bertanya, ada apa dengan saya? Kok sepertinya terlihat kacau? Saya jadi ingin menilik kembali tulisan-tulisan saya selama ini. Apakah sebegitu berantakannya saya 'terbaca'?



Sebenarnya, tidak usah ditilik tulisannya saya sudah tahu.
Kadang, di suatu waktu, postingan-postingan saya bernada ceria, smiley dimana-mana, senyum lebar, canda tawa, serta aura keceriaan terpancar hingga menyinari kesuraman yang ada .. (mulai deh, lebay!!).
Di lain waktu, saya mellow, postingan isinya sedih-sedih melulu, tiba-tiba serasa jadi orang paling malang di dunia.
Di lain lagi kesempatan, saya merasa putus asa, tidak bersemangat, lemah, lesu, lunglai, kurang makan.... (loh!), sehingga yang dipost adalah keluhan-keluhan tidak jelas (maaf sudah merepotkan kalian semua).

Saya akui, terkadang tulisan itu memang sesuai dengan nuansa hati saya saat menulis. Apa yang ada dalam pikiran saya tuangkan langsung di MP...fresh from the frying pan.. :p
Tapi, terkadang, tukisan itu bukan juga cerminan perasaan. Mungkin saja cuma iseng belaka, kadang inspirasi yang datang tak terduga. Atau mungkin juga postingan simpanan saya buat jauh hari sebelumnya, lalu dipublish, jadi sudah tidak relevan dengan kondisi sekarang.

Entahlah, masing-masing orang punya cara tersendiri dalam menulis. Kalau saya sendiri adalah tipe penulis diary, dari SMP kelas 1 saya sudah akrab dengan buku harian. Jadi maaf kalau postingan saya isinya curhat melulu.

Tapi, di sisi lain, saya juga tipe orang yang bisa tersenyum di tengah duka, dan menyimpan duka di balik senyuman...

Roller coaster, ya roller coaster. Perasaan itu seperti roller coaster. Naik turun, cepat tak terduga, mengejutkan.
Lalu ketika perasaan2 itu terbawa ke tulisan? Yah, pintar2 sajalah kita memenejnya..

*ngomong apa si ni anak?? nggak jelas gini??!! ah, biarin...yang penting saya sudah menuangkan apa yang ada dalam pikiran..


*gambar dari sini

Minggu, 28 Juni 2009

Edit............

Baiklah..... mungkin aku lebay....
Menulisnya dengan kata-kata yang berlebihan..
jadi sebaiknya aku edit..

Jadi, sekarang ini sedang berpikiran (kembali) untuk mendelete MP
seperti yang pernah aku sebutkan sebelumnya di sini, kalau sesekali ada keinginan untuk pergi dari MP..
yah, hanya keinginan sesaat biasanya

Butuh istirahat sementara waktu ^_^

Sabtu, 20 Juni 2009

Berhenti bicara "aku"!

aku memarahi diri sendiri..

lihatlah dirimu, sudah berapa lama kau membicarakan diri sendiri?
Sejak dulu, kemarin, sampai hari ini..
Masih saja kau membicarakannya
Aku sedih…
Aku kecewa…
Aku marah…
Aku..
Aku..
Aku..
Dan aku lagi..


Berhenti bicara aku!
buka matamu..
Sekarang lihatlah di luar sana..
Kau tidak sendiri
Ada dia dan mereka..
ada orang-orang selain “aku”
Tidakkah engkau tahu itu?

Ah, aku tertunduk malu..













                                                                                              *tentang diri sendiri

Rabu, 04 Maret 2009

Sok Princess.. >.<!-- < -->

Gara-gara pake sepatu model gini,kemarin dibilang,
"Sok princess"
Huwaa..
Coba ketsku ga kotor (maklum,blm sempet nyuci..Hehe!),aku ga bakal pake sepatu ini deh,huhu...
Mana ga cocok sama ranselku pula.
Chaiyo Andiah! Ayo semangat!! ^^

Sabtu, 07 Februari 2009

Disini Ku Sendiri

Panas dan dingin
dua sisi mata uang yg berlawanan
Bagaimana jika disatukan dlm satu tubuh?
Nggak enak!
-_-


Ingin melakukan sesuatu yg bermanfaat,ingin pergi dr pembaringan yg melemahkan ini,
ingin menghabiskan waktu seefektif mungkin.
Ingin ini..Ingin itu..
Ingin menonton dunia hari ini..


*judulnya g nyambung amat ya?Maaf..

Rabu, 04 Februari 2009

Yang Kubutuhkan Sekarang

"Kata-kata"



Entah kenapa malam ini rasanya susaah sekali merangkai kata2..
Pikiran buntu
Mandeg
Padahal aku butuh kata2
Untuk menyelesaikan tugasku..
-_-

Kesalahan besar

Sepertinya aku telah melakukan kesalahan besaar sekali
"Andiah kok gini?"
"Andiah kok gitu?"
"Andiah ga kayak gini deh?"

Jadi ingin menangis..
T_T..

(badmood.com)

Jumat, 12 Desember 2008

800 perak

Maksudnya adalah..





kalau pulsaku ini tinggal 800 skian rupiah..
Huhu..
Ga jelas bgt..!